Monday, November 28, 2022

Mandiri Energi Lewat Bioenergi

Rekomendasi
Roni Maryana* Peneliti di Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia – LIPI
Roni Maryana*
Peneliti di Unit Pelaksana Teknis Balai
Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia – LIPI

Pengujung Juni 2013 pemerintah menaikkan harga bahan bakar bersubsidi untuk kendaraan bermotor. Harga premium dan solar yang semula Rp4.500 naik menjadi Rp6.500 dan Rp5.500 per liter. Pemicunya adalah nilai subsidi yang kian membengkak dari tahun ke tahun. Pada 2013 yang sedang berjalan saja, angka subsidi yang mengalir ke tangki kendaraan di jalan raya mencapai Rp272,4-triliun dari konsumsi 31-juta kiloliter premium dan 16,8-juta kiloliter solar. Wajar, setiap hari lebih dari 80.000 kiloliter premium dan 43.000 kiloliter minyak solar menyalakan mesin kendaraan.

Jumlah itu jelas sangat membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Bandingkan dengan anggaran untuk pendidikan yang mencapai Rp345-triliun atau kesehatan yang hanya Rp1,9-triliun. Ironisnya, sebagian besar penikmat dana itu adalah golongan menengah ke atas yang memiliki lebih dari satu mobil. Dalam hal itu, banyak pihak berpikir sejalan dengan pemerintah sehingga tidak perlu lagi diskusi lebih jauh. Hal yang memerlukan perhatian selanjutnya adalah mekanisme pengalihan subsidi dari pos bahan bakar minyak (BBM) menjadi sesuatu yang bisa langsung menyentuh masyarakat golongan bawah. Tujuannya agar pengalihan subsidi mampu menjaga daya beli sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

 

Fokus bioenergi

Data Bank Dunia, nilai GDP (gross domestic product) per kapita—identik dengan standar hidup atau kesejahteraan—Indonesia pada 2011 bernilai USD3.495 dengan harga seliter premium Rp4.500. Bandingkan dengan GDP per kapita negeri jiran Malaysia yang mencapai USD9.977 sementara harga premium Rp5.066 per liter. GDP per kapita Singapura USD46.241 dan harga premium setara Rp11.560 per liter.

Data itu menunjukkan bahwa tingginya harga BBM bukan persoalan serius kalau daya beli  masyarakat juga tinggi. Kesejahteraan masyarakat sejatinya bukan tergantung harga BBM, tetapi lebih berkaitan dengan daya beli dan pendapatan. Peningkatan kesejahteraan dan daya beli masyarakat, terutama golongan bawah, tentunya adalah kewajiban pemerintah.

Sayang, sebagai kompensasi kenaikan harga BBM, penyelenggara negara lebih memilih cara “instan” melalui pemberian BLT (bantuan langsung tunai) atau BLSM (Bantuan Langsung Sementara untuk Masyarakat), yang kerap dipelesetkan menjadi balsem. Pembangunan infrastruktur, sektor pendidikan, atau kesehatan justru tidak menjadi fokus. Padahal sektor yang potensial untuk mempertahankan daya beli dan mendorong upaya ketahanan energi adalah produksi masif energi terbarukan yang melibatkan masyarakat, terutama para petani.

Instrumen Inpres No. 1/2006 tentang Kebijakan Pengembangan Energi Hijau belum banyak membantu perkembangan energi terbarukan. Kebijakan yang kurang fokus dan harga BBM yang terlalu rendah ditengarai menjadi penyebabnya. Rendahnya harga BBM pula yang menyebabkan banyaknya pemborosan dan penyalahgunaan seperti penyelundupan. Untuk menyikapi permasalahan energi dan mendukung upaya ketahanan energi dibutuhkan penerapan secara terpadu setidaknya dua kebijakan.

