Monday, November 28, 2022

Liliput Pengganda Produksi

Rekomendasi

Ridwan memanen 27 ton kentang dari sehektar lahan. Sebelumnya hanya 18 ton.

Peningkatan hasil itu setelah Ridwan menggunakan bakteri aktivator. “Bakteri aktivator adalah mikrob yang melarutkan pupuk sehingga meningkatkan penyerapan unsur hara,” ujar Ir Yos Sutiyoso, pakar fisiologi tanaman di Jakarta. Dari panen itu, Ridwan memperoleh 50% grade A, 30% grade B, sisanya grade C. “Harga kentang grade C biasanya rendah sehingga petani memilih menjadikan sebagai bibit,” kata Ridwan.

 

Menurut M Khudori, pemulia kentang di Garut, Jawa Barat lazimnya sebanyak 15% hasil panen kentang masuk grade A, 65% grade B, dan 20% grade C. Kentang grade A berbobot 250—400 g per umbi tanpa cacat bekas serangan hama penyakit maupun luka saat pemanenan. Grade B berbobot 100—250 g, grade C 100 g per umbi. Artinya hasil panen di kebun Ridwan lebih baik daripada rata-rata pekebun lain.

Panen cepat

Ridwan menanam kentang secara monokultur dengan sistem bedengan. Pekebun di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat itu membuat bedengan selebar 120 cm setinggi 40 cm dan membujur sepanjang lahan. Jarak antarbedengan 45 cm. Pascaolah tanah, ia membenamkan 18 ton pupuk kandang asal kotoran ayam yang diberi 150 g bakteri aktivator. Ridwan memperoleh bakteri itu dari Hendra Gunawan Hadmidiredja, konsultan pertanian di Kota Bogor, Jawa Barat.

Selanjutnya ia memasang ajir bambu setinggi 100 cm, menanam 5.400 kg bibit atau sekitar 30.000 tanaman dengan jarak tanam 40 cm x 40 cm. Pada 7—10  hari setelah tanam (hst) muncul tunas. Tanpa  bakteri aktivator bibit bertunas pada 17—20 hst. Oleh karena itu pada 14 hst Ridwan mulai membumbun agar tunas tidak terkena sinar matahari langsung dan umbi terhindar dari serbuan hama.

Menurut Yos Sutiyoso. untuk meningkatkan produksi kentang dibutuhkan asupan unsur kalium. “Unsur nitrogen yang bisa didapat dari pupuk kandang hanya merangsang perkembangan vegetatif alias pertumbuhan daun,” kata Yos. Itu sebabnya ia menyarankan  pemupukan susulan berupa pemberian 100 kg pupuk KNO3 atau K2SO4 per ha. Tanah di daerah pegunungan kerap ditemukan kaya unsur kalium dari endapan abu letusan gunung berapi atau sisa pelapukan tumbuhan hutan. Menurut Hendra, petani binaan di daerah Pangalengan menambahkan unsur kalium berupa 3 kg pupuk NPK yang dilarutkan ke dalam 200 l air untuk satu drum. Pemupukan sehektar lahan memerlukan 5—6 drum.

Untuk menghalau serangan hama dan penyakit, Ridwan menyemprotkan fungisida berbahan aktif simoksanil, famoksadon, dan mankozeb, serta insektisida berbahan aktif sipermetrin dan deltametrin untuk menangkal kedatangan perampok-perampok kecil—trips, aphid, atau kutu kebul sejak 14 hst. Ia mencampurkan insektisida dan fungisida, kemudian menyemprotkan per 1—2 hari, karena curah hujan di Pangalengan tinggi.  Penyemprotan itu dilakukan sampai 75—80 hst.

Pada 90—100 hst, tepatnya Maret 2013 lalu, ia panen. Total jenderal Ridwan menuai 27 ton umbi. Hasil itu meningkat 67% ketimbang sebelum menggunakan bakteri aktivator. Jika menahan panen hingga umur maksimal 120 hst, produksi diperkirakan mencapai 32,4 ton.

Siap serap

Ade Hidayat di Pangalengan juga merasakan manfaat bakteri aktivator. Hasil budidaya kentang di lahan seluas 980 m2 meningkat sebanyak 60% dari 1,8 ton menjadi 2,9 ton. Menurut Hendra, bakteri aktivator menghasilkan enzim yang menguraikan pupuk menjadi siap diserap tanaman. Hasilnya penyerapan pupuk meningkat dari lazimnya hanya 30% menjadi lebih dari 60%. “Penelitian di laboratorium malah bisa mencapai 83%,” kata alumnus jurusan Teknik Informatika, Universitas Putra Indonesia, Cianjur itu.

Peningkatan 2 kali lipat itu tentu saja menyediakan pasokan hara berlimpah untuk pengisian umbi. Menurut pakar ilmu tanah di Departemen Tanah dan Sumberdaya Lahan Institut Pertanian Bogor, Prof Dr Iswandi Anas Chaniago, tanaman menyerap unsur hara dalam bentuk ion alias zat bermuatan listrik. Bakteri aktivator berperan mengubah kandungan pupuk menjadi ion.

Peningkatan hasil panen itu membuat Ridwan tersenyum lebar. Total biaya produksi terdiri atas sewa lahan, pupuk, pestisida, tenaga kerja, dan sarana produksi lain mencapai Rp70-juta. Dengan harga kentang rata-rata Rp4.000 per kg, ia memperoleh omzet Rp86,4-juta. Itu berkat jasa baik si mahluk mini. (Muhamad Cahadiyat Kurniawan/Peliput: Argohartono Arie Raharjo)

 

FOTO:

  1. Kentang grade C lazim disimpan untuk bibit pada musim tanam berikutnya
  2. Kentang memerlukan asupan N tinggi untuk pertumbuhan vegetatif
  3. Peningkatan serapan pupuk lonjakkan produksi kentang

 

Previous articleTahan Gempuran Bulai
Next articleJalan Mereka Raih Laba

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Jambu Mete, Komoditas Kelas Premium di Pasar Global

Trubus.id — Jambu mete menjadi salah satu komoditas kelas premium di pasar global. Bahkan, jambu mete merupakan produk kacang-kacangan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img