Saturday, August 13, 2022

Longgar Formasi Meningkat Produksi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Sudah 2 kali panen, petani di Selorejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur, itu menggunakan formasi 2:1. Hasilnya memuaskan, produktivitas meningkat, 10 ton per hektar, sebelumnya 6 ton per hektar. Formasi 2:1 yang dimaksud Rudi itu adalah pengaturan jarak tanam. Ia menanam bibit berselangseling, 2 baris tanam dan 1 baris kosong, begitu seterusnya. Baris tanam dan baris kosong dipisahkan jarak 40 cm. Sedangkan jarak antarbaris tanam 20 cm dan jarak antarbibit dalam satu baris 10 cm. “Dengan metode penanaman ini hasil panen naik hingga 67%,” kata Rudi.

Setelah menerapkan teknik itu produksi padi di lahan Hambali, petani di Pusakaratu, Kabupaten Subang, Jawa Barat, juga meningkat 50%. Ia memanen 9 ton, sebelumnya 6 ton per hektar. Teknologi yang diterapkan Rudi dan Hambali itu memang berbeda dengan cara tanam yang umum digunakan petani. Petani lazim membudidayakan padi berjarak tanam 20 cm x 20 cm tanpa pemisah antarbaris. Menurut Dr Priatna Sasmita, peneliti di Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Subang, Jawa Barat, pola tanam berselang itu dikenal dengan sistem jajar legowo.

Beragam

Populasi padi di lahan yang menerapkan jajar legowo 2:1 tidak berbeda dengan jumlah tanaman yang ditanam dengan cara konvensional, 25 rumpun/m2. Sistem jajar legowo dikembangkan untuk mendapatkan efek tanaman pinggir. Biasanya rumpun yang di dekat pematang memberikan hasil lebih tinggi ketimbang yang di tengah lahan.

Sebab, tanaman di tepi pematang mendapat pencahayaan bagus. Dampaknya, “Proses fotosintesis berlangsung sempurna dan bulir padi yang dihasilkan lebih banyak,” kata Priatna. Dengan jajar legowo rumpun tanaman dikondisikan berada pada bagian pinggir lantaran ada jarak pemisah.

Priatna menyebutkan selain jajar legowo 2:1, ada juga pola 3:1—3 baris tanam, 1 baris kosong—dan 4:1—4 baris tanam, 1 baris kosong. Namun, Priatna menganjurkan untuk menggunakan pola 2:1. “Dari hasil penelitian, jajar legowo 2:1 memberikan hasil lebih tinggi karena semua rumpun tanaman berada di pinggir,” ujar doktor Agronomi alumni Institut Pertanian Bogor itu.

Priatna menyarankan menggunakan bibit muda, umur 14 hari. Bibit muda lebih adaptif dan menghasilkan anakan lebih tinggi ketimbang bibit tua. Setiap lubang ditanam 1—3 bibit. Penanaman bibit dalam jumlah sedikit bertujuan mengurangi kompetisi antarbibit dalam satu rumpun. Cara itu mirip sistem SRI (System of Rice Intensification) yang hanya menanam 1 bibit per lubang tanam.

Selain pola tanam, varietas padi dan pemupukan juga berperan mendongkrak produksi. Bibit yang dibudidayakan harus unggul. “Karena secara genetis bibit unggul berpotensi hasil tinggi,” kata Priatna. Begitu pula pemupukan harus sesuai dengan kondisi tanah masing-masing daerah. Menurut Dr Dedi Nursyamsi Affandi, periset di Balai Penelitian Tanah, Bogor, kesuburan tanah setiap daerah berbeda-beda, sehingga dosis pemupukan tidak bisa disamakan.

Selama ini petani memupuk cenderung seragam. Mereka hanya berpatokan pada pekebun di daerah lain yang produktivitasnya tinggi. Padahal kondisi tanahnya berbeda, sehingga setelah dipraktekkan hasilnya tidak sama, malah anjlok. Nurhana, misalnya, petani di Kotosawah, Kecamatan Lembah Melintang, Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, memupuk dengan mengikuti pola pemupukan petani di desa tetangga. Bertahun-tahun ia melakukan pemupukan seperti itu, tapi hasil panen cuma 4,5 ton per hektar.

Ia lalu menguji kandungan hara tanah atas saran seorang ahli tanah. Nurhana mengambil sampel tanah dan memasukkan ke tabung reaksi berisi larutan kimia hingga membentuk 2 lapisan. Lapisan atas, larutan berwarna hasil reaksi tanah dengan bahan kimia, dan lapisan bawah, endapan tanah. Warna larutan itu kemudian dicocokkan dengan bagan warna panduan pemupukan (baca: Rahasia dalam Setengah Gram TanahTrubus September 2008).

Nurhana lantas memupuk dengan dosis berdasarkan hasil uji tanah. Hasilnya, produktivitas meningkat, 6,5 ton per hektar. Itu berarti dosis pemupukan yang tepat sesuai kondisi tanah dapat mendongkrak produksi. Selain itu supaya tanah tetap subur, “Jerami bekas panen bisa dimanfaatkan sebagai sumber bahan organik,” kata Priatna. Sebelum disebarkan ke lahan, jerami dikomposkan terlebih dahulu. Hasil pengomposan itu berguna memperbaiki sifat kimia, fisika, dan biologi tanah, sehingga tanaman tumbuh subur dan berproduktivitas tinggi.

Kualitas

Selain produksi, kualitas gabah juga perlu diperhatikan. Menurut Jarot Warseno, manajer produk PT Bayer CropScience, selama ini kebanyakan petani menghasilkan gabah kurang bermutu, antara lain kotor. Ketika digiling menjadi beras, rendemen beras utuh cuma 55—60%, sisanya beras pecah dan berkapur. Imbasnya harga beras relatif rendah, sehingga omzet petani tidak maksimal.

Oleh karena itu supaya gabah yang dihasilkan bermutu, Jarot menganjurkan menggunakan penyehat padi. “Dengan penyehat padi, gabah yang dihasilkan lebih bening dan bernas. Karena, tanaman memiliki daun bendera yang lebih hijau sehingga pengisian gabah sempurna,” ujar Jarot. Selain itu beras utuh yang dihasilkan juga meningkat 70%. Penyehat padi juga menjaga tanaman dari serangan busuk batang, bercak daun, busuk pelepah, dan dirty panicle alias gabah kotor. (Ari Chaidir/Peliput: Faiz Yajri)

Budidaya padi dengan sistem jajar legowo 2:1

Foto-foto: Ari Chaidir

Trubus 479 – Oktober 2009/XL 93

Budidaya padi dengan sistem jajar legowo 2:1

^ Panen padi menjulang, omzet petani meningkat

^^ Sistem jajar legowo, hasilkan bulir padi lebih banyak

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img