Monday, August 8, 2022

Lahir dari Rahim sang Perawan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Alasannya, “Nanti anaknya jadi nakal,” ujar warga Jatinegara, Jakarta Timur, itu menirukan ucapan sang mertua. Setelah mempelajari kandungan minyak kelapa murni dan mencermati kemasan susu itu ia baru mafhum. Ternyata susu itu mengandung asam laurat. Pantas si anak menjadi energik, terus bergerak seolah tak pernah capai, sehingga dianggap nakal.

Asam laurat memang sumber energi yang ampuh. Ia langsung dibakar oleh tubuh dan si anak pun energik. Asam laurat itu hanya salah satu produk turunan minyak kelapa murni yang kini populer sebagai virgin coconut oil (VCO). Kandungan-kandungan VCO itu dipisahkan dengan teknologi fraksionasi alias pemisahan fraksi-fraksi. Intinya penguraian melalui perbedaan titik didih masing-masing komponen penyusun fraksi.

Caranya minyak perawan dimasukkan ke tabung fraksionasi bertekanan 5 mmHg dengan suhu pengumpan 45oC. Supaya proses berjalan, perlu reboiler bersuhu 185oC dan suhu kondensor 67oC. Pada suhu pengumpan 132oC, misalnya, diperoleh asam laurat 81,03% dan asam miristat 18,9%. Ketika suhu dinaikan menjadi 156oC, lahirlah asam miristat dan asam palmitat. Menurut Andi Nur Alam Syah ST MT, peneliti Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, pemanasan tak merusak VCO.

Sebagai gambaran, asam laurat baru akan rusak jika dipanaskan di atas suhu 306oC. Produk derivatif alias turunan VCO semacam itu amat dibutuhkan oleh berbagai industri seperti farmasi, kosmetik, dan pangan. Jika diibaratkan industri-industri itu juru masak, maka tak perlu memborong semua sayuran bila hendak memasak. Cukup memperoleh sayuran tertentu sesuai menu yang hendak dimasak. Jadi bila industri susu hanya membutuhkan asam laurat, untuk apa memborong kandungan VCO lain.

Pemersatu

Mengolah produk turunan VCO jelas meningkatkan nilai tambah. Apalagi Indonesia negara kedua terbesar—setelahFilipina—yang memproduksi minyak kelapa.

Data Asian Pacific Coconut Communiy menyebutkan produksi pada 2000—2001 mencapai 395.019 ton. Selama ini para produsen mengekspor VCO besar-besaran. Artinya yang menikmati nilai tambah dalam perniagaan VCO pihak mancanegara. Sebab, harga jual VCO di pasar internasional hanya US$3—US$5 per liter. Sedangkan produk turunan minyak dara jauh lebih mahal. Contoh harga asam laurat saat ini Rp300.000 per gram. Padahal seliter VCO dapat menghasilkan 49,18% asam laurat.

Produk turunan seperti di atas biasa disebut oleokimia. Batasan sebuah produk disebut oleokimia bila diolah dari bahan alami baik nabati maupun hewani. Lawannya disebut petrokimia yang antara lain diproduksi dari minyak bumi. Oleokimia VCO yang kini dibutuhkan banyak industri antara lain alkohol amida, alkohol asam, asam lemak, dan metil ester. Mereka bermanfaat sebagai surfaktan alias pengikat.

Teknologi untuk menghasilkan alkohol amida atau metil ester berbeda dengan turunan VCO lain seperti asam laurat atau asam kaproat. Alkohol amida diproduksi antara lain melalui teknologi esterifi kasi. Prinsipnya dengan pemindahan atau pemutusan rantai-rantai karbon dengan penambahan zat tertentu seperti pelarut metanol. Hasilnya dapat langsung dimanfaatkan sebagai surfaktan.

Surfaktan itulah yang berperan mempersatukan lemak dan air dalam proses produksi beragam produk seperti sabun, sampo, susu, atau es krim. Sudah takdir bila lemak yang menjadi bahan baku utama sabun dan sampo (40—60%) tak akur dengan air. Selamanya mereka menolak bersatu. Surfaktan itulah yang akan mengikat keduanya ketika memproduksi sabun dan sampo. Beragam industri lain seperti pangan (biskuit, es krim, permen, susu), cat, farmasi, dan kosmetik juga membutuhkan surfaktan untuk mengakurkan perseteruan abadi lemak dan air. Industri pengeboran minyak dan teknologi nuklir pun membutuhkan surfaktan.

Potensi besar

Surfaktan oleokimia jelas mempunyai banyak kelebihan ketimbang petrokimia. Untuk investasi, misalnya, industri oleokimia dapat diterapkan dalam skala kecil dan menengah; petrokimia, harus skala besar atau ratusan miliar rupiah. Keistimewaan lain, surfaktan oleokimia dapat diperbarui dan sebaliknya petrokimia. Selain itu surfaktan oleokimia lebih lengkap. Contoh produk derivatif minyak perawan yang bersifat antivirus dan antikosidan.

Andai produk itu dimanfaatkan sebagai surfaktan pada sabun, produsen tak perlu lagi menambahkan senyawa antivirus. Itu yang tak dapat dijumpai pada surfaktan petrokimia. Oleh karena itu pemanfaatan surfaktan sintetis dalam produksi sabun harus ditambahkan zat antivirus. Ketimbang minyak lain, oleokimia VCO pun lebih unggul lantaran tahan tengik, daya larut bagus, dapat diurai secara biologis, dan lembut di kulit.

Menurut Andi Nur Alam Syah potensi ekspor oleokimia sangat besar. Sebab, ketersediaan minyak kelapa di negara 4 musim amat rendah. Penggunaannya dari tahun ke tahun cenderung meningkat. Pada 1988 dunia membutuhkan 364.000 ton melambung menjadi 581.000 ton pada 1995. Diperkirakan pada 2007 kebutuhannya mencapai 627.000 ton.

Master Kimia alumnus Institut Teknologi Bandung itu mengatakan konsumsi oleokimia Indonesia terus meningkat. Pada 1999 sekitar 20.000 ton dan melambung menjadi 30.000 ton setahun kemudian. Sayang untuk memenuhinya kita mengandalkan impor. Padahal, rahim sang perawan mengandung beragam produk olokimia unggulan. Bantulah untuk melahirkannya. (Sardi Duryatmo)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img