Friday, December 9, 2022

Cengkih Harum Lagi

Rekomendasi

Empat tahun terakhir, harga bunga cengkih kering naik 2—6 kali lipat, hingga Rp200.000 per kg kering. Sampai kapan harga bertahan?

I Gde Ketut Hariyana bagai makan buah si malakama. Harga jual cengkih yang cuma Rp28.000 per kg kering jauh lebih rendah dibanding ongkos panen. Pekebun di Kabupaten Singaraja, Provinsi Bali, itu mengelola 95 pohon berumur 27 tahun di lahan miliknya. Untuk menuai bunga cengkih itu, ia mempekerjakan 6—10 orang selama 5—7 hari. Padahal, upah tenaga kerja mencapai Rp40.000 per orang setiap hari atau total Rp2,8-juta. Jika memperhitungkan biaya pengeringan selama 3—7 hari dan pupuk, maka Hariyana mesti mengeluarkan dana total Rp20-juta.

Sementara total panen dari 95 pohon hanya 500 kg kering yang memberikan omzet Rp14-juta alias rugi Rp6-juta. Membiarkan bunga tetap di pohon? “Jika tidak dipanen, bunga akan menjadi buah. Pohon bisa rusak karena tenaga terkuras untuk membesarkan buah yang tidak laku dijual. Namun, memanen pun malah rugi karena harus membayar tenaga harian,” kata pekebun berusia 45 tahun itu. Alumnus Jurusan Informatika Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Surabaya itu akhirnya tetap memanen, meski rugi. Ia yakin suatu saat cengkih akan kembali berjaya.

Proses pengeringan cengkih perlu 5-7 hari
Proses pengeringan cengkih perlu 5-7 hari

Tetap merawat

Keyakinan Hariyana terbukti. Lima tahun kemudian, pada 2012, harga bunga cengkih  melonjak signifikan. Harga cengkih pada 2012 di tingkat pekebun mencapai Rp120.000—Rp200.000 per kg kering. Produksi melambung pula, yakni 1,3 ton bunga cengkih kering. Omzet Hariyana dari penjualan bunga Syzygium aromaticum itu mencapai Rp156-juta. Pada 2011 ia mencoba pupuk baru berbahan rumput laut yang mendongkrak produksi.

Hariyana yang mengelola 95 pohon saja memperoleh pendapatan aduhai. Apalagi para pekebun yang memiliki pohon lebih banyak. Di Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah, PT Cengkeh Zanzibar mengelola lahan cengkih seluas 724 ha dengan total populasi 59.000 pohon. Menurut direktur PT Cengkeh Zanzibar, Budi Dharmawan, semua pohon di lahannya produktif berumur 30—40 tahun.

Saat Trubus berkunjung pada Mei 2013, anggota staf kebun, Bambang Dwi SH

menyatakan baru 12.000 pohon yang berbunga dengan produksi mencapai 100 ton kering. Harga bahkan pernah mencapai Rp200.000, padahal sebelumnya hanya Rp30.000—Rp40.000 per kg. Apa yang memicu harga cengkih melonjak? Pemicu kenaikan itu beragam, seperti pasar yang terbuka sehingga serapan pasar makin tumbuh. Di sisi lain produksi justru anjlok akibat harga rendah pada tahun-tahun sebelumnya.

Pasar cengkih

Menurut Kepala Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Dr Ir Agus Wahyudi MS, konsumen terbesar bunga cengkih adalah industri rokok. “Industri rokok menyerap 80—85% pasokan bunga cengkih,” kata Agus. Perkiraan Agus, industri rokok di tanahair memerlukan pasokan hingga 120.000 ton per tahun. Selebihnya mengalir ke industri kosmetik, toiletris, dan makanan.

Faktanya, produksi cengkih nasional tidak pernah mampu mencukupi kebutuhan industri rokok. Data Direktorat Tanaman Rempah dan Penyegar Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian menunjukkan, pada 2011 produksi cengkih Indonesia hanya 72.246 ton, berkurang dari 2010 yang mencapai 98.386 ton. Untuk memasok industri rokok saja, produksi itu belum memadai.

Untuk menambal kekurangan pasokan itu, 14.979 ton cengkih impor senilai US$345,1-juta pun masuk ke tanahair pada tahun sama. “Mendatangkan cengkih luar negeri sejatinya pilihan terakhir. Harganya tidak terpaut jauh dengan harga saat ini, yang berkisar Rp150.000 per kg,” kata Agus. Artinya, kalau harga cengkih tanahair berada di tingkat Rp100.000 saja, itu sudah menjadi jalan tengah yang menguntungkan petani dan industri cengkih. Menurut Ketut, harga impas cengkih berada di angka Rp40.000 per kg.

