Trubus.id – Cabai merupakan salah satu bahan pokok yang hampir selalu ada dalam masakan masyarakat Indonesia. Rasanya yang pedas dan khas membuat cabai sulit tergantikan dalam kuliner Nusantara.
Harga cabai yang fluktuatif seringkali menjadi keresahan rumah tangga. Karena itu, menanam cabai di rumah menjadi solusi cerdas dan berkelanjutan.
Selain menghemat pengeluaran, menanam cabai juga memperkuat ketahanan pangan keluarga. Aktivitas ini bisa dilakukan oleh siapa saja, bahkan dengan lahan terbatas.
Kemi, warga Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, membuktikan hal itu. Ia memanfaatkan pekarangan rumahnya yang hanya berukuran 6 meter x 1 meter untuk menanam cabai.
Cabai ditanam di sela-sela tanaman buah seperti sawo dan naga, juga beberapa tanaman hias. Menariknya, cabai yang ia tanam langsung tumbuh di tanah tanpa menggunakan pot.
Awalnya, Kemi hanya menyisihkan biji cabai dari dapur sebelum memasak. Biji-biji itu ia tabur begitu saja di pekarangan depan rumah.
Tak disangka, tanaman cabai tumbuh subur dan menghasilkan buah cukup banyak. Kini, kebutuhan cabai sehari-hari keluarganya bisa terpenuhi dari halaman rumah.
Cerita serupa datang dari Usman Efendi, warga Kabupaten Jember, Jawa Timur. Ia menanam cabai rawit di lahan belakang rumah dengan sistem tumpang sari.
Sebanyak 90 pohon alpukat ditanam dengan jarak tanam 5 meter x 5 meter. Di sela-sela pohon alpukat itu, Usman menyisipkan tanaman cabai rawit.
Menurut Usman, tumpang sari sangat menguntungkan karena tanah termanfaatkan maksimal. Ia juga tidak perlu menambah pupuk karena sisa nutrisi alpukat ikut menyuburkan cabai.
Hasil panen cabai ia gunakan sebagai bahan baku sambal di warung bakso miliknya. Usman merasa menanam cabai turut menunjang kelangsungan usaha kulinernya.
Namun, menanam cabai secara mandiri bukan tanpa tantangan. Salah satu kendala yang sering muncul adalah minimnya pengetahuan masyarakat soal perawatan tanaman.
Serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) bisa membuat tanaman gagal panen. Hal ini terungkap dalam studi kasus yang dilakukan di Kampung KB, Kelurahan Yosodadi, Kota Metro, Lampung.
Penelitian dilakukan oleh Etik Puji Handayani dan Rakhmiati dari STIPER Dharma, serta Tri Aristi Saputri dari STMIK Dharma Wacana. Mereka mencatat banyak warga mengalami serangan OPT saat menanam cabai di pekarangan.
Untuk mengatasi masalah itu, tim peneliti mengedukasi warga soal pembuatan biopestisida alami. Biopestisida ini dibuat dari agen hayati seperti Trichoderma sp., Beauveria bassiana, dan Metarhizium anisopliae.
Agen-agen tersebut tidak hanya membasmi hama, tapi juga mempercepat pertumbuhan tanaman. Cara pembuatannya pun sederhana dan menggunakan bahan yang mudah didapat.
Sebagai contoh, media biak Trichoderma dibuat dari campuran tepung ketan, maizena, urea, TSP, mineral ternak, air, dan asam amino. Proses fermentasi berlangsung selama tiga pekan.
Setelah itu, biopestisida cukup dilarutkan dalam air dan disiramkan ke tanaman cabai. Tak hanya efektif, cara ini juga ramah lingkungan dan murah.
Etik menyatakan bahwa budidaya cabai yang tepat sangat menentukan hasil panen. Faktor iklim, tanah, dan pengendalian OPT harus dikelola dengan baik.
Masyarakat membutuhkan pendampingan agar lebih percaya diri menanam sendiri. Dengan edukasi yang tepat, pekarangan rumah bisa menjadi sumber pangan yang produktif.
Menanam cabai secara mandiri memberi banyak manfaat. Selain memenuhi kebutuhan keluarga, kegiatan ini juga membantu pelestarian lingkungan dan menambah pemasukan.
