Friday, December 2, 2022

Terus Terang Karena Sampah

Rekomendasi
Biogas asal sampah menggerakkan generator gas TPSA Bantargebang
Biogas asal sampah menggerakkan generator gas TPSA Bantargebang

Sampah organik menghasil-kan listrik 8-juta watt.

Perlu 150 truk untuk mengangkut 600 ton sampah Jakarta setiap hari. Sampah sebanyak itu berakhir di tempat pembuangan sampah terpadu (TPST) Bantargebang, Kabupaten Bekasi, Provinsi Jawa Barat. Jika semula sampah-sampah itu menimbulkan masalah, kini justru mendatangkan berkah. Betapa tidak bermula dari sampah-sampah itu hampir 9.000 rumah terang-benderang. PT Navigat Organik Energi Indonesia mengolah sampah itu menjadi listrik yang menerangi ribuan rumah.

Perusahaan itu mengolah sampah dengan sistem galfad—akronim gasification, landfill gas, and anaerobic digestion. Petugas memilah sampah padat, kering, dan basah. Biasanya pemulung mengambil sampah padat antara lain kaca, kayu, dan logam serta menjualnya ke perusahaan daur ulang. Perusahaan itu menghancurkan sampah kering seperti plastik, kertas, atau kain dengan gasifikasi pirolisis. Adapun sampah basah atau bahan organik seperti sayuran, buah, daun, atau ranting diuraikan dengan sanitary landfill.

Pengiriman jarak jauh menyebabkan 30% jeruk rusak sehingga menjadi sampah
Pengiriman jarak jauh menyebabkan 30% jeruk rusak sehingga menjadi sampah

Mengurung metana
Sanitary landfill sistem pengolahan sampah termaju. Menurut Manajer Teknik PT Navigat Organik Energi Indonesia, Bobby Roring, “Dulu pembuangan sampah menggunakan sistem open dumping, sampah hanya ditumpuk mirip bukit. Setelah penuh, perlu lahan baru untuk membuat bukit lagi, begitu seterusnya,” tutur Bobby. Efeknya, sampah mengundang kerumunan lalat dan menjadi sarang tikus. Air lindi meresap ke tanah dan mencemari air tanah sehingga tidak layak dikonsumsi.

Yang paling parah, gas metana hasil pembusukan terbang bebas ke atmosfer menyebabkan pemanasan global. Itu sebabnya lahir teknologi pengolahan sampah dengan sistem controlled landfill dan sanitary landfill. Prinsip kedua cara itu sama: memadatkan sampah, “mengurung” metana dan karbondioksida hasil pembusukan, serta menangkap lindi sehingga tidak mencemari air tanah.
“Tujuannya menghemat tempat dan mencegah pencemaran,” kata Bobby. Tanpa pengolahan, lahan tempat pembuangan sampah akhir seluas berapa pun lama-kelamaan penuh.

Dari semua gas hasil penguraian sampah, yang bisa menjadi bahan bakar hanya metana, hidrogen, dan karbon monoksida. Gas-gas lain seperti karbondioksida, hidrogen sulfida, atau air, justru mengganggu kinerja generator. Oleh karena itu sebelum masuk generator, biogas melewati penyaring. Biogas tanpa pengotor itu memasuki generator gas lalu dibakar menjadi energi gerak yang memutar pembangkit listrik.

Kompos hasil pengolahan sampah TPSA Bantargebang
Kompos hasil pengolahan sampah TPSA Bantargebang

Biogas berasal dari penguraian sampah organik seperti sisa makanan, bagian tumbuhan, atau kertas. Menurut Ir Wiharja, periset biogas di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Jakarta, biogas sejatinya produk sampingan mikrob. “Mikrob menguraikan sampah untuk memperoleh energi dan melepaskan sisa metabolisme sebagai metana,” ujar Wiharja.

Enam generator
Proses pengolahan sampah kering dan basah itulah yang menghasilkan energi. Pirolisis sampah kering menghasilkan energi panas yang disalurkan ke boiler uap untuk menggerakkan generator pembangkit listrik. Metana tergolong bahan bakar gas yang sangat mudah terbakar. Itu sebabnya biogas mampu menggerakkan generator gas, yang lazimnya berbahan bakar gas alam maupun gas cair (LPG) yang berbahan dasar propana atau butana.