Kebijakan jangka pendek-menengah untuk memproduksi bahan bakar yang benar-benar komersial dan bukan sekadar skala riset. Brasil menjadi contoh sukses pengadaan bahan bakar nabati berbasis tanaman tebu. Negara itu membuat etanol untuk bahan bakar kendaraan dengan teknologi sederhana, ekonomis, dan efektif. Data Badan Pangan Dunia FAO, luas tanaman tebu di Brasil pada 2006 mencapai 6-juta hektar. Pada tahun sama, luas tanaman tebu Indonesia hanya berkisar 350.000 hektar. Pada 2012, Brasil mampu memproduksi 31-juta ton gula dan 26-miliar liter etanol dengan menyerap hingga sejuta tenaga kerja.

Konsumsi bahan bakar bersubsidi kendaraan bermotor membebani APBN
Konsumsi bahan bakar bersubsidi kendaraan bermotor membebani APBN

Lahan kritis

Produksi bahan bakar nabati di tanahair pernah menjamur pada 2009, bersamaan dengan  kenaikan harga minyak dunia akibat kemelut di Semenanjung Afrika yang merupakan rute utama pengiriman minyak. Di stasiun pengisian bahan bakar umum, mulai tersedia premium E-5 hingga E-10. Angka di belakang merupakan kode jumlah etanol yang ditambahkan sebagai campuran premium. Sayang, gaungnya memudar saat harga minyak mentah kembali turun. Beberapa pelaku industri bioetanol rumahan menghadapi masalah lantaran distributor BBM menolak membeli produk mereka. Aparat pun mendakwa mereka dengan tuduhan produsen minuman keras ilegal. Wajar saja kalau hampir semua produsen kelas rumahan itu tumbang.

Banyak kritikan bahwa etanol generasi pertama—produksi bioetanol yang mengandalkan bahan pangan seperti tebu atau singkong akan bersaing dengan pangan. Namun kita lupa bahwa Indonesia dikaruniai wilayah teramat luas. Data Kementerian Kehutanan, pada 2012 ada sekitar 30-juta hektar lahan kritis yang berpotensi untuk tanaman penghasil bioenergi. Sejatinya beberapa industri gula di Indonesia memproduksi etanol berbasis tetes tebu. Bahkan, perusahaan seperti Medco Energy dan Sampoerna Bio Energi sudah memproduksi etanol berbasis singkong. Melihat kenyataan di lapangan, pemerintah tidak perlu lagi memulai dari awal, hanya diperlukan komitmen untuk menyediakan area tanam tebu yang luas, meningkatkan kapasitas produksi pabrik yang sudah ada, dan perlahan mendirikan pabrik-pabrik pengolahan baru.

Kebijakan selanjutnya adalah kebijakan jangka panjang dengan mengalihkan subsidi BBM kepada riset-riset dan implementasinya di sektor energi. Saat ini riset bioetanol generasi kedua dari biomassa, implementasi penggunaan energi air, angin, surya, biogas, sampai gelombang laut telah dan sedang dilakukan di Indonesia. Bahkan, Amerika Serikat sedang meriset pemanfaatan tornado sebagai penggerak kincir. Riset-riset semacam itu yang memerlukan dukungan dalam bentuk pendanaan. Selain itu, koordinasi oleh pemerintah perlu ditingkatkan sehingga tujuan penyediaan energi dan riset-risetnya menjadi lebih fokus serta sinergi antarlembaga atau antarinstitusi menjadi lebih baik.

Apabila kebijakan jangka pendek-menengah dan jangka panjang ini dilakukan secara sepenuh hati dan konsisten, ketahanan energi nasional bukan sekadar mimpi. Kisah sukses Brasil memproduksi etanol dengan menyerap tenaga kerja adalah suatu bukti nyata. Alexander Graham Bell, penemu dan peletak dasar telekomunikasi, baterai logam, dan energi alternatif, menyatakan sinar matahari hanya dapat membakar jika difokuskan. Sudah saatnya Indonesia berfokus pada penyediaan energi terbarukan sehingga tidak perlu risau akan ketersediaan energi fosil. (Roni Maryana)*

* Peneliti di Unit Pelaksana Teknis Balai Pengembangan Proses dan Teknologi Kimia – LIPI

Previous articleMereka Memang Kampiun
Next articleCengkih Harum Lagi
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img