Saturday, January 24, 2026

Lereng Gunung Marapi Menyimpan Markisa Unggul

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id – Sepintas, penampilan markisa berbobot 80 gram itu tak ada yang istimewa. Namun, cobalah mencicipi bagian dalam buahnya yang dihuni puluhan biji dan cairan putih yang manis. Ulala. Tingkat kemanisannya tembus 16,5–17,7° brix.

Itulah markisa konyal bukik batabuah asal lereng Gunung Marapi, Sumatera Barat. Tingkat kemanisannya terbilang tinggi jika dibandingkan dengan markisa konyal Passiflora ligularis asal Alahanpanjang yang dijual di sepanjang Jalan Padang-Solok yang hanya 11—12° brix.

Beberapa markisa bukik batabuah tumbuh di bawah rindang pohon tusam Pinus merkusii. Ukurannya sebesar bola tenis dengan warna kulit jingga.

Nama markisa itu memang menyesuaikan tempat tumbuhnya. Ia tumbuh di Nagari Bukik Batabuah, termasuk kawasan suaka alam (KSA) Marapi berketinggian 1.500 m di atas permukaan laut (dpl).

Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanahdatar, Provinsi Sumatera Barat, terpisah oleh gunung aktif berketinggian 2.891 meter di atas permukaan laut itu. Bukik Batabuah menjadi salah satu nagari di Kecamatan Canduang, Kabupaten Agam.

Panen Raya

Tak hanya manis, markisa itu juga berbuah sepanjang tahun dan panen rayanya pada Februari—April. Markisa itu berkulit ungu bintik putih ketika muda dan berkulit jingga ketika matang.

Bentuk buahnya ada yang bulat dan agak lonjong dengan panjang 7,1 cm berdiameter 6 cm. Markisa itu memang tumbuh liar merambat di cabang-cabang tusam di ketinggian hingga 7 meter dari permukaan tanah.

Masyarakat setempat juga tak pernah memupuknya. Namun, tanah di sekitar gunung sudah subur karena termasuk tanah vulkanik.

Penjelasan sejak kapan markisa manis itu tumbuh di kawasan hutan belum ditemukan. “Alah ado dari maso datuak kami (sudah ada sejak zaman kakek kami, red),” kata masyarakat di sana.

Andai dirawat secara intensif seperti di Kabupaten Solok, produktivitas markisa konyal rata-rata 100 kg per tanaman per tahun. Data pasti produktivitas markisa batabuah belum diketahui pasti lantaran sulit memperkirakan total tanaman dan luas kawasan tumbuh markisa.

Bahkan saat panen raya, orang bisa memanjat hingga ke puncak tusam hanya dengan menggunakan batang-batang markisa yang saling membelit. Lokasi panen biasanya sudah ditandai oleh masyarakat masing-masing.

Mereka memanennya dengan memanjat atau menarik batangnya, memetik buah dengan pengait berkantong, lalu memasukkannya ke dalam karung mirip tas. Terakhir, mereka memanggul dan mengantarkan buah ke pengepul.

Tiap pemanen bisa memetik hingga 30 kg per sekali panen. Jumlahnya semakin besar saat panen raya, yaitu 70 kg.

Para pedagang pengumpul mendapatkan 300 kg buah per hari. Sementara saat panen raya, pasokan meningkat hingga 500—600 kg saban hari.

Hal itu bisa sebagai bukti kalau potensi produktivitas markisa bukik batabuah besar. Para pedagang kemudian mengirim dan menjual markisa ke Jakarta dan Pekanbaru, Provinsi Riau.

Pelestarian

Uniknya, markisa ini jarang dijual di pasar-pasar tradisional sekitar Kabupaten Agam maupun Kota Bukittinggi. Harga jual di tingkat pedagang pengumpul mencapai Rp10.000 per kg.

Satu kg terdiri dari 12 buah. Masyarakat mengonsumsinya dengan cara membelah buah lalu menyendoknya.

Jika ingin sensasi dingin, mereka menambahkan es batu. Markisa sudah manis meski tanpa sirop.

Markisa itu sejatinya menjadi salah satu keanekaragaman hayati Sumatera Barat, meski hingga kini belum ada konservasi maupun pembudidayaan. Wajar saja, saat ini markisa bukik batabuah mulai sulit ditemukan dibanding pada 2018.

Kalau pemanfaatan itu berlebihan dan terus-terusan tanpa ada konservasi, plasma nutfah markisa itu bisa berkurang bahkan hilang. Di satu sisi, ketinggian tempat menjadi kendala untuk budidaya markisa di dataran tinggi.

Di sekitar lereng Gunung Marapi, ada areal pertanian yang menjadi sentra sayuran. Sementara di Nagari Bukik Batabuah, sudah lama menjadi sentra tebu penghasil gula merah berkualitas.

Maka, konservasi wajib dilakukan agar spesies liar tidak punah. Di kawasan lereng Gunung Marapi juga menyimpan markisa lain selain markisa konyal yaitu markisa berkulit ungu Passiflora edulis.

Penampilannya mirip markisa ungu di Nagari Bukik Sileh, Kabupaten Solok yang juga berketinggian 1.500 m dpl. Warga sekitar memanfaatkannya sebagai bahan campuran obat.

Masyarakat mengonsumsinya dengan campuran kocokan telur dan madu. Ramuan itu berkhasiat menyembuhkan meriang dan meningkatkan imun tubuh.

Cita rasa markisa itu masam dengan aroma kuat yang sejatinya cocok untuk diolah menjadi sirop atau cordial. Sayang, masyarakat sekitar belum memanfaatkanya menjadi sirop sebagaimana di Berastagi, Sumatera Utara. (Bondan Setyawan/Sumber: Dewi Hayati)

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img