Sunday, August 14, 2022

Bisnis Lada: Bulan Madu Raja Rempah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Penanaman lada di Cianjur mengandalkan tegakan pohon kayu.
Penanaman lada di Cianjur mengandalkan tegakan pohon kayu.

Lada kembali menjadi primadona. Harganya menggiurkan.

Yusuf Purdadi (45) baru selesai memanen lada dari 10.000 tanaman berumur 1—6 tahun di lahan 4 ha. Pekebun di Kecamatan Simpangrimba, Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Bangka Belitung, itu menuai 1 ton. Tanaman anggota famili Piperaceae itu berbuah perdana pada umur 3 tahun dengan produksi rata-rata 60—80 g segar per tanaman. Yusuf kemudian merendam lada dalam air mengalir selama 10 hari.

Perendaman itu mengakibatkan buah terpisah dari tangkai dan kulit merah. Selanjutnya Yusuf menjemur buah lada itu minimal 2 hari sampai benar-benar kering berkadar air kurang dari 10%. Hasilnya adalah butiran-butiran lada putih. Setelah kering sempurna, Yusuf memperoleh 200 kg lada putih. Pengepul memborongnya Rp180.000 per kg sehingga omzet Yusuf Rp36-juta. Yusuf mengatakan biaya produksi per tanaman lada sampai umur 3 tahun mencapai Rp150.000. Setelah itu biaya menyusut karena pekebun tinggal melakukan pemupukan dan pemanenan.

Harga tinggi
Setelah panen dan mengeringkan buah lada, Yusuf tidak perlu menjajakan buah pedas itu. “Pembeli banyak berebutan seperti membeli kacang goreng. Apalagi mereka tahu kualitas lada asal Bangka,” kata ayah 2 anak itu. Termasuk pembeli asal Malaysia dan Singapura.

Tanaman mulai berbuah di tahun keempat penanaman atau berumur 3 tahun.
Tanaman mulai berbuah di tahun keempat penanaman atau berumur 3 tahun.

Pulau Bangka memang mudah dijangkau langsung dengan kapal maupun pesawat dari kedua negara jiran itu. Lada komoditas andalan Yusuf menangguk laba. Ia menanam Piper nigrum sejak remaja. “Masyarakat Bangka Belitung sejak lama menanam lada sehingga menjadi salah satu tanaman wajib,” kata Yusuf. Harga tinggi sejatinya bukan hanya berlaku di Bangka, tetapi di berbagai sentra seperti Cianjur, Provinsi Jawa Barat, Pringsewu (Lampung), dan Banjarnegara (Jawa Tengah).

Petani di Desa Kertaraharja, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten Cianjur, Anan, memperoleh harga Rp140.000 per kg pada Agustus 2015. Pria berusia 40 tahun itu memperoleh 50 kg kering lada hitam hasil panen dari 3.000 tanaman. Pengepul memborong seluruh hasil panennya Rp140.000 per kg sehingga omzet ayah 3 anak itu Rp7-juta.
Anan baru menanam lada 3 tahun terakhir setelah melihat seorang rekan menanam lada. Ia terus memperluas penanaman sampai luasan total mencapai 6 ha. Pada Agustus—September 2015, ia memperoleh 250 kg buah lada segar atau 50 kg kering.

Petani itu menanam lada dengan memanfaatkan tanaman kayu seperti akasia, sengon, gmelina, dan jabon sebagai tegakan hidup. Saat pohon-pohon itu berumur setahun, ia menancapkan 4 batang setek sepanjang 20—30 cm di sekeliling tanaman kayu. Bagian yang ditancapkan ke dalam tanah sepanjang 10 cm, sisanya di atas tanah. Setelah itu, setekan disiram setiap pagi dan sore hari untuk mempercepat pertumbuhan.

Petani lada kini menikmati harga jual tinggi.
Petani lada kini menikmati harga jual tinggi.

Permintaan meningkat
Menurut pembina Asosiasi Pekebun Lada Purbalingga (Aspalaga), Joko Sagastono, harga lada cenderung melonjak sejak empat tahun terakhir. Ia menyebutkan harga di tingkat pekebun di Purbalingga pada 2012 hanya Rp95.000 per kg. Kemudian harga meroket hingga Rp125.000 pada 2014 dan kini mencapai Rp150.000 per kg. Ia memprediksi harga lada bakal terus meningkat. Sebab, permintaan industri dan pasar lokal terus berkembang. “Pasar ekspor juga besar,” ujar Joko.

