Monday, November 28, 2022

Laba Besar Jahe Gajah

Rekomendasi
Kualitas jahe gajah Indonesia diakui dunia
Kualitas jahe gajah Indonesia diakui dunia

Permintaan jahe gajah kian meningkat. Perwakilan importir datang langsung ke sentra jahe.

Selama lima kali panen hingga Juni 2014 Budi Pangestu menuai 1.000 ton rimpang jahe gajah dari 30 ha lahan. Pekebun di Desa Wringinanom, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, itu langsung menjual ke pengepul Rp6.000 per kg dengan sistem panen sepekan sekali. Setiap panen Budi memperoleh 200 ton sehingga jumlah total baru 1.000 ton. “Di dalam masih banyak, panen bakal sampai 20 kali karena menanamnya juga 20 tahap,” tutur ayah 2 anak itu.

Dengan asumsi setiap panen memperoleh 200 ton, maka ia menuai total 4.000 ton dari 20 kali panen. Jika harga beli pengepul ajek pada kisaran Rp6.000 per kg, omzet wiraswastawan asal Malang, Jawa Timur, itu bakal mencapai Rp24-miliar. Menurut Budi biaya bibit, penanaman, dan perawatan Rp9,8-miliar. Laba bersih dari perniagaan jahe itu Rp14,2-miliar dalam 11 bulan. Dengan kata lain, setiap bulan jahe “menggaji” Budi Rp1,29-miliar.

Musim dingin di Cina membuka pasar jahe gajah tanahair
Musim dingin di Cina membuka pasar jahe gajah tanahair

Permintaan melambung
Produksi jahe di kebun Budi Pangestu menjulang tinggi karena penerapan budidaya intensif (baca: “Panen Berlipat Dua”, Trubus edisi Januari 2014). Pria 47 tahun itu menanam Zingiber officinale di lahan 200 ha secara bertahap dengan interval sepekan. Oleh karena itu ia juga 20 kali panen. Pengepul membeli jahe gajah dan menjualnya di pasar tradisional, industri makanan rumahan, dan eksportir.

Pebisnis jahe di Jakarta, Darul Mahbar, menerima permintaan fantastis dari pembeli asal Korea Selatan dan Amerika Serikat. Sayang, ia tidak mampu memenuhinya. “Masing-masing minta kiriman 80 ton jahe segar per bulan sehingga mereka berdua saja totalnya 160 ton. Pembeli baru yang tidak kebagian pun menaikkan harga,” tutur Darul. Jika itu terjadi, pembeli bakal perang harga. Dampaknya harga di tingkat pekebun pun ikut terkerek.

Menurut Dewi Sita—nama disamarkan atas permintaannya—pengepul hasil rimpang di Jawa Barat, permintaan ekspor nyaris tak terbatas. “Mulai dari negara Eropa, Amerika Serikat, Asia timur, sampai Asia selatan seperti Srilanka atau Bangladesh pun meminta pasokan,” tutur Dewi. Tingginya permintaan membuat importir dari Asia selatan dan Asia timur mengirimkan perwakilan langsung untuk turun ke kebun pada Agustus 2014.

Siasat panen berlipat, perpanjang masa berbudaya
Siasat panen berlipat, perpanjang masa berbudaya

Mereka bukan sekadar berlenggang-kangkung, tetapi membawa uang tunai penuh untuk bertransaksi langsung dengan para pekebun. Efeknya harga di kebun beringsut naik menjadi Rp9.000—Rp10.000 per kg. Itu membuat pengepul dan eksportir pening menentukan harga jual kepada pembeli di negara tujuan. Terlalu mahal tidak laku, terlalu murah tidak mendatangkan laba.

Aral
Betapa menggiurkan laba berniaga rimpang jahe. Namun, beragam aral menghadang pekebun. Maklum, penyakit layu bakteri akibat cendawan Ralstonia sp momok tanaman anggota famili Zingiberaceae itu. Serangan layu bakteri itu yang membuat Sunarno, petani di Desa Regunung, Kecamatan Tengaran, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah, rugi Rp12-juta pada 2010. Saat itu, Sunarno hanya memperoleh 6 ton dari sehektar lahan yang ia tanami jahe 11 bulan sebelumnya.

Mestinya ia bisa memperoleh minimal 10 ton jahe per ha. Sudah begitu, harga justru terpuruk menjadi Rp3.000 per kg sehingga omzetnya hanya Rp18-juta. Padahal ketika tanam, ia membeli bibit seharga Rp37.000 per kg. Plus biaya tanam, pupuk, dan perawatan, modal yang ia keluarkan mencapai Rp30-juta. Kebutuhan bibit mencapai 1.000-2.000 kg per ha. Akhirnya Sunarno memilih berpaling kepada tanaman rimpang lain seperti kunyit, temulawak, atau kapulaga yang harga jualnya stabil dan tidak banyak menuntut perawatan.

