Wednesday, August 10, 2022

25 Herba, Imunitas, dan Korona

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Makanan bergizi lengkap menjaga kesehatan. (Dok. Trubus)

Melawan virus korona dengan gembira.

Trubus — ODO. Itulah anjuran gaya hidup yang baik dari praktisi terapi komplementer di Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara, dr. Royke Eduard Burhan. Anjuran itu terdiri atas olahraga, diet, dan otak. “Jantung yang sehat menjadikan peredaran darah lancar sehingga nutrisi dan komponen imunitas terkirim ke seluruh tubuh,” kata Royke. Nutrisi yang cukup untuk metabolisme dan pembentukan sistem kekebalan tubuh berasal dari diet atau pola makan yang baik. Itu mencakup asupan vitamin atau suplemen pelengkap yang kadang tidak tercukupi hanya dari makanan.

Tidak kalah penting, berjemur. “Sinar matahari mengubah provitamin D di bawah kulit menjadi vitamin D,” kata Royke. Kekebalan tubuh bekerja dengan baik kalau metabolisme dominan oleh hormon endorfin dan serotonin. Produksi kedua hormon itu lancar kalau hati bahagia, gembira, dan bebas stres. Mempraktikkan ODO berarti menjaga sistem imun tubuh dalam kondisi optimal. Sistem itu vital sebagai benteng pertama melawan infeksi, termasuk virus korona.

dr. Royke Eduard Burhan
penganjur ODO. (Dok. Pribadi)

Cepat dan lambat

Menurut Royke sistem kekebalan tubuh adalah hasil kerja sama yang kompleks. Yang terlibat adalah organ khusus, sel, dan zat kimia yang melawan infeksi. Komponen utama imunitas tubuh adalah sel darah putih (lekosit), antibodi, organ limpa, kelenjar thymus, dan sumsum tulang belakang. “Lekosit menjadi komponen kunci. Sel itu segera menyerang benda asing seperti bakteri, virus, cendawan, atau makhluk parasit lain dalam tubuh,” kata alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi, Manado, Sulawesi Utara, itu.

Lekosit beredar bersama aliran darah. Dalam hitungan menit, sel yang dibentuk di sumsum tulang belakang itu spontan menyerang makhluk asing yang menginfeksi tubuh. Ilmu kedokteran menyebut lekosit sebagai innate immune response yang bekerja sangat cepat. Namun, ada kalanya lekosit kewalahan sehingga ada zat antigen—penyebab penyakit—yang lolos lalu menempel di sel target. Itu sebabnya tubuh mempunyai komponen adaptive immune response. Sistem kedua itu kerjanya lebih lambat lantaran melibatkan banyak proses.

Royke menyatakan ada dua tipe sel yang terlibat dalam komponen adaptive immune response, yaitu sel T dan sel B. “Sel T menyerang atau menghancurkan patogen sementara sel B membuat antibodi khusus yang efektif melawan pemicu penyakit,” katanya. Antibodi atau imunoglobulin itu berupa protein yang nantinya melekat ke zat antigen sebagai penanda target bagi sel T. Dengan kata lain, sel B meningkatkan akurasi sel T dalam “menembak” penyebab penyakit. Saat “perang” itu berlangsung, hipotalamus meningkatkan suhu tubuh di sekitar jaringan yang terinfeksi.

Dokter di Rumah sakit Umum Daerah Lombok Utara, dr. Dewi Makhabah, Sp.P. (Dok. Pribadi)

Tujuannya mempercepat aliran darah. Makin cepat aliran darah, makin banyak lekosit atau sel imun yang terkirim di tempat yang terinfeksi. Kondisi itulah yang disebut radang. Gejala yang menyertai radang antara lain demam, bengkak, atau nyeri. Setelah antigen dihancurkan, sel T dan sel B tersimpan sebagai memori di organ limpa dan kelenjar getah bening. Memori itu berperan mempercepat respons ketika kelak terjadi infeksi oleh antigen yang sama.

Jika infeksi antigen itu terjadi di sistem pernapasan, gejala pertama yang penderita rasakan biasanya berupa sesak napas. Menurut dokter di Rumah Sakit Umum Daerah Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, dr. Dewi Nurul Makhabah, Sp.P., hal itu karena peradangan memicu pembengkakan yang lantas mempersempit saluran napas. Itulah peran zat antiradang, mengurangi gejala tanpa menghambat respons terhadap sel target. Bahan antiradang alami terkandung dalam banyak herbal antara lain kunyit, temulawak, atau jahe.

Asam laurat dalam VCO terbukti bersifat antivirus sehingga membantu sistem kekebalan tubuh melawan infeksi (baca “VCO versus Covid-19” halaman 68—69). Konsumsi daun moringa terbukti mampu meningkatkan jumlah lekosit yang menjadi baris terdepan menghalau infeksi virus (baca “Moringa Memperkuat Tubuh” halaman 54—55). Meniran yang lazim tumbuh liar pada musim hujan pun mampu mengurangi gangguan pernapasan akibat infeksi. Mempraktikkan ODO, mengonsumsi bahan alam, dan menjaga sanitasi menjadi modal utama menghalau virus. (Argohartono Arie Raharjo).

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img