Joko Sagastono menyatakan, luas lahan lada di Purbalingga mencapai 700 ha, meliputi Kecamatan Rembang, Pengadegan, dan Kejobong. Umur tanaman rata-rata 10—15 tahun dengan produktivitas 1,25 ton per ha. Pemasaran lada ke daerah tetangga seperti Kabupaten Banjarnegara, Pekalongan, Semarang, dan Surabaya.

Bagian pemasaran PT Ganesha Abaditama, Mulyadi, mengatakan bahwa harga lada kini memang fantastis. “Kondisi harga tinggi sejak November 2014. Harga jual Rp175.000—Rp190.000, harga beli di kebun Rp150.000—Rp170.000,” kata eksportir lada itu. Menurut Mulyadi penyebab kenaikan harga antara lain industri baru yang menggunakan lada bertambah. Selain itu secara umum permintaan lada juga semakin tinggi.

Dunia kuliner menggunakan perisa lada yang berbahan minyak asiri lada. “Bahannya lada juga. Padahal seliter minyak asiri minimal memerlukan sekuintal lada,” tutur Mulyadi. Alih-alih mengurangi permintaan, pemanfaatan minyak justru meningkatkan kebutuhan lada. PT Ganesha Abaditama mengekspor lada melalui pihak ketiga sejak 2012 ke Amerika Serikat dan berbagai negara Eropa. Volume ekspor mencapai 5 ton per 3—5 bulan.

Mulyadi mengandalkan pasokan dari para petani lada di berbagai sentra seperti Bangka dan Makassar. Simpanan lada tidak pernah bertahan lebih dari 5 bulan karena pembeli menanti kiriman setiap saat.

“Permintaan setiap bulan 5 ton, tapi pasokan paling banyak 1 ton. Kami tawarkan kepada pembeli, apakah mereka mau menunggu sampai terkumpul 5 ton atau langsung dikirim meskipun hanya 1 ton,” tutur Mulyadi. Konsekuensinya biaya pengiriman yang mesti ditanggung pembeli meningkat kalau jumlah pengiriman hanya sedikit. Namun, mereka sering tidak punya pilihan karena lada menjadi rebutan. Jika mereka batal, pembeli lain segera mengambil alih.

Aral lain, kadar piperidin bervariasi. Menurut peneliti di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittro), Dr Ir Sukamto MAgrSc, lada tidak tergolong tanaman yang sensitif lokasi. Perbedaan kualitas, termasuk kadar piperidin, lantaran perbedaan perlakuan. “Banyak pekebun tidak membudidaya sesuai standar budidaya yang baik, misalnya tidak memupuk ulang setelah memanen. Akibatnya produksi musim berikutnya berkurang dan kualitasnya menurun,” tutur Sukamto.

Petani di Cianjur mengolah lada segar dengan pengeringan langsung sehingga menjadi lada hitam.
Petani di Cianjur mengolah lada segar dengan pengeringan langsung sehingga menjadi lada hitam.

Jual segar
Bagi calon pekebun sebelum menikmati manisnya laba lada, mereka harus benar-benar mengencangkan ikat pinggang. Pada tahun pertama—ketiga, pekebun harus memberikan 1—2 kg pupuk kandang dan 100—200 g pupuk kimia majemuk per tanaman 3 bulan sekali. Sembari memupuk, pekebun melilitkan tanaman lada ke pohon penegak agar tunas muda memperoleh sinar matahari sehingga pertumbuhan optimal.

Biasanya selewat tahun ketiga, tanaman lada mampu “berpegangan” dengan kuat kepada pohon penegak. Pemasukan mulai mengalir setelah tahun ketiga dan baru mulai menguntungkan pada tahun ketujuh. Saat itulah pekebun bisa merasakan segarnya laba dari lada. Menurut pengepul hasil bumi di Kecamatan Cibinong, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Kuswara Setia Priatna, perkembangan lada menunjukkan tren menggiurkan 3 tahun belakangan.

Ia berencana menerjuni perniagaan buah tanaman kerabat sirih itu. Bekerja sama dengan seorang rekan, Kuswara membeli lada segar dari petani, memproses, lalu menjual kepada pembeli. Hal itu ia lakukan sejak setahun terakhir. “Petani lebih suka menjual segar karena cepat memperoleh uang dan tidak repot menjemur,” kata Kuswara. Namun, hingga kini ayah 2 anak itu masih menyimpan lada hasil olahannya dan belum menjual kepada pembeli. Ia yakin harga masih terus terkerek naik. Pengepul itu berniat melepas komoditas berjuluk king of spices alias raja rempah itu ketika harga lebih tinggi. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Muhammad Awaluddin)

COVER 1234.pdf

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img