Wednesday, August 17, 2022

Kopi Tepal: Kelezatan dari Puncak Ngeres

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Pohon kopi arabika di Desa Tepal, Kecamatan Batulenteh, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, tumbuh alamiah di hutan.
Pohon kopi arabika di Desa Tepal, Kecamatan Batulenteh, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, tumbuh alamiah di hutan.

Kopi arabika dan robusta dari puncak tertinggi Pulau Sumbawa beraroma khas.

Secangkir kopi tepal itu membawa kelezatan tiada tara. Rasanya perpaduan pahit, manis, dan gurih yang pas. Salah satu rahasia kopi tepal adalah masyarakat menyangrai biji kopi kering di atas pasir panas. Biji kopi tidak bersinggungan langsung dengan wadah. Itulah tradisi yang hingga kini berlaku di Desa Tepal, Kecamatan Batulanteh, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Selain itu masyarakat Tepal biasanya mencampur kopi dengan bonggol jagung atau beras sangrai. Tujuannya menambahkan rasa gurih maupun aroma pada kopi sekaligus mencegah penikmat kopi terkena penyakit mag. Dari rasanya kopi yang dihasilkan di hutan Desa Tepal sangat berbeda dengan kopi pada umumnya. Tingkat kepahitannya lebih terasa dan agak masam.

Petani kopi di Puncak Ngeres, Nusa Tenggara Barat, Daeng Suryadi, penerus tradisi mengolah kopi.
Petani kopi di Puncak Ngeres, Nusa Tenggara Barat, Daeng Suryadi, penerus tradisi mengolah kopi.

Tumbuh alami
Biji-biji kopi itu berasal dari hutan di Desa Tepal. Populasi pohon kopi di Tepal sulit diperkirakan. Ada yang menyebut 350 ha, ada pula yang mengatakan 500 ha. Sudah ribuan tahun masyarakat Desa Tepal mendapatkan kopi alam dari hutan sekitarnya. Kopi jenis robusta dan arabika tumbuh di desa itu. Bahkan kopi luwak yang menjadi legenda kopi dunia juga tersedia.

Para petani membiarkan begitu saja tanaman anggota famili Rubiaceae itu. Namun, hasil panennya sangat melimpah. Produksi kopi dari Desa Tepal 4.000—5.000 ton per tahun. Warga Desa Tepal, Daeng Suryadi, ikut melestarikan kopi tepal. Ia memasarkan kopi ke perkotaan di daerah Sumbawa, bahkan hingga Mataram.

“Usaha kopi ini pun saya dapat dari ayah dan sekarang saya kelola biar usaha kopi dapat berjalan terus dan turun ke anak-cucu,” ujar Daeng Suryadi. Pengelolaan kopi hutan di kawasan Batulanteh bukan dikelolanya sendiri, tetapi bersama warga Tepal. Daeng Suryadi menyebutkan harga biji kopi kering robusta berkisar Rp15.000—Rp22.000 dan kopi arabika Rp25.000—Rp30.000 per kg.

Dengan harga jual itu Suryadi mendapatkan laba kotor Rp200-juta setiap musim panen. “Bisnis kopi ini sangat menguntungkan bagi saya dan masyarakat Tepal, sehingga kami enggan pindah ke kota demi bisnis biji kopi,” ujar Daeng.

Lokasi Desa Tepal di puncak Ngeres.
Lokasi Desa Tepal di puncak Ngeres.

Jalan rusak
Pengunjung harus menempuh perjalanan 67 km dengan waktu tempuh sekitar 4—5 jam. Lamanya waktu tempuh itu karena jalan menuju Desa Tepal amat rusak. Jalanan itu berlumpur setiap kali musim hujan tiba. Di sisi jalan terdapat tebing tinggi yang dapat mendadak longsor dan menyapu kendaraan hingga jatuh ke jurang di sebelahnya. Itulah tantangan untuk mencapai Desa Tepal.

Desa itu bertengger di Gunung Batulanteh, puncak gunung  tertinggi di Pulau Sumbawa, yakni 1.730 meter di atas permukaan laut. Masyarakat setempat menyebutnya Puncak Ngeres. Namun, rasa lelah, dan kekhawatiran selama perjalananan, segera terbayar saat tiba di desa yang bersinggungan dengan bibir jurang itu. Masyarakat desa itu rela hidup jauh dari peradaban bahkan hidup di pinggir jurang.

