Wednesday, September 28, 2022

Kembali sorgum

Rekomendasi

Presiden Joko Widodo mengingatkan hilangnya tahu dan tempe pada Januari kemarin perlu mendapat perhatian serius. Pada rapat kerja pertanian 11 Januari, presiden meminta agar desain baru pemenuhan bahan pokok harus menjadi fokus. “Penduduk Indonesia sudah 270 juta jiwa lebih, pengelolaan pangan harus betul-betul kita seriusi,” katanya. Kedelai sebagai salah satu komoditas yang masih impor harus menjadi fokus perhatian dalam membangun pertanian.

Pandemi korona memang mengacaukan distribusi pangan dunia. Namun, isu lebih penting terletak pada ketersediaan bahan pangan itu. “Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menegaskan kesiapan untuk meningkatkan produksi pangan nasional,” tulis Kompas, 12 Januari 2021. Pengerjaan food-estate di Sumatera Utara dan Kalimantan Tengah ditargetkan selesai pada 2021.

Lahan marginal

Eka Budianta

Di kalangan masyarakat, kegemaran bahan makanan lokal kembali semarak. Menyambut Februari ini istri saya lebih rajin menanak sorgum. Ketika mulai tinggal di real-estate ini, kami melihat banyak sorgum tumbuh liar di sepanjang kali. Sekarang sudah bersih, rapi dibeton kanan-kiri. Kami jadi banyak berkomunikasi dengan teman-teman di daerah untuk memperluas pandangan.

Dari Pulau Lembata saya menerima pesan WA (WhatsApp) “Sorgum yang belum disosoh menjadi beras harganya Rp10.000 per kg. Kalau sudah jadi beras sorgum Rp35.000 per kg di Pasar Lewoleba.” Pengirimnya Erlin Bernadette Wutun, yang dikenal rajin mengolah hasil panen sorgum di kebunnya seluas 25 m x 25 m. Dari panen tahun kemarin Erlin berhasil mengumpulkan 150 kg tepung sorgum. Bersyukur dia suka memasak kue dan melayani pesanan untuk hajatan dan hari raya.

Sebagai contoh hasil olahannya dia mengirimkan tiga jenis kue buatannya untuk saya di Jakarta. “Sekali bikin kue bisa sampai 5 kg. Kalau pesanan banyak 10 kg,” ceritanya. Kuenya dikemas dalam stoples kecil, dibanderol @ Rp30.000. Ada juga rasa cokelat. Meskipun tidak sering, dulu di Jawa Timur ibu saya juga pernah masak sorgum yang kami sebut “jagung ontel” atau cantel.

Menurut Rm. Firminus Dai Koban, Pr. di Lembata dalam bahasa Lamaholot sorgum disebut “solot.” Saya mengenalnya dari Gerakan Pemuda/i Bertani jaringan pegiat pertanian yang didukung ratusan orang. “Saya membongkar bekas jalan aspal sepanjang 7 m x 50 m untuk ditanami sorghum,” katanya pada suatu hari. Dari pegiat di Larantuka itulah saya mengenal Erlin Wutun dan masakan kuenya.

“Sekarang banyak orang beralih makan solot karena bagus untuk mencegah diabetes,” kata Rm. Firminus yang lebih akrab dipanggil “Romo Tinus”. Cita-citanya ingin memiliki mesin kecil untuk mengolah tepung susu sorgum. Ternyata sorghum banyak manfaatnya. Batangnya bisa diperas seperti tebu menjadi gula. Daunnya untuk makanan ternak. Dan bijinya, “Kita harus berebut dengan ratusan burung kecil yang berdatangan menjelang panen,” kata Romo Tinus.

Maklum tanaman anggota keluarga Poaceae itu memang amat disukai burung. Padahal, sebagai beras sorgum dalam bungkusan @ 100 gram dibanderol Rp 10.000 kalau dipesan secara daring. Mengapa warga Nusa Tenggara Timur getol menanam sorgum? Karena sorgum bisa tumbuh subur di lahan kering. Termasuk di lahan bekas jalanan aspal yang berbatu-batu di Larantuka itu.

“Ketika jagung dan padi tidak mampu menghadapi kemarau panjang, sorgum tetap bertahan, bahkan panen bagus,” tutur Maria Loretha yang dikenal sebagai “Mama Sorgum”. Sejak 2015 ia berusaha mengembalikan kejayaan sorgum di Nusa Tenggara Timur. Adapun di Lombok, Nusa Tenggara Barat, ada Muhammad Bayu Hermawan. Menurut laporan Trubus News Id, awal 2019 finalis duta petani muda itu berhasil mengangkat Sorghum bicolor menjadi makanan berkelas.

Olahan sorgum

Sekarang resep mengolah sorgum sudah menyebar luas. Bukan hanya untuk campuran nasi dan bubur, tapi untuk berbagai macam kue dan minuman. Pada 2020 Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, meluncurkan program bantuan benih alternatif dan mengalokasikan ribuan hektare untuk ditanami sorgum. Di Lamongan, Jawa Timur sejak 2016 berdiri Rumah Sorgum Indonesia dengan aktivisnya bernama Esti Faizah.

Produk yang diperkenalkan termasuk kerupuk kemplang, sirop sorgum, madumongso, mi sorgum, dan sebagainya. Esti yang meraih juara ke-1 inovasi teknologi pangan dari Kabupaten Lamongan, juga mendapat sertifikat halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan dukungan dari Dinas Pertanian, Kementan. Di tingkat dunia, Amerika Serikat, menjadi produsen sorgum terbesar dengan panen sekitar 9 juta ton setahun, disusul Nigeria yang menghasilkan 6 juta ton.

Secara umum industri sorgum disebut milo yang 50% diperuntukkan konsumsi manusia. Selebihnya untuk ternak dan diolah menjadi energi, bioetanol. Kandungan karbohidrat sorgum 73,8% sedangkan beras 76% dan terigu 77%. Protein sorgum 9,8%, beras 8%, dan terigu 12%. Tantangan yang harus dijawab adalah membuat masyarakat kembali menyukai makanan pokok tradisional dan produk lokal.

Artinya, perlu penyuluhan untuk kembali menanam dan menyukai makanan pokok: jagung, ubi, sagu, dan sorgum yang sering dimasak bersama kacang-kacangan. “Kalau Bung Hatta pergi ke satu tempat, ia selalu menikmati makanan lokal. Waktu dibuang ke Papua makanan hariannya papeda dan ikan bakar.” Begitu teman lama saya, Halida, mengingatkan. Betul! Bung Karno pun menyukai lalap daun kosambi yang tumbuh di halaman belakang istana. Saya teringat rumpun jali-jali yang dulu tumbuh di sepanjang Kali Pesanggrahan, dekat rumah kami di Jakarta Selatan. ***

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Permintaan Produk Organik Kian Meningkat

Trubus.id — Permintaan produk organik mengalami peningkatan. Peningkatan permintaan produk organik di Indonesia terjadi karena munculnya kesadaran menjaga kesehatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img