Menurut Jarkoni, pengepul hasil bumi di Tengaran, Semarang, jahe gajah tergolong komoditas rimpang dengan fluktuasi harga fantastis. “Pada akhir 2011—awal 2012, permintaan ekspor melejit sehingga harga mencapai Rp40.000 di kebun. Efeknya pencurian marak sehingga petani bergantian menjaga tanaman,” tutur Jarkoni. Keruan saja harga itu mendorong petani berlomba memperluas penanaman kerabat kunyit Curcuma longa itu. Akibatnya pada pertengahan 2012, terjadi panen raya yang menyebabkan pasokan berlebih. Harga pun terpuruk hingga Rp3.000 per kg.

Beragam olahan perluas pasar jahe
Beragam olahan perluas pasar jahe

Meski demikian, petani bisa mengikuti jejak Budi Pangestu yang meraup laba fantastis dari jahe. Menurut Darul, kuncinya membaca pasar internasional. “Jika petani bisa panen ketika Cina dan India mengalami musim dingin, harga pasti tinggi,” tutur alumnus Jurusan Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang itu. Saat itu pasokan dari kedua negara itu tersendat. Padahal pembeli mancanegara justru banyak yang mencari jahe untuk produksi olahan penghangat tubuh. Peluang meraup laba dari jahe gajah pun terbuka lebar.

Sistem ijon
Dewi terakhir kali mengirim 1 kontainer—setara 26 ton jahe gajah kering—ke Bangladesh pada Juni 2014. Ketika itu harga di tingkat petani Rp5.000—Rp6.000 per kg segar. Sekilogram kering berasal dari 5 kg segar. “Sekarang petani tahu harga sehingga mereka agak jual mahal. Apalagi komunikasi semakin mudah, tinggal ambil ponsel atau melalui media sosial,” ujar Dewi. Harga di kebun yang mencapai Rp9.000 per kg membuat ia pikir-pikir untuk mengekspor lagi.

Pasalnya, ia berhadapan dengan pembeli mancanegara yang berani mengijon rimpang dengan harga tinggi. “Hampir semua mitra pengepul di daerah mengeluh tidak kebagian barang karena rimpang di dalam tanah pun sudah dibeli orang,” tutur Dewi. Keruan saja modal yang terbatas membuat ia memilih menahan langkah. Saat Trubus menghubungi Dewi pada pertengahan Agustus 2014, ia tengah mempersiapkan perjalanan ke sentra jahe di Jawa Barat dengan mitra bisnis asal Bangladesh.

Budi Pangestu (ketiga dari kiri), sukses meraup laba dari jahe gajah
Budi Pangestu (ketiga dari kiri), sukses meraup laba dari jahe gajah

Tujuan perjalanan ke sentra untuk mencari pengepul atau pekebun untuk mengamankan pasokan. Mengapa pembeli mancanegara keranjingan jahe gajah tanahair? “Menurut pembeli, pedas, dan harumnya beda dengan pasokan asal negara lain,” ujar Dewi. Maklum, Indonesia bukan satu-satunya negara eksportir jahe di dunia. India dan Cina bersaing memperebutkan posisi pertama, sementara di bawahnya ada Ethiopia, Nigeria, dan Vietnam.

Sayang, produksi yang berfluktuasi menjadikan Indonesia tidak masuk hitungan. Menurut Darul, eksportir di Asia selatan membeli jahe tanahair sekadar untuk menutupi kekurangan produksi mereka sendiri. Tata niaga menjadi panjang sehingga harga di tingkat petani tertekan. Pengalaman Budi, harga di kebun pernah jatuh hingga Rp3.000 per kg pada Juni 2012. Padahal, tahun sebelumnya, ia membeli bibit dengan harga lebih dari Rp5.000 per kg.

“Kalau harganya masih tetap Rp5.000 per kg saja pasti saya jual. Ini malah hanya Rp3.000 per kg, kalau nekat panen saya rugi,” kata pria kelahiran 48 tahun lalu itu. Alih-alih memanen, akhirnya Budi membumbun kembali rimpang Zingiber officinale itu. Ternyata itu justru membawa berkah: ia memperoleh 250 ton rimpang per ha ketika memanen pada pertengahan 2013. Hasilnya ia memperoleh harga rata-rata Rp13.760 per kg. Jahe memang panas menyegarkan. Panas ketika harga anjlok, menyegarkan ketika laba berlipat-lipat. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Kartika Restu Susilo)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img