Mereka masih memegang teguh budaya samawa—budaya asli Sumbawa. Tepal penghasil kopi terbesar di Nusa Tenggara Barat. Tepat di atas puncak Ngeres, ribuan pohon kopi tumbuh secara alami entah siapa yang pertama kali menanamnya. Karakteristik tanaman kopi robusta yang tumbuh di Desa Tepal bercabang produksi tegak lurus. Buah kopi dihasilkan dari cabang primer yang tumbuh mendatar.

Cabang primer cukup lentur sehingga bentuknya menyerupai payung. Bentuk daunnya membulat menyerupai telur dengan ujung daun runcing. Daun-daunnya tumbuh pada batang, cabang, dan ranting. Pada batang dan cabang tumbuhnya tegak lurus dengan susunan daun berselang-seling. Robusta relatif tahan penyakit karat daun. Tanaman kopi robusta berbunga pada umur 2 tahun.

Bunga biasanya mekar pada awal musim kemarau. Berbeda dengan arabika, bunga kopi robusta melakukan penyerbukan secara silang. Buah yang masih muda berwarna hijau seperti biji kopi pada umunya, setelah masak berubah menjadi merah. Meski matang penuh, buah kopi robusta menempel kuat pada tangkainya.

Kondisi jalan menuju Desa Tepal, Kecamatan Batulenteh, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.
Kondisi jalan menuju Desa Tepal, Kecamatan Batulenteh, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat.

Semimodern
Jangka waktu dari berbunga hingga buah siap panen berkisar 10—11 bulan. Tanaman kopi robusta memiliki perakaran yang dangkal. Oleh karena itu membutuhkan tanah yang subur dan kaya kandungan organik dan sensitif terhadap kekeringan. Adapun karakteristik tanaman kopi arabika memiliki struktur yang pendek menyerupai tanaman perdu dengan ketinggian 2—3 meter.

Batangnya berdiri tegak dengan bentuk membulat dan percabangannya banyak. Warna daun kopi arabika hijau mengilap dengan daun yang telah tua berwarna hijau gelap. Bentuk daun memanjang atau lonjong dengan ujung daun meruncing. Pangkal daun tumpul dan memiliki tangkai yang pendek. Struktur tulang daun menyirip. Kopi arabika berbunga setelah musim hujan.

Dari bentuk kuncup hingga menjadi buah yang siap panen membutuhkan waktu 8—11 bulan. Bentuk buah kopi arabika bulat seperti telur, dengan warna buah hijau pada saat masih muda dan berubah menjadi merah terang saat matang. Buah kopi arabika yang matang cenderung mudah rontok.

Oleh karena itu petani Tepal selalu memanennya dengan segera saat buah kopi arabika memerah atau menghamparkan terpal di bawah pohon kopi untuk mencegah buah jatuh ke tanah langsung. Buah kopi yang jatuh ke tanah berbau kurang sedap sehingga mutu kopinya pun turun. Pohon kopi arabika lebih tahan kondisi kering.

Pengolahan kopi Tepal secara bertahap sejak penyortiran manual untuk memisahkan biji kopi muda dan matang. Para petani lantas menjemur biji kopi matang tanpa kulit selama 2—3 hari. Mereka mengemas biji kopi kering dalam karung goni dan menyimpan di tempat kering. Lama penyimpanan sepekan hingga berbulan-bulan untuk menurunkan kadar kafeina dalam kopi.

Setelah itu barulah mereka menjual kopi ke pasar di Sumbawa atau Mataram. Ada pula yang menyangrai kopi di atas wajan berpasir hingga berwarna cokelat kehitaman. Ia lalu menepung biji kopi hasil sangrai menggunakan alat penepung untuk konsumsi pribadi maupun dipasarkan. Harga jual kopi serbuk lebih tinggi dibandingkan biji kopi kering. (Riksa Prayogi Widyaprawira, dosen Universitas Teknologi Sumbawa)

 

Previous articlePara Pencinta Kopi
Next articleTumpangsari Kopi Nilam
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img