Wednesday, January 28, 2026

Menanam Kopi Menjaga Air

Rekomendasi
- Advertisement -
Pohon kopi efektif menyerap air hujan.

Pohon kopi dan aren menjaga kelestarian air terjun.

Kepala Dusun Kalikecot, Sugiarto, S.T. (Dok. Sugiarto)

Trubus — Gemuruh air yang jatuh dari ketinggian 25 m terdengar dari tepi jalan. Air jernih mengalir tanpa henti meski kemarau panjang melanda Dusun Kalikecot, Desa Wadasmalang, Karangsambung, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Itu sebabnya sebelum mengalir ke Sungai Kedungbener, air itu mengalir ke bak penampungan milik perusahaan air minum setempat. Di tepi sungai, masyarakat memanfaatkan air itu untuk mengairi lahan pertanian.

Sebelum 2015 debit air curug Sindaro amat kecil, terutama ketika kemarau. Sadar pentingnya area resapan untuk mempertahankan Sindaro, kepala Dusun Kalikecot, Sugiarto, S.T. antusias saat Yuri Dulloh menawarkan untuk menanam kopi. Yuri pegiat kopi lokal di Kecamatan Ambal, Kebumen. Sejak 2015 secara bertahap mereka menanam kopi robusta dan liberika di area resapan Sindaro. “Sekarang hampir 10.000 pohon kopi tumbuh di sana,” kata Yuri.

Dua tahun berbuah

Pohon aren menghasilkan aren, ijuk, dan buah kolang kaling. (Dok. Trubus)

Setelah air terjun kembali deras, curug Sindaro (curug adalah air terjun kecil dalam bahasa Jawa, red.) di Desa Wadasmalang menarik minat pelancong. Area itu menyajikan pemandangan eksotis. Wajar air terjun bertingkat itu makin sohor dan menjadi tujuan wisatawan lokal di Kabupaten Kebumen. Pengunjung harus berjalan kaki 10—15 menit dari tempat parkir kendaraan. Meski demikian banyak plancong mengunjungi Sindaro terutama pada Idul Fitri. Itu memberikan tambahan penghasilan bagi warga di sekitarnya.

“Dahulu di sekitar Sindaro adalah kebun kopi yang bernama Alas Kopen,” kata Yuri Dulloh. Namun, pada 1980—1990 warga menebang kopi lalu menanam cengkih. Ketika itu perniagaan cengkih marak. Anjloknya harga cengkih pada pertengahan dekade 1990 membuat warga meninggalkan cengkih. Kebanyakan pohon mati terserang penyakit atau ditebang untuk kayu bakar. Itulah sebabnya daerah resapan rusak menyebabkan debit air terjun mengecil.

Yuri dan warga setempat kembali menanam kopi di area itu. Mereka menggunakan bibit kopi hasil perbanyakan generatif. Meski kebanyakan berasal dari biji, pohon-pohon kopi itu mulai berbuah pada umur 1,5—2 tahun. Yuri mengolah buahnya menjadi kopi khas Kebumen dan menyajikannya di kedai Yuam Coffee miliknya. Ia mengajari warga untuk memetik buah kopi secara selektif. Oleh karena itu, Yuri membayar lebih mahal kepada mereka yang menyetor buah kopi merah.

Air terjun Sindaro mengalir ke Sungai Kedungbener. (Dok. Sugiarto)

Ia juga menganjurkan warga memangkas agar produktivitas pohon terjaga. Sayang, produksi minim lantaran sekadar mengandalkan kemurahan alam. Pupuk hanya berasal dari seresah daun yang jatuh di sekitar pohon dan membusuk. Perhatian terhadap aren Arenga pinnata malah lebih minim lagi. “Pemilik lahan sampai mempersilakan masyarakat sekitar untuk memanfaatkan pohon aren di lahannya,” kata Sugiarto.

Untungnya lahan di area resapan air terjun Sindaro terbilang subur. Aren kerap memunculkan tandan lebih dari satu. Pemuda Dusun Kalikecot dengan dorongan Sugiarto belajar menyadap nira aren dan mengolahnya menjadi gula merah. Meski daerah mereka ditumbuhi pohon aren, sedikit yang mampu mengolah nira, ijuk, atau kolang-kaling.

Air berlimpah

Menurut Sugiarto di kecamatan lain, banyak produsen gula merah berbahan baku nira kelapa. Sugiarto mengakui mereka tertinggal. “Di kecamatan lain ada yang 100% pemudanya tidak pergi ke luar kota untuk memproduksi gula merah di desanya,” kata ayah 2 anak itu. Seiring meningkatnya keterampilan warga sekitar Sindaro, Sugiarto mengajukan permohonan bantuan 1.000 bibit aren kepada pemerintah daerah.

Pegiat kopi di Kecamatan Ambal, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah, Yuri Dulloh. (Dok. Trubus)

Kini ia mengurus permintaan bantuan kepada Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSSO). Menurut Sugiarto lembaga itu berkepentingan terhadap aliran sungai Kedungbener, yang airnya berasal dari Sindaro. Upaya penanaman kopi dan aren itu langsung menampakkan hasil, meski baru berjalan lima tahun. Pada Agustus 2019, sebagian warga di kecamatan sebelah Karangsambung kesulitan air bersih sampai harus meminta bantuan kepada pemerintah daerah.

Sebaliknya, warga Wadasmalang menikmati lancarnya pasokan air bersih meski kemarau pada 2019 terbilang ekstrem baik periode maupun intensitasnya. Menurut Sugiarto penghijauan di area resapan Sindaro belum optimal. Salah satu parameternya, ketika hujan deras air terjun menjadi keruh. Hal itu menandakan terjadi erosi di area resapan akibat permukaan tanah tergerus air hujan. Meski demikian ia yakin ketika hijauan di area resapan makin rimbun, erosi pasti berkurang.

“Sebagai bagian Geopark Karangsambung, Curug Sindaro penting dilestarikan. Masyarakat akan semangat terlibat kalau ada imbal balik secara ekonomi,” ujarnya. Kelestarian air curug Sindaro terjaga berkat penanaman kopi dan aren. (Argohartono Arie Raharjo)

Previous article
Next article
Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img