Thursday, August 18, 2022

Katakan dengan Camellia

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Teh yang dibawa mantan pengusaha udang itu bukan teh sembarangan. Sebut saja teh king oolong yang harganya Rp500.000 per 100 g. “Itu teh oolong kualitas tinggi. Sebungkus teh isi 250 g harganya mencapai Rp1.250.000,” tutur pengusaha walet itu. Teh oolong sebutan teh yang diolah semi oksimatis (oksidasi enzimatis, red). Boedi juga membawa sedikit teh hitam dan teh hijau berkualitas. Menurut Ir Dadan Rohdiana MP, ahli teh di Bandung, Jawa Barat, teh hitam ialah teh yang diolah secara oksimatis dan teh hijau tanpa proses oksimatis.

Teh sebanyak 3 kg itu cukup untuk menemani kegemaran Boedi ngeteh selama 3—6 bulan. “Biasanya tak sampai habis saya sudah beli lagi ke China,” tutur patron organisasi pencinta lingkungan hidup Birdlife itu. Setiap pagi usai sarapan Boedi menyeruput secangkir teh tanpa gula. Ritual itu berulang setelah makan siang dan malam, bahkan di sela-sela jadwal makan. Menurut doktor biologi lulusan Universiteit Hamburg, Jerman itu teh menghadirkan suasana tenang, hening, dan bening dalam kehidupan sehari-hari.

Boedi juga mengoleksi teh puer yang legendaris. Teh jenis itu biasanya diminum setelah makan menu yang berlemak dan berfungsi mengurangi penyerapan kolesterol oleh tubuh. Teh puer julukan buat teh yang setelah dioksimatis (peminum teh kerap juga menyebutnya dengan difermentasi, red) lalu dipadatkan dengan ditekan dan diikat membentuk lempengan bulat. Sekilas mirip tembakau. Teh padat lalu disimpan selama 3, 5, 8, 30, hingga 60 tahun. “Kian lama disimpan maka harganya makin mahal,” kata Bambang Muhtar Rusdiyanto, ahli teh dari Komunitas Pencinta Teh Indonesia di Bogor, Jawa Barat. Menurut Boedi sekilo teh puer harganya bisa Rp10-juta.

Teh putih

Di Bandung, ada juga Ir Darso Sayat yang tergila-gila pada teh mahal. Sejak 2 tahun terakhir alumnus Teknik Informatika ITB itu rajin menyeruput white tea alias the putih sehari 3 kali. Di pagi hari ia minum 2 cangkir teh yang berasal dari sesendok white tea. Sisanya malam hari. “Teh putih sangat premium harganya. Saya hanya konsumsi dengan keluarga atau teman-teman terdekat,” katanya.

Sebungkus white tea berisi 1 kg yang diminum Darso harganya Rp3-juta. Teh putih ialah sebutan teh yang berasal dari pucuk paling atas daun teh. Pucuk paling atas itu disebut peco (baca: Teh Pemanja Lidah, hal 116—118). Lantaran jumlahnya terbatas—the lain berasal dari pucuk di bawah peco—maka teh putih berada di rangking teratas teh berkualitas. Lagi pula antioksidannya paling tinggi. “Peminum teh putih hanya kalangan atas saja,” kata Arif Suryobuwono, peterjemah di Jakarta Barat, yang gemar berburu beragam teh.

Bagi penggemar teh yang kerap berburu ke kafe-kafe teh, teh putih disajikan dengan harga Rp40.000—Rp100.000 per cangkir. Sebut saja di Kafe Tea Addict di Jakarta Selatan dan Kafe Rollaas di Surabaya, Jawa Timur. “Pemesan teh putih lazimnya orang yang sudah paham kualitas teh,” kata Tessa, store manager Kafe Tea Addict. Menurut Dyah Sari Wulan, penikmat teh putih di Surabaya, kebiasaannya menyeruput teh putih berawal dari saran dokter yang memintanya menghentikan konsumsi teh dengan gula. Sejatinya, semua teh—oolong, hijau, dan hitam—berkualitas berasal dari 3 pucuk paling atas dari daun teh.

Tiga kelas

Menurut Bambang secara umum penikmat teh dibagi menjadi 3 kelompok. Yang pertama ialah ahli teh alias tea connoisseur. Kelompok ini sangat mengerti teh: dari mulai jenis teh hingga cara menyajikannya yang berbeda-beda di setiap negara. Hampir pasti golongan ini mengkonsumsi teh kering tanpa gula. Kelompok berikutnya ialah penyuka teh import terutama dari Inggris alias executive moderate. Mereka hapal merek teh terkenal seperti Twining, Tetley, atau Dilmah yang sangat digemari. Kelompok ini kebanyakan kalangan menengah ke atas, kaum eksekutif yang suka nongkrong di kafe-kafe.

