Pasien skleroderma mengalami pengerasan kulit. Konsumsi ekstrak ceplukan membantu mengembalikan elastisitas kulit.
Trubus — Nama penyakit ini: skleroderma atau sklerosis sistemik jarang terdengar. Dampak penyakit itu kulit menebal dan mengeras. Celakanya penebalan dan pengerasan itu juga bisa terjadi pada organ dalam tubuh seperti timbulnya jaringan parut pada paru-paru atau ginjal. Menurut Dr. dr. Sumartini Dewi, Sp.PD-KR, M.Kes, FINASIM, kondisi itu terjadi saat sistem imunitas tubuh menyerang tubuh sendiri, yakni pembentukan jaringan ikat yang berlebihan menggantikan jaringan elastis.
Doktor alumnus Universitas Indonesia itu mengatakan, sklerosis sistemik merupakan penyakit autoimun akibat sistem imun menyerang tubuh sendiri. Sklerosis sistemik merupakan penyakit autoimun terbesar ketiga setelah lupus lupus dan rheumatoid arthritis atau radang sendi. Penyakit autoimun itu mengakibatkan penumpukan jaringan kolagen pada kulit dan organ dalam. Kulit dan organ dalam bisa menjadi keras dan kaku sehingga sulit untuk bergerak.
Kembali elastis

Sumartini Dewi mengatakan, sklerosis sistemik lebih banyak menyerang perempuan berumur 30—50 tahun. Penyebabnya adalah sistem pertahanan tubuh yang menyerang tubuh itu sendiri. Gejala penyakit itu berupa penebalan dan pengerasan kulit. Organ dalam akibat penumpukan jaringan kolagen dan gangguan fungsi organ yang terkena. Adapun pencegahan dengan perbaikan gaya hidup seperti olahraga di luar ruangan agar terpapar sinar matahari, menghindari makanan instan, dan konsumsi makanan sehat.
Dewi mengatakan, penyakit sklerosis sistemik tidak menular. Para dokter mengatasi gangguan kesehatan itu dengan senyawa steroid. Sayangnya, konsumsi obat steroid itu berefek samping moon face alias berawajah bak rembulan. Itu akibat pembengkakan di area pipi secara bertahap hingga mengakibatkan endapan cairan di dalam tubuh. Sumartini Dewi berhasil membuktikan ceplukan memperbaiki kondisi sklerosis sistemik.
Dewi menuturkan, “Riset ini terinspirasi dari penelitian mahasiswa UGM yang meneliti ceplukan berkhasiat untuk melawan sel kanker payudara pada riset skala laboratorium.” Kepala Divisi Reumatologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam Universitas Padjadjaran itu meneliti manfaat ekstrak ceplukan. Riset melibatkan 59 penderita sklerosis. Sebanyak 29 orang mengonsumsi ekstrak ceplukan Physalis angulata dalam bentuk kapsul sebagai terapi ajuvan.
Terapi ajuvan berarti konsumsi kapsul ekstrak ceplukan sebagai terapi pendamping pengobatan dengan resep dokter. Dosis konsumsi kapsul ceplukan 250 mg. Adapun frekuensi konsumsi 3 kali per hari. Sementara itu 30 orang lainnya mengonsumsi kapsul plasebo dan obat standar. Penelitian berlangsung selama 12 pekan yang menunjukkan perbaikan kelainan fibrosis kulit pada kelompok konsumsi ekstrak ceplukan.
Permukaan kulit yang mengeras mulai berangsur kembali normal dan elastis. Berdasarkan metode pengukuran Modified Rodnan’s Skin Score (MRSS), kelompok uji mengalami perbaikan 35,9%. Perbaikan amat signifikan bila dibandingkan dengan kelompok tanpa perlakuan hanya 6,3%. Hasil pengujian di Laboratorium Penelitan dan Pengujian Terpadu Universitas Gadjah Mada menunjukkan, ceplukan mengandung senyawa sekosteroid.
Selain itu ceplukan juga mengandung senyawa tanin, fenol, saponin, dan alkaloid. Menurut Dewi riset tanaman famili Solanaceae itu mengandung total fenol terbanyak. “Komponen fenol memiliki aktivitas antioksidan, imunosupresan melalui reaksi biokimia intraselular,” kata Kepala Pusat Studi Imunologi, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran itu.
Ceplukan Sahabat Kulit

Herbalis di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, Yayuk Ambarwulan, kerap meresepkan ceplukan kepada pasiennya yang memiliki keluhan kulit. “Pasien biasanya datang dengan kelainan kulit seperti ruam, bercak putih karena pengaruh pigmen, gatal-gatal, bisul yang sudah memerah dan berisi nanah,” kata Yayuk. Ia meresepkan ceplukan, pegagan Centella asiatica, temulawak Curcuma xanthorriza, dan rumput mutiara Hedyotis corymbosa.
Yayuk meresepkan ceplukan tidak pada seluruh orang dengan kelainan kulit, tetapi khusus terhadap gangguan tertentu seperti gangguan urinasi, gangguan gula darah atau diabetes mellitus, dan gangguan fungsi kelenjar tertentu seperti timus. Ia menyiapkan kapsul ceplukan. Satu kapsul setara dengan 1.500—2.000 mg kandungan ceplukan kering. Dosis konsumsi setiap pasien berbeda tergantung keparahan dan progres proses pengobatan dan perkembangan penyakit pasien.
Bagian tanaman yang dikeringkan tergantung kondisi dan ketersediaan tanaman. Bila tanaman dalam kondisi segar dan sehat, ia memanfaatkan seluruh bagian tanaman kecuali akar. Namun, pada kondisi tertentu cukup daun muda dan buah bahkan terkadang hanya buahnya. Menurut Yayuk orang dengan keluhan gangguan kulit harus menerapkan pola hidup sehat. Sumber protein lebih baik berupa daging rendah lemak seperti daging sapi, kerbau, atau rusa. Olahan makanan yang menggunakan minyak zaitun dengan tambahan serat dari brokoli, kale, atau selada. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)
