Trubus.id—Penyakit phythophthora mengancam produksi kelapa sawit di Indonesia. Selama keseimbangan ekosistem mikrobiologi tanah terjaga, maka mikroorganisme “jahat’ itu bisa dilawan dengan bakteri yang bermanfaat untuk tanah dan tanaman.
Seiring berjalannya waktu penggunaan bahan kimia untuk pertanian seperti pupuk dan pestisida mengacaukan populasi itu sehingga bakteri “baik” pun semakin melemah.
Tanaman yang terserang phythophthora daunnya bergelombang, kemudian layu, dan dalam hitungan bulan tanaman itu mati. Biasanya lahan yang terserang mikrob jahat itu adalah lahan sawit yang berumur lebih dari 15 tahun.
“Residu dalam herbisida menimbulkan cendawan patogen dalam tanah seperti fusarium, antraknosa,” kata Irwan Margono, praktisi pertanian di Kota Depok, Provinsi Jawa Barat.
Pupuk organik yang mengandung mikroorganisme seperti Azotobacter sp, Azospirilium sp, Mycorrhiza sp, Rhizobium sp, Aspergillus sp, Lactobcillus sp, dan Saccharomyces sp.
Kandungan mineral seperti nitrogen (N), fosfor (P), kalium (K), dan asam amino seperti asparagin, glycine, methionin efektif melawan mikrob patogen dalam tanah.
Pupuk itu bekerja dengan cara meningkatkan populasi mikrob “baik” untuk melawan mikrob patogen yang merugikan tanaman sawit. Selain itu pupuk organik meningkatkan daya tahan tanaman melalui asupan mineral dan asam amino.
Untuk mengatasi phytophthora, larutkan 125 ml pupuk organik cair dengaan 10 liter air bersih. Kemudian buat 4—6 lubang di bawah tajuk dan tuang 0,5 liter larutan ke setiap lubang. Lakukan 10 hari sekali.
Lakukan juga penyemprotan ke daun 3 hari sekali dengan larutan pupuk organik cair dengan konsentrasi 2 ml per liter air. “Setelah 10 kali aplikasi, tanaman sehat kembali,” kata Choon, pengguna pupuk organik di Malaysia. Mikrob-mikrob itu ibarat serdadu pengenyah musuh sawit.