Yang terakhir penikmat teh kebanyakan atau urban pop. Gaya hidup kelompok ini lebih ngepop, sebagian menghabiskan waktunya di jalan. Sebagian mereka sebelumnya terjebak pola hidup tidak sehat, stres karena pekerjaan, dan memiliki pola makan tidak teratur. Mereka mulai tahu manfaat teh dan meminumnya sebagai penyeimbang pola hidup yang tak sehat. Kelompok ini suka hal praktis yang tidak membuang waktu. Teh favorit golongan ini teh celup, teh dalam kotak, maupun teh dalam kemasan botol yang dilabeli teh sehat.

Belakangan sejak tren internet kian menggejala, pencinta teh pun merambah ke dunia maya. Sebuah komunitas pencinta teh—berdiri pada 2007—paling populer memiliki 271 anggota. Sementara komunitas di jejaring sosial lainnya yang baru dibuka 2 bulan silam sudah beranggotakan 690 orang. “Mereka umumnya kaum urban pop dan executive moderate yang ingin mendalami dan berbagi pengetahuan tentang teh,” kata Ratna Somantri, salah seorang penggagas komunitas tersebut.

Berkat komunitas itu setiap anggotanya bisa mencicipi beragam teh dari berbagai negara. Teh mahal seperti long cing tea (China) yang harganya Rp2-juta per 250 g atau gyokuro (Jepang) seharga Rp15-juta per kg bisa diimpor. Teh yang disebut terakhir ialah teh hijau asal Jepang yang lembut dan manis serta memunculkan sensasi kaldu. “Kami titip bila ada anggota yang ke sana, lalu dibagi-bagi karena belinya patungan,” kata Brenda ie McRae CCHt, penggemar teh yang pernah tinggal di Amerika Serikat selama 6 tahun.

Menurut Brenda patungan membeli teh juga bermanfaat karena mempererat persahabatan. Makna itu mirip dengan yang dialami Boedi. Menurut Boedi di China dan Jepang teh memang simbol persahabatan. “Sahabat sejati biasanya selalu diundang ke upacara perjamuan teh. Beberapa kali saya juga dikirim bingkisan berupa teh sebagai tanda persaudaraan,” katanya. (Destika Cahyana/Peliput: Faiz Yajri, Lastioro Anmi Tambunan, dan Nesia Artdiayasa)

 

Perkebunan teh di Provinsi Hunan, China

Katekin versus Jantung

Kegemaran Erman Wicaksono bukan nama sebenarnya—menyeruput teh selama bertahun-tahun berhenti sejak setahun silam. “Saya dilarang minum teh karena penyempitan pembuluh darah ke jantung,” kata pekebun durian di Subang, Jawa Barat, itu. Teh berbahaya untuk jantung? Eit, tunggu dulu!

Larangan itu dibantah Prof Dr dr Dede Kusmana SpJP, ahli jantung di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Menurut guru besar ilmu kardiologi itu teh justru bermanfaat buat kesehatan bila diminum dengan benar. “Teh memang bukan obat, tapi tidak ada alasan orang yang sakit jantung dilarang minum teh. Teh justru kaya katekin yang bagus untuk jantung,” kata dokter yang juga aktif di Indonesia Tea Lovers itu.

Menurut Dede katekin membantu penderita jantung dengan 3 peran: antioksidan, antiinflamasi, dan antiagregasi. Sifat antioksidan menghambat oksidasi lemak penghambat pembuluh darah ke jantung. Antiinflamasi alias antiradang berguna karena mengurangi radang penderita jantung koroner. Sementara antiagregasi mencegah penggumpalan darah di pembuluh darah. Kuncinya jangan minum teh di atas 20 menit setelah diseduh. Di atas 20 menit manfaat teh sudah hilang. (Destika Cahyana/Peliput: Faiz Yajri)

Dadan Rohdiana

 

 

Gyokuro, rasanya lembut dan memunculkan sensasi kaldu. Dapat dipakai sebagai penyedap pada nasi

Boedi Mranata, gemari teh oolong dari China. Daun Camellia sintensis itu selalu jadi oleh-oleh tiap kali berkunjung ke Tiongkok

Darso Sayat, rutin konsumsi white tea berharga Rp3-juta/kg sejak 2 tahun silam

Komunitas pencinta teh di dunia maya, praktekkan ritual minum teh dari berbagai negara setiap 1—2 bulan

Teh hijau diseduh air suhu 50—70o C

Teh oolong diseduh air suhu 80 o C

Teh hitam atau puer diseduh air mendidih 100 o C

 

Previous articleKumpulan e-book
Next articlePohon Pusaka
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img