Sejak harga mulai beranjak naik 3—4 tahun silam, jumlah tanaman menghasilkan dan tanaman muda yang belum menghasilkan terus bertambah. Menurut Retno Yuniwati MSi, kepala Seksi Produksi dan Pengembangan Usaha Perkebunan dan Kehutanan Dinas Pertanian Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, minat pekebun untuk membudidaya cengkih meningkat seiring peningkatan harga. Kabupaten Klaten memiliki tanaman menghasilkan terbanyak di Provinsi Jawa Tengah, yakni mencapai 3.393 pohon. “Masyarakat memang mempunyai budaya menanam cengkih di kebun atau pekarangan,” kata Retno.

Menurut Prof Bambang Hadisutrisno, peneliti tanaman perkebunan di Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, harga bergerak naik lantaran hukum pasar. “Permintaan terus meningkat sementara pasokan ajek, bahkan cenderung berkurang,” kata Bambang. Ia meyakini tren positif itu bakal berlangsung lama sehingga harga bertahan tinggi meski pekebun ramai-ramai menanam tanaman baru.

 

PT Cengkeh Zanzibar menanam cengkih di Kendal sejak 1973
PT Cengkeh Zanzibar menanam cengkih di Kendal sejak 1973

Biaya tinggi

Menurut Dr Ir Agus Wahyudi MS sejatinya pohon cengkih tidak perlu perawatan rumit. Meski demikian, pohon mutlak memerlukan pemupukan teratur agar mampu menumbuhkan tunas bunga pascapemanenan sebelumnya. Perlu 1—2 tahun untuk pulih sehingga bisa kembali berbunga lebat. Syaratnya pohon memperoleh cukup pupuk dan mendapat sinar matahari penuh. Saat terjadi kemarau basah seperti pada 2010 atau 2013, pembentukan bunga mogok.

Menurut Ir Yos Sutiyoso, pakar Fisiologi Tumbuhan di Jakarta, pupuk untuk cengkih harus seimbang dengan bobot kering bunga yang dihasilkan. Berikan 2,5 kg pupuk Urea, 4 kg pupuk KCl, dan 4 kg pupuk TSP. Sebagai sumber kalsium (Ca) dan magnesium (Mg), berikan 3—4 kg dolomit per tahun atau 1,5—2 kg kalau memupuk setahun 2 kali.

Dengan harga pupuk NPK Rp5.000 per kg dan dolomit Rp500 per kg, biaya pupuk per pohon mencapai Rp54.000. Sehektar lahan dengan populasi 200 pohon menghabiskan Rp10,8-juta. Dengan upah tenaga kerja dan peralatan, angkanya bisa mencapai Rp16-juta per ha per tahun. ”Biaya pemeliharaan cengkih memang tinggi,” kata Agus Wahyudi.

Menua makin bagus

Menurut Agus pohon sehat berumur produktif—6 tahun ke atas—menghasilkan minimal 25 kg bunga basah per pohon setara 5 kg bunga kering per tahun. Itu setara 1 ton bunga kering per ha dengan populasi 200 pohon. Dengan harga bunga kering Rp50.000 per kg saja, laba pekebun lebih dari Rp30-juta per ha. Padahal umur pohon cengkih yang terawat bisa sampai ratusan tahun.

Secara alami cengkih berbeda dengan komoditas lain seperti mangga atau rambutan yang rutin panen raya setiap tahun. “Produksi bunga cengkih berfluktuasi setiap tahun. Itu ditambah pengaruh anomali iklim, baik la nina (bulan basah dominan) maupun el nino (bulan kering dominan),” kata Agus. Pengalaman Ketut, cengkih panen raya 2 tahun sekali. Artinya setelah panen besar, maka jumlah produksi pada tahun berikutnya pasti berkurang.

Penyebab lain fluktuasi produksi cengkih, menurut Paidi AMd, penyuluh kehutanan di Badan Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Banyumas, Jawa Tengah, masyarakat tergiur komoditas lain yang lebih menguntungkan. Salah satu yang menjadi primadona adalah tanaman hortikultura semusim seperti cabai atau tomat. Apalagi menjelang Lebaran atau Idul Adha. “Risikonya besar, tapi banyak yang berhasil,” kata Paidi. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Bondan Setyawan & Lutfi Kurniawan)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mentan Ingin Produk Hortikultura Segera Tembus Pasar Mancanegara

Trubus.id — Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menginginkan produk hortikultura, seperti buah dan sayur bisa tembus pasar mancanegara. Mengingat,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img