Friday, December 9, 2022

Kisah Meniran Penjinak Lever

Rekomendasi

Malang 5 jam sebelumnya, ia kejang-kejang disertai keringat dingin. Diagnosis dokter Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Endah mengalami sirosis alias gangguan lever kronis. Rebusan meniran membebaskannya dari lever.

Dua bulan sebelum pameran digelar pada Juni hampir 2 windu lalu, betapa sibuknya Endah Malahayati. Saking sibuknya, ibu 5 anak itu kerap pulang dini hari. Belum lagi ia berkeliling ke banyak kota di Indonesia guna “merayu” para penganggrek agar mau berpartisipasi pada pameran internasional perdana di tanah air.

Puncak kesibukannya saat rumah tangga kepresidenan minta tata letak diubah. Padahal panggung dan paviliun pameran sudah siap dan rapi. “Alasannya agar tidak pengap. Terpaksa kami harus membongkar lagi,” ujar penganggrek kawakan itu. Maklum pameran akbar itu dibuka oleh ibu presiden Tien Soeharto. Selain itu puluhan anjungan provinsi harus dipindahkan agar jalan masuk dan keluar mendiang Tien Soeharto tidak dari pintu yang sama.

Permintaan itu 2 hari sebelum ekshibisi digelar. Wajar bila alumnus Farmasi Institut Teknologi Bandung itu pontang-panting. Sudah begitu Endah kerap telat makan. “Jadi asupan energi tak sebanding dengan kalori yang dikeluarkan,” katanya. Dampaknya levernya terganggu.

Bahan kimia

Sejatinya pola makan tak teratur bukan hanya saat ia menjadi ketua pameran anggrek. Sejak 1984—jauh sebelum pameran berlangsung—Endah terbiasa jarang makan lantaran gila kerja. Bayangkan, sehari-hari ia bekerja di sebuah perusahaan kontraktor di Jakarta Barat. Seharian hingga petang menjelang, ia tenggelam pada kesibukan. Lalu setelah tiba di rumah di bilangan Cideng, Jakarta Pusat, ia kembali menekuni pekerjaan lain.

Saat itu Endah tengah dimabuk anggrek cattleya, dendrobium, dan phalaenopsis. Hingga dinihari ia asyik memperbanyak anggrekanggrek itu di laboratorium mininya. Itu berlangsung bertahun-tahun. “Saya paling cuma tidur 2 atau 3 jam semalam,” katanya. Celakanya saat menimbang bahan-bahan kimia sebagai media pembiakan, masker tak pernah digunakan. Bukannya tak tahu ancaman bahan kimia seperti mangan sulfat, kalsium fosfat, atau trikalsium fosfat. Endah cuma abai.

Sulung 4 bersaudara itu juga senantiasa memanfaatkan formalin cair untuk sterilisasi encase. Uap formalin cair itu diduga kerap terhirup Endah saat bekerja. Akumulasi bahan kimia, gila kerja, dan jarang makan itulah yang memicu rusaknya lever Endah. Harap mafhum lever atau hati organ amat penting dalam proses metabolisme, pencernaan, pengaturan keseimbangan hormon, dan mengolah bahan toksik yang masuk ke dalam tubuh. Selain karena bahan kimia seperti dialami Endah, gangguan lever juga dapat dipicu karena cendawan Aspergilus flavus dan cendawan pada oncom.

Ciri sirosis hati adalah muncul jaringan parut dan kerusakan sel-sel hati. Akibatnya sirkulasi darah dan saluran empedu pun kacau. Aliran darah ke hati dan yang ada dalam hati tersumbat sehingga tekanan darah di pembuluh darah balik meningkat. Mata dan kulit penderita biasanya kekuningan serta urine mirip air teh. Itu akibat bocornya empedu dalam sirkulasi darah di seluruh tubuh.

Meniran

Begitu ambruk, ia segera dilarikan ke RSCM. Selama 3 pekan kelahiran Yogyakarta 30 Desember 1947 itu tergolek lemah. Saat itu Endah adalah perempuan tak berdaya. Perempuan ringkih. Lima purnama dihabiskan di atas peraduan. Segala aktivitas dilangsungkan di sana. Kata Endah, “Seperti orang tanpa tulang.”

Panorama yang disaksikan hanya itu-itu saja. Langit-langit rumah yang pucat pasi. Persis seperti wajahnya tanpa terpaan sinarMatahari. Bobot tubuh melorot 8 kg dari sebelumnya 53 kg. Menurut Endah, yang paling membosankan adalah makan. Dari hari ke hari bahan pangan cuma direbus.

