Sunday, August 14, 2022

Kenari Merah Pencetak Rupiah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Wiga M Anugerah meraup omzet minimal Rp50-juta per bulan dari penangkaran kenari merah.

Rumah dua lantai di salah satu kawasan perumahan di Gunungbatu, Kota Bandung, Jawa Barat, itu senyap. Di depan rumah hanya tampak papan bertuliskan Rumah Kenari. Namun, tak terlihat deretan kandang. Kicauan burung kenari juga tak terdengar.

Nyanyian kenari mulai samar terdengar saat Wiga mengajak Trubus menuju lantai kedua. Di sanalah Wiga menyimpan seluruh “mesin pencetak uang” pengisi pundi-pundi. Begitu melewati pintu besi, tampaklah deretan 72 kandang besi terdiri atas 4 tingkat di samping kanan dan kiri area seluas 80 m2.

Mewah

“Apartemen” kenari merah milik Wiga itu begitu mewah. Lantai ruang penyimpanan kandang terbuat dari papan kayu yang divernis sehingga tampak mengilap. Sementara bagian atap ruangan terbuat dari fiber tembus pandang sehingga sinar matahari masih bisa menerobos ke kandang. Di beberapa sudut ruangan, peternak itu memasang kipas angin. “Dengan begitu sirkulasi udara di dalam ruangan lancar, tidak pengap,” ujar Wiga.

Meski 70 pasang kenari merah menghuni ruangan itu, tak sedikit pun tercium bau tak sedap dari kotoran burung. Maklum, setiap pagi peternak sejak 2003 itu rutin menyemprotkan cairan antibakteri alias desinfektan. “Selain menghilangkan bau, kandang pun terhindar dari bakteri dan virus penyebab penyakit,” ujar ibu satu anak itu.

Seluruh kandang terbuat dari kerangkeng besi berukuran 80 cm x 40 cm x 40 cm. Perempuan 33 tahun itu memasang cabang kayu yang melintang di bagian tengah kandang untuk kenari bertengger. Di bagian pojok kandang terdapat kotak berbalut serutan kayu tempat betina bertelur dan mengeram. Setiap kandang dihuni sepasang induk kenari merah berumur 2 – 3 tahun. “Kenari tergolong burung yang setia pada pasangan,” ujarnya.

Dari kandang mewah itulah Wiga menghasilkan kenari merah berkualitas prima. Cirinya antara lain berwarna jingga pekat mendekati merah dan terlihat cerah. Itu karena Wiga menggunakan indukan hasil seleksi dari persilangan antara jantan red siskin dengan betina kenari merah asli. Dari persilangan itu lahirlah anakan black red dan bond merah. Wiga kembali menyilangkan generasi pertama itu dengan kenari merah asli dan lahirlah red intensif dan red factor. Pada generasi kedua dan ketiga itu menghasilkan kenari dengan warna merah yang istimewa: cerah dan mentereng.

Warna merah dari kedua generasi itulah yang kini menjadi standar indukan untuk menghasilkan kenari merah berkualitas. Wiga berani menjamin kualitas warna merah tidak akan menurun seiring pergantian bulu dan bertambahnya umur burung. “Itu karena warna merah berasal dari genetik, bukan karena pengaruh konsumsi suplemen tertentu untuk memerahkan warna bulu yang selama ini banyak beredar di pasaran,” ujar Wiga. Warna merah pada kenari yang diberi suplemen pencerah warna biasanya pudar saat konsumsi berhenti dan usai pergantian bulu.

Pantas meski Wiga membanderol Rp1-juta – Rp6-juta untuk seekor kenari merah berumur 1 tahun, permintaan burung anggota famili Fringillidae itu tetap mengalir deras. “Pembeli harus inden dulu minimal sebulan sebelumnya,” ujarnya. Harap mafhum, setiap bulan sarjana ekonomi itu hanya mampu memproduksi 60 kenari merah. Jumlah itu belum mampu memenuhi permintaan yang mencapai dua kali lipat produksi.

Alami

Jumlah produksi terbatas karena Wiga menangkarkan kenari merah secara alami. Ia tidak menggenjot produksi dengan memisahkan anak yang masih dalam masa loloh agar sang induk bisa kembali kawin dan bertelur. Dua hari menjelang menetas Wiga memisahkan jantan agar tidak memacek betina yang belum siap kawin.  “Jika betina terlalu diforsir untuk bertelur dikhawatirkan kualitas anakan menurun dan daya tahan tubuhnya lemah,” ujarnya. Telur kenari biasanya menetas setelah 14 hari. Wiga baru mengawinkan pasangan bila si betina benar-benar menginginkan kawin. Cirinya si betina mulai gelisah dan terus-menerus bersuara. Betina biasanya siap kawin 40 hari setelah bertelur. Bila sudah begitu, ia memasukkan jantan ke dalam kandang.

Wiga juga tidak menggenjot produksi dengan mengganti induk betina, ketika betina lain tengah mengeram. “Jika begitu nantinya terjadi kekacauan silsilah. Jika itu terjadi maka kualitas genetik anakan akan menurun,” ujar wanita kelahiran Ciamis, Jawa Barat, itu. Wiga mempertahankan pasangan satu betina dan satu jantan. Pasangan itu tidak berubah hingga mereka apkir, rata-rata pada umur 3 tahun untuk betina, dan 5 – 6 tahun pada jantan. Untuk mengganti indukan apkir, Wiga memasukkan sepasang induk baru, minimal berumur 1 tahun.

Wiga membiarkan induk betina meloloh anakan secara alami hingga mandiri mencari pakan pada umur 1 bulan. Menurut ahli burung di Jakarta, Frans Adi Jaya, air liur dari induk saat meloloh dapat meningkatkan daya tahan tubuh piyik. Saat itu Wiga menyediakan beragam pakan berupa milet, multivitamin, dan telur puyuh sebagai sumber protein. Ia juga memberikan pakan tambahan berupa arang untuk menyerap zat beracun, tepung kulit kerang sebagai sumber kalsium, dan pasir untuk meningkatkan pencernaan di tembolok. Pakan tambahan itu diberikan setiap Ahad dan Kamis. Setiap Selasa dan Sabtu Wiga juga memberikan sayuran seperti wortel atau sawi utuh. Setelah berumur sebulan anakan kenari mengonsumsi pakan serupa.

Menurut Wiga sumber nutrisi bisa juga dari pakan yang sudah tersedia di pasaran. “Sebaiknya pilih pakan yang memiliki nutrisi seimbang dan tidak mengandung zat kimia pencerah warna. Toh, warna merahnya sudah genetik, bukan karena pakan,” ujarnya. Konsumsi pakan yang mengandung hormon pencerah warna secara terus-menerus dikhawatirkan dapat mengentallkan darah dan merusak ginjal burung. Suara juga menjadi lambat karena gampang capai. Dengan berbagai perawatan itu, pantas bila ibu rumahtangga itu sukses meraup omzet hingga puluhan juta rupiah dari penjualan kenari merah berkualitas. (Imam Wiguna)

 

 

Warna merah permanen didapat dari  hasil seleksi perkawinan silang, bukan pengaruh pakan mengandung zat pencerah warna

Piyik diloloh secara alami oleh induk

Omzet Wiga M Anugerah peroleh minimal Rp50-juta per bulan dari penangkaran kenari merah asli

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img