Thursday, December 8, 2022

Kepiting Makassar Melanglang Buana

Rekomendasi

Sepuluh jam kemudian biota laut itu tiba di Hongkong. Itulah aktivitas setiap pagi buta di CV Hokky Seafood di Makassar, Sulawesi Selatan.

 

Hongkong hanya salah satu negara tujuan ekspor dari eksportir kepiting terbesar di Kota Angin Mamiri itu. Anggota keluarga Crustaceae itu juga dikirim ke Taiwan, China, Singapura, Thailand, bahkan negara serumpun Malaysia. Umumnya di negara-negara itu komunitas Tionghoa menjadi konsumen terbesar.

Menurut Hengky Yanto, pemilik CV Hokky Seafood, volume pengiriman terbesar ke negeri Tirai Bambu. Hampir 60% dari total ekspor sebesar 5-10 ton/hari

ditujukan untuk negara berpenduduk

1,3-miliar itu. ‘Hampir 20% masyarakat di sana gemar menyantap kepiting,’ ujarnya. Harap mafhum budaya makan kepiting di China cukup tinggi lantaran kepercayaan bahwa makan kepiting menyehatkan dan mencerdaskan.

Benarkah? Laporan lembaga perikanan Australia, Fisheries Research and Development Corporation menyebutkan dalam 100 g daging kepiting mengandung 22 mg omega 3 (EPA), 58 mg omega 3 (DHA), dan 15 mg omega 6 (AA). Ketiga senyawa itu memang berkhasiat sebagai pemacu kecerdasan anak.

Beragam ukuran

Tingginya intensitas ekspor dimulai pada November. Saat itu di negara tujuan banyak berlangsung acara pernikahan. Tamu-tamu akan berdatangan bila menu yang disuguhkan adalah kepiting. ‘Itu menjadi simbol penghormatan bagi tamu,’ ungkap Hengky.

Saat itu total jenderal volume ekspor mencapai 8-10 ton/hari dan berlangsung sampai April. Permintaan terbesar itu terjadi sebelum Imlek. Saking banyaknya proses pengemasan memakan waktu hingga 24 jam. Permintaan setinggi itu terpenuhi berkat kondisi alam yang mendukung. ‘Saat itu musim hujan yang membuat plankton dan udang kecil, pakan kepiting, berlimpah. Bobot kepiting meningkat dan produksinya lebih banyak,’ tutur pria 51 tahun itu.

Jumlah pengiriman menurun pada Mei-Oktober. ‘Setiap hari hanya 200-500 kg,’ ujar Tabran, manajer operasional. Terlebih pada 13 Agustus-13 Sepetember pengiriman ke China sama sekali tidak ada. ‘Berdasarkan penanggalan China, itu bulan setan,’ ucap Tabran. Meskipun begitu, harga jual tetap stabil. Untuk betina US$8-US$9/ kg setara Rp73.600-Rp82.800/kg; jantan US$10/kg setara Rp92.000 per kg.

Standar mutu yang diharapkan importir: kepiting betina harus gendong telur sebanyak 70-80% dan jantan bersosok gagah. Bagian tengah perut bawah jantan harus keras. Bila saat ditekan terasa lembek, itu artinya kepiting tidak prima. Berbeda dengan betina, tempat menyimpan telur harus lembek dan dari sana tampak warna merah. Itu menandakan betina sedang gendong telur. Syarat lain, bagian siku capit harus kencang dan lentur, tidak keriput. Keriput menandakan kepiting tidak segar. Kepiting dikirim dalam kondisi hidup.

Soal bobot, tergantung negara importir. Negeri Tirai Bambu menginginkan kepiting betina berbobot 250-500 g; jantan di atas 700 g. Saat dihidangkan dalam sebuah mangkuk berisi seekor kepiting jantan berbobot 1-2 kg dan dikelilingi betina yang lebih kecil. Adapun Malaysia mensyaratkan kepiting berbobot maksimal 500 g; Singapura, di atas 700 g.

Styrofom berlubang

Jenis yang diminta importir adalah kepiting bakau merah Scylla olivacea, bakau hijau S. serrata, dan bakau ungu kehitaman S. tranquebarica. Dua spesies yang disebut pertama didatangkan dari Bone dan Palopo, Sulawesi Selatan. Sementara kepiting ungu dari Papua. Setelah tiba di gudang pengemasan, kepiting dari ketiga daerah itu dimasukkan ke bak sepanjang 1 m x 50 cm untuk dibersihkan dari kotoran.

Selesai dibilas, kepiting langsung disortir dan ditimbang. Di sana sudah tersedia keranjang berlabelkan bobot kepiting mulai dari 250 g, 350 g, 500 g, 700 g, 800 g, dan terbesar 1.000 g. Kepiting lolos sortir dari tiap keranjang lalu dikemas dalam boks styrofoam berukuran 60 cm x 50 cm x 40 cm. Masing-masing keranjang berisi 20-25 kg. Di kiri dan kanan boks diberi 8 lubang agar kepiting cukup oksigen. Di dasar boks ditambahkan bongkahan es untuk menjaga temperatur.

Usai pengemasan, boks-boks itu diberangkatkan ke bandara menuju Jakarta. Pada pukul 05.00 WIB keesokan hari kepiting siap terbang ke negara tujuan. Empat sampai lima jam kemudian sudah tiba di Hongkong dan negara-negara lainnya. Untuk pengiriman itu Hengky harus membayar US$1,2/kg.

Kepiting-kepiting yang kurang dari ukuran ekspor dipelihara di tambak air payau seluas 6 Hektar di daerah Tanjung Merdeka, Kelurahan Tanjung Merah, Kecamatan Tamalate. Sebulan kemudian bobot kepiting sudah sesuai standar ekspor. (Lastioro Anmi Tambunan)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img