Sunday, January 25, 2026

Lada: Produktif di Lahan Marginal

Rekomendasi
- Advertisement -
Lada potensi yang sangat menjanjikan.
Lada potensi yang sangat menjanjikan.

Budidaya lada di lahan margjinal dengan produksi menjulang.

Bertahun-tahun hanya ilalang setinggi pinggang yang tumbuh di ladang itu. Nurjaya membeli lahan bertopografi tidak rata itu. Sumber air terdekat berjarak 2—3 km dari lokasi. Petani di Desa Sindangkerta, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, itu membersihkan ilalang, menanam bibit akasia, jati, jabon, dan albasia berjarak tanam 4 m x 4 m menjelang musim hujan.

Keempat kayu itu bernilai ekonomi tinggi dan memiliki naungan yang cukup lebar. Naungan? Nurjaya memang bermaksud menanam lada di bawah tegakan. “Lada tidak tahan sinar matahari penuh. Naungan melindungi daun muda dari paparan sinar langsung sehingga cepat menumbuhkan cabang dan sulur,” kata alumnus Fakultas Pertanian Universitas Bandung Raya itu. Ia memilih Piper ningrum karena tahan kekeringan dan bernilai ekonomi tinggi. Menurut peneliti lada dari Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Provinsi Bangka Belitung, Issukandarsyah, lada membutuhkan lahan subur, berhumus tinggi, drainase baik, dan bukan lahan marginal seperti milik Nurjaya.

Cabang primer
Budidaya lada di lahan marginal membutuhkan penambahan bahan organik. Issukandarsyah menyarankan penambahan pupuk kandang di lubang tanam dan NPK untuk perangsang pertumbuhan. Selain itu penggunaan mulsa yang berasal dari seresah atau limbah perkebunan dapat membuat mikro klimat atau kelembapan tanah menjadi lebih baik.

Nurjaya membibitkan lada dengan setek batang. Menurut Nurjaya setekan lada yang terbaik diambil dari cabang primer karena produktivitasnya tinggi. “Kalau dari cabang sekunder menghasilkan lada dengan produktivitas yang rendah, sedangkan cabang tersier membentuk perdu yang tidak dapat memanjat,” ujar pria berusia 44 tahun itu. Nurjaya merekomendasikan penanaman lada menggunakan tegakan hidup agar pertumbuhan tunas dan tanaman lada muda lebih baik.

Menurut pria kelahiran 1971 itu idealnya batang primer itu berada satu meter dari permukaan tanah. Ia memotong setek sepanjang 30—40 cm dan menanamnya sepanjang 5 cm. Penyiapan bibit lada saat tegakan berumur 6 bulan. Pembibitan lada selama 6 bulan baru siap tanam di lahan. Artinya ketika penanaman lada, umur tegakan setahun dengan besar batang sebesar ibu jari kaki atau berdiameter 5 cm, tinggi 2—3 m, dan tajuknya cukup meneduhi area di bawahnya. Itu untuk mengurangi intensitas matahari demi mencegah evaporasi atau penguapan berlebih.

Tanaman berumur 3 tahun sudah mulai menghasilkan buah.
Tanaman berumur 3 tahun sudah mulai menghasilkan buah.

Sistem bokor
Nurjaya menanami lada di bawah tegakan. Ia membuat parit mengelilingi batang pohon, persis selebar tajuk tanaman. Di Cianjur sistem budidaya itu sohor dengan sebutan bokor. Tanah hasil galian kemudian untuk membumbun tanaman tegakan. Nurjaya lantas menanam bibit lada berumur 6 bulan berjarak 50 cm dari tegakan. Penanaman pada musim hujan untuk mencukupi kebutuhan air tanaman.

Menurut Issukandarsyah penanaman lada yang baik adalah pada awal musim hujan. Sebab, lada membutuhkan air yang cukup banyak pada awal masa tanam. Ketika memasuki musim kemarau berikutnya, lada cukup kokoh dan mampu bertahan pada kondisi sedikit air. Penanaman sistem bokor memang ideal agar pupuk tidak tergerus erosi atau berpindah tempat. Setiap tegakan terdiri atas 4 batang bibit agar tidak terlalu dekat dengan tegakan.

