Monday, August 8, 2022

Tiram Raja Terlezat

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Tiram raja jamur terenak di keluarga Pleurotacecae.

Uap panas itu meliuk-liuk meningalkan sebuah mangkuk sembari membonceng aroma lezat. Aroma masakan terdiri atas 7 potong jamur menyerupai paha ayam itu membangkitkan selera. Ketika sepotong jamur masuk ke mulut, seketika rasa gurih menyergap. Tekstur kenyal terasa saat jamur tercecap. “Rasa jamur ini lebih enak daripada biasanya,” kata pengunjung sebuah restoran di Yogyakarta.

Hari itu pemilik rumah makan khusus jamur di Niron, Kecamatan Pandowaharjo, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Ratidjo Hardjo Suwarno, memang menghidangkan jenis jamur baru. Namanya tiram raja Pleurotus eryngii. Juru masak mengolah tiram raja menjadi menu semur. Pada hari-hari sebelumnya, juru masak mengolah jenis jamur lain sebagai bahan semur. “Citarasa jamur ini paling enak di antara jenis jamur lain,” kata Ratidjo Hardjo Suwarno.

Dari tanah

Ia optimis konsumen bakal meminati masakan jamur baru itu. “Respon pengunjung positif dengan kehadiran menu itu,” kata Ratidjo. Pria 69 tahun itu membudidayakan tiram raja sejak 2011. Di kumbung berukuran 30 m2 ia membudidayakan jamur anggota famili Pleurotaceae itu di 600 baglog. Ratidjo mengatakan bahwa sejak inokulasi bibit hingga panen perdana, perlu 60 hari.

Produktivitas jamur asal Mediterania itu mencapai 4—4,5 ons per baglog berbobot 400 gram. Ratidjo rutin menuai rata-rata

17 kg tiram raja per hari. Pada saat mendatang kemungkinan ia bakal menambah produksi karena pasar mulai terbuka. Sebab, “Hanya segelintir masyarakat yang mengetahui kelezatan king oyster,” kata ayah 5 anak itu. Harap mafhum, selama ini tiram raja hanya tersedia di restoran elite dan hotel berbintang di pusat kota. Berarti hanya mereka yang berpenghasilan besar yang dapat mencicip kelezatan tiram raja.

Ratidjo memperoleh bibit F-0 tiram raja dari Belgia. Lazimnya produsen jamur di Belgia menjual king oyster dalam bentuk F-3. Artinya pembeli tinggal menunggu jamur itu tumbuh lalu panen. Ratidjo mendapat perlakuan spesial karena, “Saya memiliki relasi di sana sehingga mendapat kemudahan,” katanya. Pria kelahiran Sleman itu mendapat F-0 king oyster tiga pekan setelah pemesanan.

Ia tertarik membudidayakan jamur itu karena sebagai variasi menu pada rumah makan miliknya. Di alam jamur itu hidup di padang rumput dan stepa. Menurut J Gyorfi dan Cs Hajdu dari Universitas Corvinus Budapest, Hungaria, habitat alami tiram raja di atas akar mati Eryngium agavifolium, sejenis gulma di Hungaria. Tiram raja memperoleh nutrisi dari bahan organik di tanah. Itu berbeda dengan jamur tiram putih yang mendapat nutirisi dari bahan berkayu.

Keduanya memang masih berkerabat, sama-sama anggota famili Pleurotaceae. Namun, kita mudah membedakan antara tiram raja dan tiram putih. Batang dan tudung tiram berwarna putih. Lazimnya ukuran tudung tiram lebih besar daripada batang. Sementara tubuh buah tiram raja bersosok hampir panjang membulat. Menurut pakar jamur di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Ir NS Adiyuwono, tudung tiram raja berwarna abu-abu berukuran 3—12 cm.

Saat mulai tumbuh batang berukuran lebih besar ketimbang tudung. Secara bertahap tudung pun berkembang. Batang berwarna putih dan berada di tengah tudung. Panjang batang mencapai 3—10 cm dan berdiameter 1—3 cm. “Erinji (tiram raja, red) yang beredar di pasaran lazimnya berbentuk seperti botol. Ukuran batang dan tudung hampir sama,” kata Adi.

Jenis terbaik

Gyorfi dan Hajdu dalam “International Journal of Horticultural Science” menyebutkan dua keunggulan membudidayakan tiram raja. Pertama king trumpet mushroom sedikit menghasilkan spora. Itu penting bagi pembudidaya yang memiliki alergi. Kedua, saesongi peoseot—sebutan di Korea—itu tahan simpan hingga 12 hari. Jenis lain hanya 2 hari.

Tiram raja tahan simpan karena daging buah tebal dan kenyal. Jin Torng Peng dan rekan dari Institut Penelitian Pertanian Taiwan menyebut tiram raja sebagai jamur terbaik dari genus Pleurotus. Sebab jamur itu bertubuh buah kuat dengan aroma yang menyenangkan. Sejak awal 2000 restoran di Amerika Serikat mulai menyediakan menu berbahan baku tiram raja. Di negara asalnya, enriji menjadi menu harian masyarakat. Selain lezat, king oyster juga  menurunkan kadar kolesterol jahat.

Beberapa tahun terakhir jamur tiram raja itu banyak dibudidayakan di luar habitatnya. Sebut saja Jepang dan Korea Selatan yang getol mengembangkan tiram raja. Bahkan dua negara itu kini menjadi produsen terbesar di dunia. Negeri Matahari Terbit mampu memproduksi 37,2 ton segar pada 2009. Jepang dan Korea Selatan menjual hasil panen tiram raja ke negara-negara di Asia, Eropa, dan Amerika Utara.

Menurut Adiyuwono sebetulnya tiram raja masuk ke Indonesia pada 1986. Lalu pada 1990-an jamur itu mulai dikembangkan secara komersial. “Saat itu jamur erinji yang masuk ke tanahair berasal dari Cina,” kata Adi. Kini terdapat 3 produsen di Jawa Barat dan Jawa Timur yang memproduksi seta de cardo, sebutan tiram raja di Spanyol. Dugaan Adiyuwono kapasitas produksi ketiga produsen itu maksimal 1—1,5 ton saban bulan. Mereka menjual tiram raja ke Singapura sehingga masyarakat tak mengenal jamur itu. (Riefza Vebriansyah)

 

FOTO:

Pleurotus eryngii paling enak di antara jenis jamur tiram lain

Selain lezat, juga menurunkan kolesterol jahat

Ir NS Adiyuwono, “Jamur erinji masuk ke Indonesia sejak 1986”

Tempat pembuatan media jamur erinji

Ratidjo Hardjo Suwarno yakin masyarakat bakal menyukai jamur erinji

King oyster bertubuh buah kuat dan beraroma menyenangkan

Previous articleTahan Gempuran Bulai
Next articleJalan Mereka Raih Laba
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img