Monday, November 28, 2022

Nirwana Buah Bumi Sepucuk

Rekomendasi

Setelah memadai volumenya, getah pun diminum. Rasanya bagai santan kelapa dan kepala susu: manis serta melekat di langit-langit mulut. Tidak lazim memang mengkonsumsi getah pohon sebagai substitusi susu.

 

Bukan hanya lantaran warna dan rasa yang sama-putih dan manis-sehingga getah temedak ayer dimanfaatkan sebagai minuman. Namun, juga terbatasnya produksi susu di Pulau Bangka. Begitulah menurut K. Heyne dalam Tumbuhan Berguna Indoneia. Kebiasaan mengkonsumsi getah pohon anggota famili Moraceae itu memang sudah lama hilang. Maklum, sekarang populasi pohonnya langka.

Tim peneliti hasil hutan nonkayu Pusat Penelitian Biologi LIPI menemukannya di plot permanen di Sungai Tapa, 3 jam dari Kota Jambi. Di sana PT Wirakarya Sakti yang mengelola hutan tanaman industri menyisakan beberapa ha sebagai hutan konservasi. Temedak ayer Artocarpus kemando salah satu pohon buah eksotis yang hidup di antara ribuan tegakan. Masyarakat di sekitar Sungai Tapa menyebutnya cempedak air.

Tinggi pohon kerabat nangka itu 40 m dan lurus. Kira-kira 20 meter dari permukaan tanah, bebas cabang. Cempedak air berakar papan dengan panjang 2-5 m. Buah berbentuk silindris sampai hampir membulat, kekuningan atau kecokelatan. Permukaan kulit buah berduri tumpul. Ketika dibelah, tampaklah daging buah yang kekuningan. Teksturnya halus dan lunak. Buah beraroma harum itu amat manis.

Kerabat nangka lain yang ditemukan adalah cempunik atau tampunik Artocarpus rigidus. Masyarakat Jawa dan Sunda menyebutnya buah mandalika. Pohon yang tingginya mencapai 20 m itu berkulit kasar dan kadang-kadang bersisik. Getahnya yang lengket lazim dimanfaatkan untuk membatik setelah dicampur dengan malam. Masyarakat Palembang, Sumatera Selatan, menggunakannya sebagai bahan pencuci luka binatang peliharaan.

Bunga cempunik muncul soliter di batang pokok. Dalam sekali pembungaan biasanya hanya 4 buah tumbuh menjadi buah matang. Buah berbentuk lonjong itu ketika muda dapat disayur. Ketika matang, buah berwarna kuning emas, manis, dan sangat harum. Di hutan buah itu menjadi santapan monyet. Dalam satu buah hanya terdapat 4 biji. Bandingkan dengan famili Moraceae lain seperti nangka, cempedak, atau keluwih. Jumlah biji buah-buah itu bejibun!

Biji cempunik yang tunggal dapat dikonsumsi setelah direbus atau dibakar. Cempunik yang kini langka itu berprospek baik untuk dikembangkan sebagai tanaman buah-buahan. Pada musim panen, adakalanya dijajakan di pasar lokal dengan harga Rp1.000-Rp2.000 per buah. Kerabat-kerabat nangka itu tumbuh berjauhan. Saudara nangka lain yang ditemukan adalah bakil. Entah mengapa pohon itu disebut bakil. Padahal, pohonnya tak pelit-pelit amat berbuah.

Bakil Artocarpus dadah tingginya 20 m. Bakil tumbuh di hutan-hutan primer di ketinggian 0-1.200 m dpl. Tanaman anggota famili Moraceae itu tumbuh baik di daerah beriklim lembap dan panas di bawah ketinggian 1.000 m dpl. Meski mampu bertahan di area tergenang, tetapi pertumbuhan terbaik di kawasan berdrainase baik. Musim berbuah sepanjang tahun. Seperti kerabat nangka pada umumnya, buah bakil muda sebagai sayuran.

