
Trubus — Jamu—akronim dari bahasa Jawa jampi usada yang berarti obat penyembuh—memiliki sejarah panjang. Ratusan tahun leluhur Bangsa Indonesia mengandalkan tumbuhan berkhasiat untuk kebugaran tubuh, kesembuhan penyakit, kesuburan reproduksi, maupun vitalitas seksual. Riset modern membuktikan kandungan berbagai zat berkhasiat dalam herba. Saat virus menjadi sorotan seperti sekarang, banyak yang mengandalkan jamu untuk melawannya.
Masyarakat lokal di belahan dunia lain pun memanfaatkan tumbuhan berkhasiat di sekitar mereka untuk menjaga kesehatan. Tidak terkecuali masyarakat di negara maju. Wartawan Trubus Argohartono Arie Raharjo mewawancarai Ketua Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Dr(Cand). dr. Inggrid Tania, M.Si tentang peluang membentengi tubuh dari infeksi berbagai virus, termasuk CoViD-19.
Pada awal pandemi virus korona di Indonesia, masyarakat menyerbu kios penjual herbal. Apakah itu berarti masyarakat percaya khasiat herbal untuk melawan korona?
Tingkat kepercayaan terhadap herbal sebenarnya sangat tinggi. Masyarakat menjadikan herbal sebagai pertolongan pertama. Artinya, mereka sangat percaya khasiat bahan alam.
Ratusan tahun silam, leluhur kita memang tidak punya pilihan selain menggunakan herbal ketika mengalami gangguan kesehatan. Ketika muncul pandemi korona dan kalangan medis menyatakan belum ada obat yang manjur, maka kepercayaan itu menjadikan bahan alam sebagai pilihan pertama.
Apakah kondisi serupa juga terjadi di negara lain?
Laporan penelitian herbal untuk mengatasi korona di Tiongkok terbit di berbagai jurnal kesehatan internasional. Pemerintah Tiongkok pun mendukung dan menyatakan obat tradisional mereka mampu meringankan gejala, mempercepat penyembuhan, dan mengurangi angka kematian akibat CoViD-19. Mereka melaporkan salah satu ramuan komersial di sana yang tersedia dalam bentuk pil dan cair efektif meredakan kelelahan (fatigue) dan gangguan perut (gastrointestinal) orang dalam pemantauan. Terlepas dari kepentingan politik maupun bisnis, kita melihat bahwa khasiat herbal terbukti mampu mengatasi korona.
Herbal Tiongkok banyak yang berbeda dengan jamu Nusantara. Penelitian di sana otomatis menggunakan herbal setempat. Bagaimana dengan bahan herbal Nusantara?
Beberapa testimoni menunjukkan bahwa jamu Indonesia membantu mencegah dan menyembuhkan penderita Covid-19 di mancanegara. Ada yang terhindar dari Covid-19 lantaran mengonsumsi jamu Indonesia, padahal virus itu merenggut nyawa anggota keluarganya. Ada juga kabar penderita Covid-19 yang sembuh setelah minum jamu. Tentunya hal itu bisa menjadi dasar untuk memperkuat keyakinan kita terhadap khasiat jamu atau herbal Indonesia. Laporan penelitian bioinformatika tentang kemampuan zat aktif herbal mengikat protein virus SARS-CoV-2 membuktikan potensi bahan alam untuk mencegah atau mengobati CoViD-19.
Bukti khasiat beberapa bahan herbal Indonesia kebanyakan bersifat empiris atau berdasarkan pengalaman. Herbal yang terbukti empiris antara lain temumangga, temulawak, atau bawang merah. Tapi banyak jjuga yang terbukti secara saintifik, seperti jahe, temulawak, kunyit, atau jambu biji. Jenis pembuktian lain adalah klinis. Herbal Nusantara yang teruji klinis yaitu meniran. Kemampuan herbal Indonesia mengatasi SARS-CoV-2 memang belum teruji. Tapi tidak hanya herbal kita, herbal mancanegara pun belum teruji. Obat medis juga belum ada, masih tahap pengujian.

Masyarakat juga memanfaatkan herbal dalam masakan tertentu. Apakah dosis mencukupi?
Banyak anggota masyarakat yang sering atau rutin mengonsumsi herbal. Temulawak, kunyit, jahe, cengkih, pala, kayumanis, dan serai, adalah beberapa bahan herbal yang kerap dikonsumsi. Selain untuk bahan jamu, beberapa herbal juga menjadi bumbu masakan. Tentu dosis bumbu masak jauh di bawah jamu sehingga jumlah zat berkhasiat yang diasup ke dalam tubuh pun berbeda. Selain itu, bahan herbal juga menjadi komponen minuman tradisional yang juga kerap dikonsumsi. Semua itu menunjukkan herbal kita pun dipercaya dan terbukti berkhasiat.
Berapa lama waktu pengujian untuk membuktikan khasiat herbal Indonesia mengatasi CoViD-19 agar bisa diterima?
Lamanya relatif tergantung tahap yang mesti dilalui. Gambarannya, pembuktian temulawak atau meniran dari status jamu menjadi fitofarmaka memerlukan waktu bertahun-tahun. Kita berpacu dengan waktu mengingat penyakit Covid-19 begitu cepat menyebar, menyerang banyak orang, dan virusnya sangat cepat bereplikasi. Sekarang gunakan saja yang ada. Herbal kita kebanyakan terbukti aman meski dikonsumsi dalam jangka panjang. Meski demikian ada juga yang konsumsinya harus hati-hati. Misalnya saat kita menderita perdarahan lambung, gangguan fungsi hati, atau gangguan ginjal.
Selain pengujian keamanan, pengujian khasiat secara klinis memberi nilai tambah untuk herbal kita. Beberapa hari lalu beredar kabar kalangan periset Filipina bekerja sama dengan University of Singapore menguji secara klinis khasiat asam laurat dalam minyak kelapa, bahan alam yang menjadi kebanggaan masyarakat Filipina.
Apa yang sebaiknya masyarakat lakukan agar terhindar dari pandemi korona?
Virus penyebab korona belum ada vaksinnya. Jalan terbaik adalah membangun sistem kekebalan tubuh untuk melawan virus sebelum sempat berkembang. Cara yang bisa kita lakukan terutama mengonsumsi gizi seimbang, cukup istirahat, rutin berolahraga, dan mengonsumsi suplemen kesehatan termasuk herbal. Tidak kalah penting adalah mengendalikan penyakit penyerta seperti diabetes melitus, hipertensi, atau kanker.
Kendalikan juga pikiran agar tidak muncul stres. Stres mengganggu sistem imun yang dibutuhkan tubuh untuk menangkis infeksi penyakit, termasuk virus CoViD-19. Selain herbal, suplemen juga bisa berupa bahan probiotik. Sistem imun juga memerlukan asupan zink yang lazim terdapat dalam bahan makanan kacang-kacangan, daging, ayam, atau makanan laut. Berjemur juga baik karena sinar matahari mengubah provitamin-D menjadi vitamin D yang diperlukan tubuh.***