Instalasi pipa dalam timbunan sampah menangkap gas-gas itu lalu menyalurkan ke rumah daya (power house). Gas-gas itu menjadi bahan bakar generator yang lantas membangkitkan listrik. Menurut Bobby Roring, biogas mampu menjalankan 6 unit generator gas berkapasitas 1—2 megawatt (MW) selama 24 jam sehari dan 7 hari sepekan. Biogas itulah yang memasok energi listrik ke hampir 9.000 rumah. Kapasitas terpasang mencapai 8-juta watt alias 8 MW.

TPST Bantargebang memanfaatkan “listrik sampah” itu untuk penerangan dan proses-proses lain di TPST Bantargebang. Pemanfaatan biogas asal sampah membuat mereka tidak lagi bergantung kepada pasokan dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Sudah begitu, kelebihan produksi listrik itu mereka jual kepada PLN sehingga mendapat pemasukan.

Kolam penetral lindi TPA Banyuurip
Kolam penetral lindi TPA Banyuurip

Rumah tangga
Nun di Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tempat pembuangan sampah akhir (TPA) Banyuurip juga mengolah sampah menjadi biogas. Bedanya, mereka menggunakan lindi yang mengalir dari timbunan sampah sebagai bahan baku biogas. Sampah organik diuraikan dengan proses controlled landfill. Menurut Rudi Siswanto, kepala Unit TPA Banyuurip, sampah bahan biogas harus sampah yang berasal dari tumbuhan. “Hanya daun-daun dari penyapu jalan dan ranting sisa pemangkasan pohon peneduh,” ujar Rudi.

Lindi mengalir ke kolam berukuran 4 m x 13 m sedalam 2 m yang tersekat menjadi 7 bagian. Bagian pertama hingga ketiga sebagai kolam penetral berukuran masing-masing 1,25 m x 5 m. Sementara bagian 4—7 berfungsi sebagai penampung berukuran 1,25 m x 4 m. Sebuah pompa menyedot lindi dari kolam bagian pertama ke digester berkapasitas 1.000 l yang berjarak 5 m dari kolam. Untuk mempercepat pembentukan biogas, petugas menambahkan kotoran sapi segar ketika mengisi digester setiap 2 pekan.

Sumiyati hemat Elpiji dengan biogas dari TPA Banyuurip
Sumiyati hemat Elpiji dengan biogas dari TPA Banyuurip

Menurut Rohadi Sumilih dari unit biogas TPA, biogas mulai mengalir 2 pekan setelah pengisian. Biogas mengalir ke rumah daya dan ditampung dalam 2 plastik bervolume masing-masing 2 m3. Biogas itulah yang menggerakkan generator berkekuatan 2.200 watt. Listrik sampah itu menjadi andalan untuk menerangi kompleks TPA pada malam hari. Selain itu, biogas juga mengalir ke 3 rumah di dekat TPA untuk keperluan memasak.

Bagi Sumiyati, warga sekitar TPA Banyuurip kehadiran biogas sangat berarti. Sebelumnya, ia menghabiskan 3 kg gas Elpiji setiap 12 hari. Setelah memanfaatkan biogas, ia hanya perlu membeli Elpiji sekali setiap bulan. Menurut Rudi, jumlah rumah tangga pengguna biogas akan ditingkatkan menjadi 40 rumah tangga pada akhir 2014. Pasalnya, ketika itu jumlah digester biogas di tempat pembuangan sampah akhir seluas 6,8 ha itu ditambah dari 2 unit menjadi 5 unit.

Sebelum menghasilkan biogas pada 2013, pengolahan sampah di TPA Banyuurip menghasilkan kompos sejak 2012. Kompos diproses dalam ruangan khusus yang berisi 15 kotak fermentasi berukuran 1 m x 2 m x 1 m. Untuk mempercepat proses, petugas menangkupkan plastik. Setiap 2 hari petugas membalik dan mengaduk campuran. Dua minggu berselang, kompos siap digunakan. Dengan cara itu, sampah tidak lagi menjadi masalah, justru mendatangkan manfaat. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Kartika Restu Susilo)

 

Previous articleLaba Besar Jahe Gajah
Next articlePara Penarik Kail
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tips Mengatur Pola Pakan Tepat untuk Kuda

Trubus.id — Berbeda dengan sapi, kuda termasuk hewan herbivora yang hanya mempunyai satu lambung (monogastrik) sehingga kuda sangat membutuhkan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img