Thursday, August 18, 2022

Rezeki di Jantung Borneo

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Ribuan rumah walet berdiri di berbagai wilayah Kalimantan Tengah dan memberikan omzet miliaran rupiah.

Jari wartawan Trubus menekan tombol global positioning system (GPS), kamera di tangan pun merekam suasana lahan rawa pasang surut yang diapit 2 sungai besar Barito dan Kapuas, Provinsi Kalimantan Tengah.  Di tengah kesibukan menandai lokasi, tiba – tiba seorang perempuan tengah baya menghampiri lalu bertanya, “Apakah Bapak akan membangun rumah walet?” Begitulah anggapan masyarakat di tepi sungai – sungai besar di Provinsi Kalimantan Tengah bila melihat orang asing membawa GPS, kamera, dan sound system.

Mereka menduga setiap yang datang dan membawa peralatan – peralatan itu tengah menguji kelayakan lokasi untuk mendirikan rumah walet. Maklum, 5 tahun terakhir banyak pengusaha dari Medan, Lampung, Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur berinvestasi membangun rumah walet. “Di sini rumah walet seperti cendawan di musim hujan,” kata Kusyana, penduduk Desa Palingkau, Kecamatan Kapuasmurung, Kabupaten Kapuas.

Investor luar

Rumah walet kian menjamur karena penduduk lokal tertarik mengikuti investor dari luar. “Hampir setiap pegawai, polisi, atau tentara meninggikan rumahnya untuk rumah walet,” kata Kusyana. Konstruksi bangunan pun beragam, mulai rumbia, papan, batako, bata, hingga beton tergantung kemampuan masing – masing.

Menurut H Biring, pengusaha walet di Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, membangun rumah walet kini menjadi tren di Borneo bagian tengah. “Siapa yang tidak tergiur dengan panen 20 kg sarang walet setiap 40 hari,” kata Biring sambil menunjuk sebuah rumah walet berwarna kuning di simpang empat  Jl. Mayjen Panjaitan dan Jl Ahmad Yani, Kabupaten Kapuas. Di pusat kota itu kantor bank atau provider kartu seluler terlihat unik karena bagian belakangnya bertambah tinggi untuk hunian walet.

Kabupaten Kapuas hanya salah satu dari 8 kabupaten lain di Kalimantan Tengah yang menjadi tujuan investasi rumah walet. Perjalanan Trubus dari ujung selatan Kabupaten Pulangpisau hingga ke ujung utara menemukan minimal 50 rumah walet yang sedang dibangun.

Menurut Hary K Nugroho, MBA konsultan walet di Jakarta, tingkat polusi udara di kota kabupaten jauh lebih rendah dibanding udara di ibukota provinsi di Pulau Kalimantan. “Kualitas sarang lebih bagus karena lebih bersih. Peternak juga lebih mudah memancing walet datang karena populasinya belum jenuh,” katanya. Di kota berudara bersih yang kaya pakan regenerasi walet berjalan tanpa hambatan.

Pengalaman Biring kerap menjadi contoh.  Tujuh belas pasang walet menghuni bangunan 5 tingkat berukuran 14 m x 17 m x 21 m setelah 4 bulan bangunan berdiri pada 2011. Ia memetik 1,2 kg pada panen perdana 8 bulan kemudian. “Saya tak rugi mengundang dan membayar Rp57 – juta kepada seorang konsultan yang menjamin walet bakal datang,” katanya. Setelah sukses memanen sarang, kini Biring kembali membangun 2 rumah walet berukuran setara.

Peternak sapi itu melengkapi bangunan dengan perangkat suara untuk memanggil dan menginapkan walet. Selain itu, ia juga meletakkan beragam bahan baku pakan walet seperti tepung kedelai untuk memancing serangga datang. Serangga pakan favorit walet.

Sampit

Kota Sampit, ibukota Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, pun serupa. Kota yang berbatasan langsung dengan laut Jawa itu menjadi lintasan migrasi walet dari Pulau Jawa  –  seperti layaknya Kota Banjarmasin (baca: Rumah Baru Burung Dolar, Trubus Desember 2011). Ketika petang menjelang,  pemandangan sungguh menakjubkan. Di sebuah bangunan ribuan walet membuat langit menghitam karena saking banyaknya.

Catatan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Seksi Konservasi Wilayah II, Pangkalanbun, Kalimantan Tengah, selama April  –  Oktober 2011 pengiriman sarang walet melalui Bandara H Asan, Sampit, mencapai 3.089 kg. Pengiriman selama 7 bulan terakhir itu berasal dari 1.000 rumah walet di Kotawaringin Timur. Jika harga sarang Rp7 – juta per kg saja, maka kota di ujung selatan Pulau Kalimantan itu menghasilkan Rp21 – miliar dari sarang walet. Omzet dari sentra lain seperti Pangkalanbun dan Sukamara diduga setara.

Pantas sejumlah pemerintah daerah mengeluarkan regulasi yang mengatur pendirian rumah walet agar tidak berbenturan dengan kepentingan masyarakat umum. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sampit merancang peraturan daerah yang membuat zona pengembangan sarang walet dan zona larangan. Di zona pengembangan, rumah walet boleh dibangun dengan syarat berjarak 1 km dari pemukiman penduduk, fasilitas umum, dan peternakan unggas serta 2 km dari tempat pembuangan sampah.

Zona terlarang karena sudah padat dengan pemukiman. Sebut saja Mentawa Baru Ketapang, Mentaya Hilir Selatan, Samuda, dan Baamang. Di Kabupaten Kapuas investor disyaratkan memiliki lahan sendiri dengan radius 50 m itu demi terwujud sentra walet yang aman untuk investor dan masyarakat. (Ridha YK, kontributor Trubus, Kalimantan Selatan).

 

Sentra Baru di Pulau Kayu

Kalimantan Tengah

Pangkalanbun

Pulangpisau

Katingan

Sampit

Palangkaray

Kapuas

Amianglayang

Tepi sungai di pedalaman menjadi buruan utama investor walet dari luar Kalimantan

Kota Sampit, Kalimantan Tengah, menjadi surga bagi investor karena terletak di lintasan walet asal Jawa Tengah

Pemilik bangunan kantor dan perbankan pun tergiur meninggikan bangunan untuk rumah walet

Saat ini minimal 50 rumah walet permanen sedang dibangun di Pulangpisau, Kalimantan Tengah

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img