Trubus.id— Kisah lima pemuda yang mencebur ke sungai dan parit untuk membersihkan sampah. Mereka adalah Rafly Pasya, Agung Permana, Rifki Sa’dulah, Muchamad Ikhsan, dan Gilang Rahma.
Mereka menginisiasi gerakan membersihkan sampah di aliran sungai dan parit. Gerakan itu bermula dari keresahan mereka saat hujan turun. Saat itulah banjir selalu mengancam kediaman mereka di Kelurahan Kopo, Kecamatan Bojongloa Kaler, Kota Bandung, Jawa Barat.
“Banjir pun berulang datang dari dahulu. Itu masalah banjir tak pernah beres sampai sekarang,” kata Gilang.
Gilang dan keempat rekan menelusuri penyebab banjir. Ternyata sampah menjadi biang kerok banjir karena menyumbat aliran sungai. Semula mereka hanya membersihkan sampah di sisi sungai. Rupanya hal itu tidak berdampak besar mengatasi banjir.
Lalu Gilang dan keempat rekan memutuskan untuk terjun langsung ke sungai sejak medio 2022. Mereka rela mencebur ke sungai dan parit demi mengangkut sampah yang menumpuk Badan bau dan gatal-gatal karena terjun ke air kotor tak lagi mereka hiraukan.
Semua itu mereka lakukan demi saluran air berjalan lancar. Sepanjang 2022, Gilang dan rekan mengumpulkan 4.511 kantong setara 27.066 kg sampah. Sampah-sampah berasal dari 78 sungai, selokan, dan tangki septik (septic tank).
Mereka melakukannya berharap saluran yang mampat tak lagi menjadi musabab banjir. Sayang, jerih payah kelima pemuda itu seolah sia-sia. Banjir kembali terulang ketika hujan.
“Sebenarnya sebanyak apa pun sampah yang kami bersihkan, mungkin dalam waktu dekat tidak pernah beres kalau kesadaran masyarakat membuang sampah sembarangan tidak berkurang,” kata Gilang.
Mereka yakin kalau kebiasaan membuang sampah sembarangan hilang, maka banjir berhenti. Itu faktor utamanya. Aliran air tidak berjalan karena sumbatan sampah. Kebiasaan membuang sampah masyarakat memang sulit dihilangkan.
Pernah suatu ketika Pandawara—nama grup yang mereka dirikan—tengah membersihkan sampah di sungai. Ketika itu seorang warga membuang sampah ke sungai. Padahal, posisi orang itu hanya 10 m dengan tim. Kejadian itu bukan kali itu saja terjadi.
“Kami sering mengalami hal itu dan terus berulang,” kata Gilang.
Kadang-kadang muncul rasa ingin menegur untuk memperingatkan. Namun, mereka mengurungkan niat itu karena yang melakukan orang tua. Upaya untuk membersihkan sampah itu tak ada habisnya. Oleh karena itu, hingga saat ini jangkauan Pandawara makin meluas.
Bahkan, gerakannya itu menginspirasi pemuda di daerah lain seperti di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Pandawara diundang ke sana untuk bersama-sama dengan lebih dari 200 orang sukarelawan untuk membersihkan salah satu pantai di Lombok.
Ternyata kegiatan itu sukses mengumpulkan 3,1 ton sampah dan mengubah predikat sebagai pantai terkotor menjadi lebih bersih. Dengan begitu, pantas bila nama Pandawara layak disematkan untuk 5 pemuda itu.
Nama Pandawara diambil dari dua kata, yaitu Pandawa yang dalam kisah pewayangan artinya berlima mengacu pada jumlah lima pemuda, anggota grup. Sementara wara dalam bahasa Sunda berarti berita baik. Semoga kehadiran grup Pandawara jadi kabar baik yang menginspirasi bagi lingkungan.
