Saturday, December 3, 2022

Lebih Untung Cangkok Pepaya

Rekomendasi

Mencangkok pepaya untuk menghasilkan tanaman 100% hermafrodit yang menguntungkan petani.

Perbandingan buah hermafrodit (kiri) dengan buah betina (kanan). (Dok. Trubus)

Trubus — Konsumen menggemari buah pepaya berbentuk lonjong. Itu hasil tanaman hermafrodit. Bagi pekebun memiliki tanaman hermafrodit jelas menguntungkan. Sebagai gambaran harga buah pepaya betina di pasaran hanya separuh harga buah pepaya hermafrodit. Sementara itu buah pepaya jantan umumnya tidak dapat dijual. Ada tiga jenis buah pepaya, yakni pepaya betina, pepaya jantan, dan pepaya hermafrodit.

Pepaya betina memiliki bentuk bunga bulat dan menghasilkan buah bulat. Masyarakat menyebut buah pepaya jantan sebagai buah gantung. Itu karena buah tumbuh dari pohon pepaya jantan yang memiliki bunga menggantung. Adapun buah pepaya hermafrodit berbentuk lonjong, hasil pertumbuhan bunga sempurna dari pohon pepaya hermafrodit. “Andai populasinya 100% hermafrodit tentu bisa menyumbang pendapatan lebih banyak ke petani,” kata periset di Balai Penelitian Buah Tropika (Balitbu), Ir. Rebin.

Mencangkok pepaya

Menurut pekebun di Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur, Ir. Mas Soedijono 65% dari total 270 pepaya merah delima di lahan 2.000 m2 miliknya hermafrodit, sisanya pepaya betina. Udi—panggilan akrab Ir. Mas Soedijono—beruntung karena tidak mendapatkan pohon jantan.
Menurut Udi keunggulan pepaya hermafrodit memilik bentuk buah lebih seragam dan tersusun rapat di tanaman, sehingga mudah ketika penyemprotan.Buah hermafrodit pun lebih mudah ditangani ketika panen.

Menurut Udi jika ada cara untuk membuat pepaya 100% hermafrodit, petani akan sangat terbantu. Perbanyakan melalui biji bersifat tidak pasti, bisa saja petani mendapatkan pohon betina, hermafrodit, bahkan jantan yang tidak produktif. Menurut Rebin populasi tanaman pepaya asal biji berkomposisi 20% tanaman betina, 4% tanaman jantan, dan 76% hermafrodit.

Upaya menghasilkan pepaya 100% hermafrodit itu dengan jalan mencangkok. Mencangkok pepaya? Menurut Ir. Rebin, mencangkok pepaya sebetulnya bukan teknik baru. Namun, belum ada yang menggunakan metode itu dalam skala luas. Harap mafhum, mencangkok pepaya membutuhkan tahapan kerja ekstra sehingga tampak rumit dan menghendaki biaya (lihat ilustrasi).

Harap mafhum pekebun harus membeli perlengkapan cangkok, seperti media tanam serbuk sabut kelapa dan air kapur. “Hal itu sepadan dengan keuntungan yang akan diraih. Pekebun akan memanen buah yang 100% berasal dari pohon hermafrodit atau kelamin ganda,” ujar pria yang kini berdomisili di Probolinggo, Jawa Timur itu. Petani pun tidak perlu melakukan sortir buah sesuai jenis kelamin lagi.

Tetap menguntungkan

Bunga sempurna atau hermafrodit berbentuk lonjong. (Dok. Trubus)

Menurut Rebin, biaya tambahan mencangkok pepaya cukup ekonomis. Harga satu karung serbuk sabut kelapa atau cocopeat Rp20.000 cukup untuk 200 cangkokan. Satu tanaman pepaya merah delima menghasilkan 80 buah per tahun. Bobot minimal 1,2 kg per buah. Menurut Asisten Direktur PT New View Glen Falloch, Drs. Bambang Herijanto, MM., menanam pepaya merah delima di lahan 8 hektare di Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur.

Jarak tanam 2,5 m x 2,5 sehingga populasi mencapai 1.600 tanaman per ha. Bambang mengatakan populasi tanaman hermafrodit mencapai 89%, selebihnya 10% tanaman betina dan 1% tanaman jantan. Potensi keuntungan yang diraup dengan menjual buah pepaya hermafrodit merah delima yaitu lebih dari Rp600 juta setiap tahun. Produktivitas delima merah cenderung stabil hingga 4 tahun.

Menurut Rebin tanaman layak cangkok harus memiliki produktivitas tinggi, stabil, dan bentuk buah seragam. Rebin mengatakan, pekebun idealnya mencangkok maksimal 3 cabang di sebuah tanaman produksi. Performa tanaman untuk menghasilkan buah tidak akan menurun jika petani menjaga kebutuhan pupuk dan air tanaman. Petani mendapat bibit dari tanaman yang terjamin hermafrodit. Artinya pada periode tanam berikutnya ada jaminan buah yang dihasilkan semuanya hermafrodit.

Pepaya Kembali Remaja

Pepaya merah delima yang siap dipasarkan. (Dok. Mas Soedijono)

Tanaman yang terlalu tinggi lazimnya tidak berbuah. Periset di Balai Penelitian Buah Tropika (Balitbu) Ir. Rebin, mengatakan pekebun dapat menerapkan kiat untuk mengembalikan produksi tanaman. “Lukai batang utama pada ketinggian 1 m di atas tanah,” kata sarjana pertanian alumnus Universitas Pancamarga Probolinggo itu. Setelah tunas mulai mencuat di bekas luka, potong bagian cabang tepat di atas luka itu.

Kini tanaman menjadi rendah dan produktif kembali. Tunas yang tumbuh bisa jadi lebih dari 1 sehingga cabang produktif pun bertambah. Namun,pekebun tak perlu memangkasnya, karena ukuran buah akan tetap sama dan justru lebih menguntungkan petani. Prosedur itu dapat diulang tiap 4 tahun selama akar masih terlihat sehat dan kuat. Cara lain bisa juga meremajakan pepaya merah delima setelah 8 tahun. (Tamara Yunike)

Previous articleInovasi untuk Negeri
Next articleBuah Awet 12 Hari
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Alasan UGM Mendorong Konversi LPG ke Kompor Listrik

Trubus.id — Ketergantungan penggunaan kompor gas LPG terus meningkat. Itu yang menjadi salah satu alasan Pusat Studi Energi (PSE)...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img