Dengan jarak tanam 4 m x 4 m maka populasi tegakan mencapai 625 pohon. Artinya populasi lada 2.500 tanaman per ha. Penanaman sistem bokor mencegah persaingan antara tegakan dan lada untuk mendapatkan unsur hara dalam tanah. Ia menggunakan campuran 2 bagian tanah, dan 1 bagian pupuk kandang sebagai media tanam. Selain itu ia menambahkan 2 kg NPK, 200—300 gram insektisida, 2 kg kalsium kaftan di setiap 100 kg campuran media tanam itu.

Nurjaya mencampur rata, membiarkan sepekan, dan memanfaatkan sebagai media tanam. Setelah menanam bibit, Nurjaya memberikan pupuk kandang 2—4 kg per tegakan. Selain itu ia juga memberikan 100—300 g NPK per pohon tegakan. Nurjaya memupuk dan menyiangi 2 kali setahun, saat masuk musim hujan dan masuk musim kemarau. Ayah 2 anak itu menggunakan 1—2 kg pupuk kandang per rumpun dengan teknik bumbun.

Teknik bokoran dan bumbunan dapat digunakan pada budidaya lada di lahan marginal
Teknik bokoran dan bumbunan dapat digunakan pada budidaya lada di lahan marginal

Air cukup
Penyiangan untuk membersihkan rumput atau ilalang yang tumbuh, agar tidak mengganggu pertumbuhan lada. Saat kemarau panjang daun menguning, bahkan ada yang rontok, sehingga berakibat panen anjlok. Anan, pekebun lada mitra Nurjaya, menghadapi kendala itu. Hampir 25% lada atau sekitar 1000 tanaman muda berumur 6 bulan mati karena kekurangan air.

Lahan Anan sejatinya dekat sungai, sehingga ia masih menyelamatkan tanaman lain dengan penyiraman 2 hari sekali. Namun Anan tidak mampu menyiram seluruh tanaman lada miliknya di lahan 4 ha. Tanaman mulai berbunga pada umur 2 tahun atau tahun ketiga pascatanam. Namun, Nurjaya merompes bunga itu agar pembentukan percabangan tidak terganggu. Pada tahun keempat, tanaman mulai menghasilkan buah yang seragam, sekitar 60—80 gram per tanaman.

Nurjaya panen perdana ketika tanaman berumur 4 tahun. Dari 6 ha lahan miliknya, baru 1 ha yang berproduksi karena penanaman secara bertahap setiap tahun. Itu pun belum semua tanaman menghasilkan. Menurut Nurjaya pada panen perdana baru 3.000 tanaman yang berproduksi. Panen ketika dalam satu tangkai terdapat 30—40 % bulir yang berwarna merah. Saat panen perdana Nurjaya memetik 50 kg lada kering.

Pada Juli 2015 ia panen kedua yang menghasilkan 150 kg kering. Satu kilogram kering berasal dari 5—6 kg segar. Artinya produktivitas lada di kebun Nurjaya setara 900 kg segar. Produksi itu termasuk tinggi jika dibandingkan dengan produksi rata-rata lada nasional yang hanya 800 kg kering per ha. Apalagi Nurjaya menanam lada di lahan marginal yang miskin hara. Dengan budidaya intensif ia mampu panen besar.

Menurut Dr Ir Sukamto MAgrSc, peneliti di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Bogor, sejatinya lada tidak tergolong tanaman yang sensitif lokasi. Perbedaan kualitas, termasuk kadar piperidin, hanya lantaran perbedaan perlakuan.“Banyak pekebun tidak membudidaya sesuai standar budidaya yang baik, misalnya tidak memupuk ulang setelah memanen. Akibatnya produksi musim berikutnya berkurang dan kualitasnya menurun,” tutur kepala Seksi Pelayanan Teknis Balittro itu. (Muhammad Awaluddin)

 

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img