Monday, August 15, 2022

Limbah Pala Jadi Rupiah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Sirop menjadi produk andalan Cielo Pala. (Dok. Cielo Pala)

Memanfaatkan daging buah pala yang semula terbuang menjadi minuman lezat. Mendatangkan laba besar.

Trubus — Saleh Brik Zulkarnain sedang mengawasi pekerja yang membangun rumah tanam untuk merawat dan memperbanyak aglaonema di Ciapus, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di kebun sebelahnya, ia melihat orang membelah sesuatu, mengambil dan menampung isinya, lalu melemparkan sisanya ke lubang di tanah. Itulah sebabnya Saleh penasaran dan bertanya. Ternyata tetangga kebun tengah mengupas pala untuk mengambil bijinya.

Biji menjadi bahan baku penyulingan minyak pala, sedangkan daging buah dan kulit dibuang. “Itu nanti untuk apa?” ujar Saleh (37) sembari menunjuk ke daging buah yang teronggok di tanah. Tetangga kebunnya menjawab bahwa daging dan kulit pala itu limbah. Padahal, lebih dari 80% bobot adalah daging buah. Kejadian pada Desember 2010 itu, tonggak mulainya Saleh menerjuni pengolahan pala.

Tua dan muda

Begitu tren tanaman hias redup, Saleh Brik Zulkarnain berpaling ke pala. Kini ia memproduksi sirop, minuman siap saji (ready to drink, RTD), dan ekstrak pala dengan merek Cielo. Dari buah Myristica fragrans itu, Saleh meraih omzet Rp70 juta per bulan. Kadang ia juga mengolah lemon dan nanas, tapi pala menjadi prioritas. Sirop dan minuman RTD menjadi oleh-oleh khas Bogor, sedangkan ekstrak untuk ekspor.

Produsen sirop pala Cielo, Saleh Brik Zulkarnaen. (Dok. Cielo Pala) 

Saleh hanya membuat ekstrak pala ketika ada pesanan. Ia mengirimnya kepada pembeli di Belanda. Saat Trubus mengunjungi lokasi produksinya di Kota Bogor, Jawa Barat, pada Oktober 2020, Saleh tengah membantu pekerjanya mengepak produk sebelum dikirim kepada pembeli. Menurut pemilik Rumah Pala Cielo Srikandi—distributor produk Cielo—Annisa Nurul Koesmarini, penjualan per bulan rata-rata 2.500 botol berisi 630 ml sirop pala seharga Rp28.000.

Menurut manajer produksi Cielo, Wildan, setiap bulan mereka mengolah 1.000 kg buah pala. Jumlah itu tinggal separuh dibandingkan dengan sebelum pandemi, yang mencapai 2.300 kg pala per bulan. Saleh mendapatkan kiriman pala dari daerah Ciapus. Setiap pengiriman bobotnya sekitar 200 kg, terdiri atas campuran buah muda dan tua. Sirop terbaik kalau campuran terdiri atas buah tua dan buah muda dengan perbandingan tertentu.

Terlalu banyak buah tua warna sirop terlalu pekat, terlalu banyak buah muda, terlalu pucat. Mereka hanya memanfaatkan daging buah, sedangkan biji dan fuli mereka jual lagi kepada pengirim pala yang mengirim pasokan. Saleh mengetahui biji dan fuli bahan minyak asiri. “Saya fokus kepada pengolahan daging buah saja. Kalau mengerjakan biji juga nanti tidak optimal, malah berantakan semua,” kata pehobi olahraga beladiri itu.

Pekerja melumat daging buah pala sebelum memeras airnya. (Dok. Cielo Pala) 

Secara prinsip pembuatan sirop daging buah pala sederhana. Kupas, bersihkan, cincang kasar daging buah pala, tambahkan air lalu lumat dengan blender, saring, rebus sambil tambahkan gula, dinginkan, tanbahkan pengawet, lalu kemas. Meski demikian, Saleh memerlukan empat tahun mencoba berbagai cara menghasilkan rasa sirop terbaik. Salah satunya menentukan proporsi buah muda dengan buah tua. “Pemasok mengirim buah dengan berbagai tingkat kematangan dalam karung yang sama. Kalau sekadar mengolah semuanya secara langsung gampang saja,” kata Wildan.

Namun, cara seperti itu tidak menghasilkan produk dengan rasa khas yang ajek. Rasa sirop berubah-ubah tergantung pasokan buah. Hal itulah yang Saleh dan Wildan hindari. Saleh ingin produk yang rasanya berbeda dengan produk sejenis. Olahan pala—terutama sirop dan manisan—sejak lama menjadi oleh-oleh khas Bogor. Di Kota Hujan itu banyak produsen sirop pala selain Saleh yang sama-sama mengandalkan pala bogor sebagai bahan baku. Semuanya dipajang di tempat yang sama.

Buah asli

Saleh mengatakan, “Harus ada kekhasan yang membuat pembeli selalu ingat.” Ia menyerahkan pemasaran kepada Anisa sebagai distributor tunggal. Anisa menyalurkan produk Cielo ke gerai oleh-oleh, hotel, dan agen. Alumnus Institut Pertanian Bogor itu juga memanfaatkan berbagai lokapasar (marketplace) untuk memasarkan produk Cielo. Penjualan melalui lokapasar adalah nyaris tidak terbatas jarak walaupun kuantitasnya jauh lebih sedikit ketimbang penjualan dari jalur agen ataupun distributor.

Sebanyak 80% bobot buah pala adalah daging buah. (Dok. Cielo Pala) 

Berbeda dengan sirop berbagai rasa dan warna di pasaran yang mengandalkan pewarna dan perisa, sirop pala berbahan buah asli. “Pemanis pun 100% gula pasir tanpa pemanis sintetis,” kata Saleh. Lazimnya bisnis, produksi sirop pala itu pun mengalami pasang surut. Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Bogor dan Jakarta mengakibatkan penurunan penjualan lebih dari 50%. Saleh mengakali kondisi itu dengan menggilir pekerja agar ia tidak perlu melakukan pemecatan. Hari kerja yang semula 6 hari sepekan ia pangkas menjadi 4—5 hari.

Jam kerja pun Saleh kurangi dari semula sehari penuh menjadi hanya setengah hari. Namun, penurunan intensitas produksi akibat pandemi justru membuatnya punya lebih banyak waktu luang untuk mengembangkan produk. Minuman pala siap saji salah satu kreasi anyar untuk memikat pembeli baru. Ia juga membuat video dan jingle untuk memperkenalkan mereknya. “Ada beberapa produk lain yang siap meluncur,” katanya. Lini penjualan pun ia perkuat dengan memperluas jaringan keagenan. Saleh membuktikan bahwa daging pala yang dianggap limbah bisa menghasilkan rupiah. (Argohartono Arie Raharjo)

Previous articleTak Putus Fulus Kaktus
Next articleLaba Berniaga Kopi
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img