Sepercik harapan itu muncul ketika adikEndah, dr Az Rifki, datang berkunjung. Ia menceritakan, meniran tengah dimanfaatkan sebagai ramuan terapi lever di RS AD Gatot Soebroto Jakarta. “Kelihatannya banyak yang menunjukkan hasil lumayan,” kata dokter yang kini bertugas di RS Jamil Padang seperti dikutip Endah.

 

Sembuh total

Keesokan harinya, pramuwisma di rumah Endah merebus 50 g meniran kering—akar, batang, dan daun—dalam 2 liter air. Kira-kira 1 liter air rebusan yang tersisa rutin diminum 2 kali sehari usai makan masing-masing 1 gelas. Meniran yang sudah direbus langsung dibuang.

Dua pekan berselang, perubahan dirasakannya. Badan lebih nyaman dan ia mampu ke kamar mandi sendiri. Atas anjuran adiknya, konsumsi rebusan meniran kemudian dihentikan. Ketika memeriksakan diri di laboratorium, “Ternyata hasilnya sangat mengejutkan. Perbaikannya sangat mencolok,” katanya.

Sayang, data rekam medis tercecer ketika ia 2 kali pindah rumah dari Cideng ke Bintaro dan kini di Ragunan, Jakarta Selatan. Setelah jeda sepekan, nenek 8 cucu itu kembali rutin mengkonsumsi ramuan serupa dengan volume sama atas saran adiknya. Lamanya juga 2 pekan. Tes di sebuah laboratorium, hasilnya terus membaik.

Dokter Amran Budi Santosa dari RSCM yang menanganinya sampai heran. “Ibu minum apa?” ujar mantan rektor Universitas Indonesia. Karena kondisi normal belum tercapai, Endah kembali minum rebusan meniran setelah sepekan istirahat. Lalu 2 pekan kemudian, ia dinyatakan sembuh total.

“Tenaganya seperti orang yang tak pernah sakit parah,” ujar pekebun anggrek di Ragunan, Jakarta Selatan. Di halaman rumah yang luas, Endah kini tetap dapat melayani hobiis anggrek yang berkunjung. (Sardi Duryatmo)

Liar dan Bermanfaat, Menir!

Daun terna liar itu mirip daun asam. Bentuk lonjong dan majemuk. Di ketiak daun menghadap ke bawah terdapat bulatan kecil berwarna putih. Persis seperti menir alias pecahan beras halus saat ditumbuk. Itulah sebabnya tanaman yang banyak tumbuh di tepi got, pekarangan, dan kebun hingga ketinggian 1.500 m dpl itu disebut meniran.

Meniran berbatang hijau Phyllanthus niruri mempunyai kepala sari yang bila matang pecah secara membujur. Yang berbatang merah Phyllanthus urinaria kepala sarinya akan pecah secara melintang bila matang. Kedua anggota famili Euphorbiaceae atau jarak-jarakan itu bermanfaat sebagai obat, termasuk untuk mengatasi gangguan lever.

Multifungsi

Tanaman setinggi rata-rata 15—20 cm itu memang multikhasiat. Umumnya seluruh bagian tanaman berkhasiat obat. Faedah gosau ma dungi—sebutan meniran di Ternate—paling populer adalah untuk peluruh urine alias diuretik. Itu lantaran jasa kalium karbonat dan filantin yang banyak dikandungnya. Kandungan lain berupa hipofilantin, kalium, flavonoid, polifenol, dan saponin.

Bila Anda merasa demam, tak ada salahnya mencobanya. Seduh dengan segelas air mendidih 7 tanaman setelah dicuci bersih. Setelah dingin dan disaring, barulah diminum rutin sekaligus. Dipadukan dengan pegagan Centella asiatica, meniran tokcer mengatasi kolik atau perut mulas dan kencing batu. Menir-menir alias tuan di Eropa memanfaatkannya sebagai obat gonorhoe.

Rebusan akar meniran, rimpang jahe, plus gula batu ampuh mengobati batuk rejan yang kerap diderita anakanak. Selain itu dukung-dukung anak—lafal di lidah Malaysia—juga lazim digunakan untuk mengatasi ayan, malaria, disentri, luka bakar, haid berlebihan, dan jerawat.

Menurut Sri Haryanto S Nugroho, meniran memang kerap digunakan untuk mengobati sirosis. “Meniran mampu menahan O2 dalam darah sehingga tak cepat menjadi CO2. Dengan demikian antibodi juga dapat berkembang,” ujar pengobat komplementer di Bantul, Yogyakarta. (Sardi Duryatmo)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Keunggulan Kapal Canggih Penebar Pakan Ikan

Trubus.id — Kapal penebar pakan ikan bisa menjadi alternatif para pembudidaya yang memelihara ikan di tambak yang luas. Salah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img