Tuesday, November 29, 2022

Teh Pemanja Lidah

Rekomendasi

Bukan tanpa alasan Ratna memilih teh puer. Di negara asalnya, China, sudah lebih dari 2.000 tahun teh puer dikonsumsi untuk menurunkan kolesterol. Berdasarkan penelitian Chi Hua Lu dan Lucy Sun dari National Taiwan University, kandungan polifenol puer menghambat sintesis kolesterol. Puer juga dipercaya dapat menurunkan bobot tubuh. Bahkan, “Dahulu puer diminum untuk mengobati penyakit disentri,” kata Ratna.

Puer pun selalu tersedia dalam daftar menu di restoran atau rumah makan di China, Hongkong, dan Taiwan. Harga puer premium ditentukan oleh umurnya. Puer berumur 10 tahun, misalnya, dibanderol Rp10-juta per kg. Teh batangan yang biasa dipakai untuk membuat teh bubuk di tanahair paling hanya Rp60.000-an per kg. “Biasanya puer premium seperti itu menjadi incaran kolektor teh,” ucap Ratna.

Harga itu wajar saja. Untuk mendapatkan puer para pemetik teh mencarinya di pegunungan berketinggian lebih dari 1.000 m dpl, terutama di daerah Yunnan seperti Gedeng, Mansa, dan Mangzhi. Setiap daun teh dipetik dari pohon-pohon teh Camellia sinensis assamica yang sudah tua setinggi lebih dari 1,5 m.

Beda proses

Menurut Ir Dadan Rohdiana MP, periset di Pusat Penelitian Teh dan Kina Gambung, assamica memiliki kandungan polifenol yang lebih tinggi dibanding Camellia sinensis sinensis. “Assamica banyak ditanam di perkebunan teh di Indonesia,” kata Dadan. Sayang citarasa puer belum cocok di lidah orang Indonesia. “Banyak yang merasa terganggu dengan rasa seperti tanah yang pekat,” ucap Ratna yang hanya menawarkan puer kepada pencinta teh. Maklum saja, citarasa puer tidak hilang meski telah diseduh hingga 11 kali. Itu berbeda dengan teh lain yang setelah 3 kali penyeduhan kenikmatannya hilang.

Sejatinya ada 3 jenis teh yang sudah akrab di lidah Indonesia: oolong, green tea alias the hijau, dan black tea alias teh hitam. Ketiganya dibedakan berdasarkan proses pengolahan. Kualitas teh tinggi bila dipetik dari lembar pucuk pertama sampai ketiga. Musababnya dalam ketiga lembar daun itu kandungan katekin penambah rasa segar dan kafein tinggi. Katekin sendiri merupakan senyawa polifenol yang kaya antioksidan.

Teh oolong juga disukai masyarakat di China. Teh itu hasil semioksidasi enzimatis alias tidak bersentuhan lama dengan udara saat diolah. Hasilnya, warna teh menjadi cokelat kemerahan. Teh oolong biasa disajikan saat upacara pernikahan dan sebagai teman menyantap hidangan laut.

Teh hijau dipercaya menurunkan bobot tubuh. Itu lantaran kandungan polifenolnya tinggi. Teh hijau diolah tanpa mengalami oksidasi. Setelah layu daun teh langsung digulung, dikeringkan, dan siap dikemas. Teh hijau menjadi favorit masyarakat di Jepang dan Korea. Bahkan di Jepang terdapat beragam teh hijau seperti gyokuro, sencha, kabusecha, dan konacha—masing-masing dibedakan berdasarkan proses pembuatannya. “Gyokuro yang paling istimewa karena di-aging selama 5 tahun,” ucap Bambang Mukhtar, ahli teh di Bogor, Jawa Barat. Maklum, rasanya gurih seperti kaldu. Aroma kaldu itu pun menguar tajam. Teh itu pas dinikmati saat banyak aktivitas karena dipercaya meningkatkan konsentrasi. Jadi tidak cocok diminum sebelum berangkat tidur.

Teh hitam didapat dari hasil penggilingan yang menyebabkan daun terluka dan mengeluarkan getah. Getah itu bersentuhan dengan udara sehingga menghasilkan senyawa theaflavin dan thearubigin. Dadan menamakan reaksi itu oksidasi enzimatis. Theaflavin menurunkan warna merah kekuningan dalam setiap seduhan; thearubigin memberi kombinasi warna cokelat kemerahan dan kuning. Soal rasa? Seperti katekin, theaflavin memberi kesegaran.

White tea

Teh lain yang tak kalah istimewa adalah white tea alias teh putih. Disebut begitu karena saat diseduh warna air hanya sedikit berubah menjadi kekuningan. Teh ini diambil dari pucuk daun yang masih menggulung yang memiliki kandungan katekin dan kafein paling tinggi.

Teh beraroma tajam seperti rempahrempah itu menjadi unggulan di kafe Tea Addict di bilangan Gunawarman, Jakarta Selatan. “White tea yang dicampur dengan 20% teh hijau dinamakan pure nirvana,” kata Priyanto, juru racik teh di sana. Meneguk secangkir pure nirvana langsung menghangatkan tubuh. Yang menarik sisa daun teh bisa dimakan sambil dicampur madu.

Kenikmatan kelima teh itu maksimal jika diseduh dengan benar. Aroma dan rasa seperti kaldu pada teh hijau dari varietas sinensis keluar saat diseduh air bersuhu 70ºC atau saat dididihkan bergelembung kecil-kecil. Lebih dari itu daun teh pecah dan mengeluarkan lendir sehingga rasanya lebih pahit dan warna hijau kecokelatan. Teh oolong cocok diseduh dengan air bersuhu 80ºC, cirinya muncul gelembung besar waktu dididihkan. Teh hitam dan puer diseduh dengan suhu tinggi atau air mendidih hingga mengeluarkan asap atau bersuhu 100ºC. (Lastioro Anmi Tambunan/Peliput: Destika Cahyana dan Faiz Yajri)

Previous articleKumpulan e-book
Next articlePohon Pusaka

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img