Sunday, August 14, 2022

Khasiat di Balik Pahit Cokelat

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Konsumsi cokelat pekat atau dark chocolate secara rutin baik untuk pengidap hipertensi.

Cokelat pekat 80% dan 100% dengan kandungan mentega kakao tinggi berfaedah menjaga kesehatan. (Dok. Trubus)

Trubus — Syahrizal mengidap hipertensi sejak 2003. Tekanan darahnya mencapai 200/120 mmHg. Padahal, tekanan darah normal 120/80 mmHg. Selama ini pria berumur 57 tahun itu mengobati penyakitnya dengan mengonsumsi minuman herbal. Ia menyeduh irisan rimpang jahe, kunyit, temulawak, dan temukunci. Namun, ada kalanya Syahrizal mengonsumsi cokelat pekat panas dengan tambahan gula kelapa murni.

Pria 57 tahun itu meminumnya sebelum tidur. Pensiunan bank itu merasakan efek rileks. Ia menjalani kebiasaan itu selama tiga tahun terakhir. Menurut dokter sekaligus herbalis di Kota Depok, Jawa Barat, dr. Erna Cipta Fahmi, mengonsumsi cokelat pekat atau dark chocolate secara rutin baik untuk pengidap hipertensi. “Beberapa pasien hipertensi diobati dengan penenang,” tutur dokter alumnus Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta itu.

dr. Erna Cipta Fahmi, dokter dan herbalis di
Kota Depok, Jawa Barat.

Biji sangrai

Efek penenang biji buah Theobroma cacao bersumber dari senyawa aktif theobromine. Theobromine merupakan senyawa kelompok alkaloid pada tanaman kakao dan produk olahannya. Senyawa aktif itu bersifat vasodilator atau pembesar pembuluh darah dan bronkodilator alias pelebar permukaan bronkus dan bronkiolus pada paru-paru. Peran lain theobromine sebagai stimulator jantung dan diuretik atau mempercepat pembentukan urine.

“Apa pun yang bersifat diuretik otomatis menurunkan tekanan darah,” kata Erna. Biji buah anggota famili Sterculiaceae juga mengandung epikatekin, senyawa flavonoid yang bersifat antioksidan. Perannya antara lain sebagai diuretik. Khasiat epikatekin mampu menghalangi bakteri dan virus yang menempel di dinding sel. Akibatnya bakteri dan virus tercegah merusak dinding sel.

Cokelat pekat batangan, biji kakao kering, dan bubuk cokelat dapat menjadi alternatif pilihan cemilan
sehat. (Dok. Trubus)

Selain itu epikatekin juga bereaksi dengan racun yang diproduksi bakteri berbahaya dan logam berat sehingga dapat meneteralisir kadar racun dalam tubuh manusia. Erna menuturkan, faedah besar itu lebih optimal jika kita mengonsumsi camilan berupa biji kakao sangrai atau kering. Biji kakao kering mengandung senyawa-senyawa aktif yang lebih lengkap karena minim pengolahan.

Adapun bubuk cokelat atau cokelat batangan kehilangan banyak minyak cokelat atau mentega cokelat dalam proses pengolahannya. Padahal cocoa butter kaya asam palmitat, stearat, dan asam oleat yang baik untuk kesehatan jantung. Kita dapat mengonsumsi biji kakao kering seperti camilan kacang. Cara lain membuat jadi serbuk dengan grinder, mirip mengolah biji kopi.

Serbuk cokelat itu siap seduh. Dosisnya cukup 1—3 biji per sekali makan. “Rasanya memang tidak enak karena agak pahit. Oleh karena itu, penikmat cokelat dapat menambahkan madu atau gula alami seperti stevia, gula aren, atau gula kelapa murni. Pilihan mengonsumsi cokelat batang dan cokelat bubuk siap minum masih dikategorikan sehat bila bahan-bahan yang digunakan minim tambahan dan pengolahan.

Radikal bebas

Biji kakao kering merupakan
oalahan paling minim proses. (Dok. Trubus)

Produsen cokelat sehat di Pamulang, Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Eka Novitri, mengatakan bahwa ada penambahan zat aditif seperti minyak kelapa sawit pada cokelat batangan yang banyak beredar di pasar. Penambahan lain berupa zat alkalis atau penetral rasa asam cokelat, pemanis buatan, dan susu. Penambahan berbagai bahan “mencoreng” khasiat cokelat.

Cokelat yang sudah mengandung minyak nabati  lazim disebut cokelat majemuk atau compound chocolate. Eka membuat cokelat pekat batangan tanpa tambahan minyak nonkakao dan zat-zat aditif buatan. Itulah yang dikenal dengan istilah cokelat couverture atau cokelat yang hanya mengandung massa kakao dan mentega kakao.

Sarjana Teknologi Pangan alumnus Universitas Ekasakti Padang itu menggunakan biji kakao dari perkebunan di Kabupaten Payakumbuh, Sumatera Barat. Para petani di sana menanam varietas BL50 yang termasuk klon unggul kakao asal Sumatera Barat. Biji kakao BL50 besar, mengandung mentega kakao tinggi, dan beraroma sangat harum.

Mochammad Rizal, S.Gz, ahli gizi KONI Provinsi Jawa Timur. (Dok. Mochammad Rizal, S.Gz)

“Karena mesin kami skala kecil, pasta cokelat tidak bisa dipisahkan dari mentega kakao secara sempurna. Namun, ternyata banyak konsumen yang meminati olahan cokelat bubuk yang masih mengandung mentega kakao,” kata Eka. Ia memproduksi cokelat pekat batangan 50% dengan susu, 80%, 100%,  dan cokelat bubuk siap minum. Selain itu Eka juga menjual biji kakao kering yang murni atau dengan balutan gula kelapa murni. Konsumen meminati cokelat pekat 100%. Sejak akhir 2019 kian banyak pembeli mencari cokelat pekat batangan 100%. Harga cokelat batangan Rp40.000—Rp50.000 per 75 gram.

Menurut ahli gizi Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Jawa Timur, Mochammad Rizal, S.Gz, mengonsumsi 16—99 gram cokelat pekat batangan per hari menyehatkan. Menurut Rizal cokelat pekat mengandung zat  besi (Fe) dan antioksidan tinggi sehingga sangat baik dikonsumsi masyarakat perkotaan untuk menangkal radikal bebas. Selain itu penderita anemia dan yang sedang menjaga kadar hemoglobin juga dianjurkan mengonsumsi cokelat pekat.

Cokelat pekat sebagai sumber energi bagi olahragawan. Menurut Rizal bagi olahragawan, konsumsi cokelat hitam mampu meningkatkan ketersediaan oksigen selama berolahraga, “Karena cokelat mengandung senyawa flavonol bernama epikatekin yang meningkatkan kadar nitrit oksida di dalam tubuh.”Namun, sebaiknya tidak berlebihan dalam mengonsumsi cokelat karena kandungan energinya juga tinggi, yaitu 550 kkal dalam 100 gram. (Tamara Yunike)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img