Mangga milik warga Desa Dulolong Barat, Kecamatan Alor Barat Laut, itu istimewa. Bentuknya bulat besar dengan bobot mencapai 800 g per buah. Bobot mangga lokal yang jadi pesaing hanya 400 g per buah. Rasa buah saat mengkal dan matang manis. Kadar kemanisan saat matang 12—130 briks. Daging buah mengkal berwarna kuning keputihan lalu berubah kuning jingga saat matang. Warga Alor mengenal mangga itu dengan sebutan mangga kelapa karena besar seperti kelapa.
Mangga kelapa milik Hamid berbeda dengan mangga kelapa yang banyak ditemukan di Pulau Jawa dan Sumatera. Walau sama-sama berukuran jumbo, mangga kelapa milik Hamid lebih enak disantap ketika mengkal. Rasanya manis, gurih, dan renyah sehingga tergolong manenda alias mangga panen muda. Karakter itu mengingatkan pada mangga khioe sawoi, dan khiojay, asal Thailand yang dikonsumsi
muda. Buah matang tetap manis, tapi terlalu lembek dan berserat sehingga lebih cocok dijus atau dibuat sirup. Sedangkan jenis mangga kelapa lain hanya enak dikonsumsi ketika buah benar-benar matang, buah mengkal asam.
Alor = kelapa
Riset Universitas Nusa Cendana menunjukkan, mangga kelapa Pulau Alor kaya vitamin C. Setiap 100 g daging buah mengandung 31,91 mg vitamin C. Artinya, cukup dengan menyantap 200 g alias seperempat buah mangga alor, maka kebutuhan asupan vitamin C untuk laki-laki dan perempuan dewasa sebanyak 60 mg per hari dapat terpenuhi.
Pantas mangga milik Hamid Eta pun menjadi idola. Bila musim berbuah tiba, Mangifera indica itu jadi incaran para wisatawan dan pejabat yang berkunjung ke kapubaten paling timur di Provinsisi NTT itu. “Rombongan pejabat selalu mampir ke tempat saya mencari mangga,” kata Hamid. Rasanya yang manis dan ukuran superbesar membuat mangga itu menjadi oleh-oleh khas Alor yang paling digemari.
Pada Oktober 2008 mangga kelapa asal Pulau Seribu Moko—julukan Pulau Alor—itu resmi ditetapkan sebagai salah satu varietas unggul lokal. Namanya pun berganti, “Sekarang namanya mangga alor bukan mangga kelapa lagi,” kata Ir Johannis Francis, kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Pertanian Kabupaten Alor. Untuk pengembangan bibit, pohon mangga alor milik Hamid Eta yang menjuarai kontes dipilih menjadi pohon induk. Dari pohon berumur 18 tahun itulah nantinya akan dikembangkan bibit-bibit mangga alor.
Menurut para tetua desa, mangga alor telah dibudidayakan sejak 1923. Daerah yang pertama kali mengembangkan mangga alor adalah Desa Otvai, Kecamatan Alor Barat Laut. Hamid sendiri mulai menanam pada 1968. Ia memiliki 12 pohon mangga alor. Awalnya, pria kelahiran 1938 itu mendapatkan bibit dari Ferdinan Aka, warga Desa Motongbang, Kecamatan Teluk Mutiara. Bibit itulah yang dikembangkan hingga menghasilkan beberapa pohon mangga. Salah satu pohon berhasil memenangi kontes mangga pada 17 November 2007 dan terpilih menjadi pohon induk mangga alor.
Menurut Johannis, mangga alor tumbuh tersebar di beberapa lokasi seperti Kecamatan Kabola, Teluk Mutiara, Alor Barat Daya, dan Alor Barat Laut. Pohon mangga tumbuh di halaman rumah penduduk. “Rata-rata di pekarangan rumah terdapat 2—3 pohon mangga alor,” kata Johannis. Mangga alor umumnya mulai berbunga pada Mei—Juni dan panen pada September—Oktober. Rata-rata produktivitas setiap musim panen 100—200 buah per pohon.
Dua hektar
Mangga alor asal perbanyakan biji mulai berbuah umur 5—6 tahun. Sedangkan bibit asal sambung pucuk berbuah umur 3—4 tahun. Buah matang ditandai dengan warna kulit hijau tua dengan semburat merah. Ketika musim berbuah tiba, mangga alor menjadi salah satu sumber pendapatan warga. Maklum harga jualnya lumayan mahal, Rp5.000 per buah. Bila setiap rumah punya 2 pohon mangga alor dengan produktivitas rata-rata 150 buah per pohon, maka pemi l i k meraup pendapatan Rp1,5-juta setiap musim panen.
Dengan adanya potensi ekonomis itu, kini budidaya mangga alor digalakkan. Menurut Johanis, pemerintah Kabupaten Alor sedang mempersiapkan kebun seluas 2 ha di Desa Oamate, Kecamatan Alor Barat Laut yang akan dijadikan sentra produksi buah dan bibit mangga alor. “Mudah-mudahan nantinya bisa berkembang sebagai agrowisata. Penanaman mangga di pekarangan pun terus digiatkan,” kata Johannis. Kelak satu dasawarsa ke depan mungkin saja manenda jumbo dari Alor mengisi pasar Jawa. (Ari Chaidir)
Pohon induk mangga alor berumur 18 tahun, tinggi 15 m, produktivitas 100—200 buah per musim
Mangga khioe sawoi, manenda introduksi dari Thailand
Mangga alor lebih enak disantap saat mengkal
Hamid Eta budidayakan mangga alor sejak 1968
Foto-foto: Ari Chaidir