Pernah mendengar Citeureup? Kota kecamatan di Kabupaten Bogor yang dilintasi jalan tol itu namanya diadopsi dari buah tarap. Dalam lidah Sunda: teureup. Tanaman itu juga ditemukan di Sungai Tapa, Jambi. Buah tarap Artocarpus odoratissimus bersosok besar, amat harum, manis, dan lembut. Baik tarap maupun bakil melalui domestikasi dapat digunakan sebagai tanaman buah-buahan.

Faedah lain sebagai sumber genetik untuk perbaikan kualitas buah-buahan dari marga Artocarpus seperti nangka Artocarpus heterophyllus dan Artocarpus integer. Di samping itu dalam perkembangbiakan vegetatif dapat digunakan sebagai batang bawah dalam pembuatan okulasi dan sambungan. Kemando dan kerabatnya itu cuma salah satu buah eksotis yang ada di belantara Sungai Tapa.

Beragam buah lain juga ditemukan. Salah satu di antaranya adalah berenai Antidesma bunius. Di Jambi berenai tumbuh di hutan-hutan bekas penebangan dan hutan-hutan sekunder bekas perladangan. Tinggi pohon berenai mencapai 30 m dan berdiameter 40 cm. Anggota famili Euphorbiaceae itu berbatang lurus, daun lonjong-melanset, 19 cm x 4-10 cm. Bagian dasar daun menumpul atau membulat, ujung daun melancip.

Bunga muncul di ketiak, bertandan sepanjang 6-20 cm. Buah berpelok lonjong atau membulat, berdiameter 8-10 mm, berwarna kuning kemerahan sampai keunguan. Buah masak lazimnya segar atau jus; buah muda, sepat. Kandungan gizi setiap 100 gram buah berenai terdiri atas 6,3 g karbohidrat, 0,8 lemak, 0,7 g protein, 37-120 mg kalsium, 22-40 mg fosfor, 0,1-0,7 mg zat besi, 8 g vit C, dan 10 IU vitamin A.

Selain buah, daun muda berfaedah sebagai pengharum masakan ikan sekaligus pengganti cuka. Pucuk berenai pun lezat sebagai lalapan atau dimasak bersama nasi. Masyarakat setempat memanfaatkan kulit batang dan daun yang mengandung alkaloid untuk pengobatan tradisional. Sosoknya yang rindang potensial sebagai tanaman penghijauan. Provinsi berjuluk Bumi Sepucuk itu juga menyimpan tampui labu. Masyarakat setempat menyebutnya tampui nasi atau gerahan Baccaurea macrocarpa.

Tanaman anggota famili Euphorbiaceae itu merupakan elemen penting pada hutan bekas logging di kawasan konservasi PT WKS di Sungai Tapa, Jambi. Tampui tumbuh baik di lahan berdrainase baik. Namun, secara individual tampui ditemukan di rawa-rawa yang tergenang secara periodik, hutan kerangas, dan hutan rawa gambut. Buah tampui yang bulat dan cokelat muncul dari batang atau cabang. Daging buah berwarna putih agak kuning gading, rasanya asam manis.

Anggota famili Euphorbiaceae lainnya adalah rambai. Habitat pohon rambai di hutan tropika basah mulai dari hutan yang didominasi anggota famili Dipterocarpaceae sampai hutan-hutan rawa gambut, hutan dataran rendah sampai di hutan tropika pada ketinggian 750 m dpl. Rambai menyukai tanah aluvial berdekatan dengan sungai atau daerah-daerah yang airnya tersedia.

Pohon yang tidak pernah menggugurkan daun itu berumah dua, tinggi 20 m, dan berdiameter 50 cm. Bunga jantan berupa tandan sempit, panjang 13-20 cm berwarna kuning, benang sari 4-8. Tandan bunga betina berwarna kuning, panjang 25-60 cm. Buah eksotis itu tumbuh bergerombol di tangkai memanjang. Bentuknya membulat-lonjong, bila masak berubah warna menjadi kuning dengan kulit yang tebal berdaging. Rasanya manis-manis asam.

Baccaurea motleyana kerap dimanfaatkan sebagai pohon pelindung atau peneduh, pohon lanjaran uwi dan rotan. Kulit batangnya yang tipis, berwarna jingga kecokelatan berguna sebagai bahan pewarna merah pada kain dan lukisan. Rambai yang mereka peroleh dari kebun atau meramu di hutan, selain dikonsumsi sendiri juga dijajakan di pasar-pasar lokal.

Kandis burung juga ditemukan di Sungai Tapa. Di Jambi hutan ini banyak ditemukan di kawasan hutan bekas logging yang agak basah. Percabangan pohon 15 m berdiameter 20-40 cm, pendek dan lurus, tajuk sangat padat, dan berbentuk piramida. Anggota famili Clusiaceae itu berumah ganda. Bunga jantan mempunyai benang sari berbentuk piramida terbalik dan bersudut 4, setiap sudut merupakan ruang terbuka secara vertikal. Bunga betina dengan 5 kepala sari bercuping.

Bakal buah Garcinia parvifolia terdiri atas 6-10 ruang. Bentuk buah kerabat manggis itu membulat, berdiameter sekitar 9 cm, berkulit halus, dan licin. Warna buah kuning, merah muda agak pucat, sampai kuning jingga-kemerahan. Bijinya berwarna kecokelatan. Buahnya dimakan segar, rasanya agak asam. Biasanya masyarakat Melayu di Jambi meramu buah kandis untuk bahan bumbu masak sebagai pengganti asam jawa Tamarindus indica.

Selain kandis burung, tim eksplorasi juga menemukan kandis, tanpa embel-embel burung di belakangnya. Bagi penyuka pantun, komoditas itu kerap disebut-sebut: asam kandis, asam gelugur menangis di dalam kubur. Namun, jarang yang pernah melihat sosok buah kandis Garcinia rigida yang berfaedah sebagai buah segar dan bumbu masak. Kandis tumbuh di kawasan hutan primer tropis basah berkelembapan tinggi.

Di sekitarnya tumbuh rambutan kabung. Sosoknya memang mirip buah rambutan. Masyarakat setempat meneyebutnya arang tarao, arang taro, atau kumpal benang. Pohon arang tarao mencapai 35 m atau dan berdiameter 70 cm. Ketimbang buah rambutan Nephelium lapaceum, buah arang tarau agak masam. Walau kurang populer ketimbang rambutan, tetapi Nephelium cuspidatum mempunyai rasa yang khas dan warna menarik yaitu merah cerah menyala sehingga menggugah selera.

Daunnya yang berpasangan dengan 2- 9 pasang anak daun berkhasiat untuk mengobati sakit demam. Buah arang taro merupakan salah satu sumber genetik bagi pengembangan jenis buah-buahan marga Nephelium, terutama rambutan. Buah eksotis lain adalah durian daun Durio oxleyanus. Sosoknya berbeda dengan saudara dekatnya, durian Durio zibethinus. Duri yang menyelimuti kulit lebih panjang.

Daging buah yang membungkus biji rasanya manis. Anggota famili Bombacaceae itu juga berkhasiat sebagai obat. Ekstrak kulit batang lazim dimanfaatkan sebagai obat malaria. Sedangkan gerusan biji untuk mengobati luka dan infeksi kulit. Durian daun tumbuh secara alami di hutan-hutan hujan tropis dataran rendah, yang secara periodik terendam atau kebanjiran. Kerabat randu itu menyukai daerah lembap dan jenis tanah liat berlempung yang banyak mengandung aluminium

Setidaknya tim eksplorasi menemukan 35 buah eksotis di Sungai Tapa. Meramu buah-buahan di hutan merupakan kegiatan awal terjadinya proses domestikasi. Apalagi masyarakat lokal membudidayakan jenis-jenis buah-buahan hutan seperti cempunik dan rambai. Potensi buah-buah di Bumi Sepucuk itu amat besar sebagai sumber genetik pengembangan hortikultura tanahair. (Dr Y Purwanto, peneliti Etnobotani Pusat Penelitian Biologi LIPI)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Jambu Mete, Komoditas Kelas Premium di Pasar Global

Trubus.id — Jambu mete menjadi salah satu komoditas kelas premium di pasar global. Bahkan, jambu mete merupakan produk kacang-kacangan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img