Thursday, August 18, 2022

Mengasuh Buaya Memanen Kulit

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Sebelum masuk inkubator, telur-telur itu diberi tanda penunjuk posisi atas-bawah. Di dalam kotak hangat bersuhu 31-33oC telur ‘dieramkan’ selama 90-100 hari. Selagi dierami posisi telur tidak boleh berubah. Bila berubah posisi telur gagal menetas. Dari 1.500 telur yang dipanen setiap tahun, PT Ekanindya Karsa-pengelola penangkaran buaya-berhasil menetaskan 1.000 telur.

Buaya ditangkarkan? Ya, areal berlokasi di salah satu sudut Cikande, Serang, itu memang penangkaran buaya. Sebuah kolam seluas lapangan sepakbola jadi habitat 304 induk buaya muara Crocodylus porosus-225 ekor di antaranya betina. Di tepi kolam tumbuh berderet pisang Musa paradisiaca. Di bawah naungan anggota famili Musaceae itu buaya air asin-sebutan lain buaya muara-berteduh.

Rumput liar di sekitar batang pisang dibiarkan tumbuh meninggi. Nantinya rumput, pelepah, dan daun pisang kering-ditambah jerami dan ranting kering yang didatangkan dari luar areal penangkaran-disebar di tepi kolam. Tiga hari sebelum bertelur buaya mengumpulkan sebaran ‘sampah’ itu menjadi tumpukan berdiameter 1-2 m. Letak tumpukan biasanya di bawah pohon pisang. Itulah sarang nyaman buat buaya betina bertelur.

Di habitat asli, di muara-muara sungai setiap betina reptil air itu menghasilkan 40-60 telur. Di penangkaran di tepi Sungai Cidurian itu induk betina rata-rata menghasilkan 30 telur. Produksi lebih rendah karena mereka bertelur di habitat buatan. Di habitat asli, air mengalir dan pakan beragam membuat mereka lebih kuat dan produktivitas tinggi.

Menurut Prof Dr Ir I Nyoman S Nuitja MSc MM, Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, peternakan buaya di Cikande, Serang, itu layak diacungi jempol. ‘Itu satu-satunya peternakan buaya di Indonesia yang mampu menangkarkan,’ katanya. Artinya, peternakan itu sudah mampu mengawinkan, menelurkan, dan menetaskan telur. Herpetoloog-ahli reptil dan amfibi-itu menyebut 25 tahun silam peternakan di Indonesia baru mampu membesarkan buaya.

Bayi buaya berumur sebulan, setara 25 cm, ditangkap dari alam. Lalu dibesarkan selama 3-4 tahun untuk diambil kulitnya. Sebut saja peternakan buaya di rumah-rumah penduduk di Palembang yang banyak berkembang pada era 70-an. ‘Yang ada hanya pembesaran. Peternak rakyat mengusahakannya sebagai sambilan,’ tutur Nyoman. Ketika itu hanya peternakan buaya di Bangkok yang telah berhasil menelurkan dan menetaskan buaya.

Di Cikande, 1.000 bayi buaya per tahun dirawat di tempat khusus berupa bak berukuran 1,5 m x 1 m. Ruangan dalam bak dibagi dua berupa kolam kecil dan tepian. Kolam itu ditutup dengan atap plastik yang bisa dibuka-tutup. Mereka menghuni ‘kamar bayi’ itu selama 3 bulan. Setelah itu mereka dipindahkan ke bak serupa dengan ukuran 2-3 kali lebih besar. ‘Bak yang lebih besar disebut ruang buaya remaja,’ kata Erick M Wiradinata ST, direktur PT Ekanindya Karsa. Di sana mereka hidup selama 6 bulan.

Lalu di ruang berukuran 5 m x 4 m yang dasarnya digenangi air setinggi 20-30 cm buaya dibesarkan hingga umur 3 tahun. Saat itulah anggota famili Crocodylidae itu siap disembelih. Kulitnya segera dipisahkan dari daging lalu disamak. Proses itu berlanjut pada pewarnaan, pemotongan, hingga pembuatan kulit menjadi barang jadi seperti tas, dompet, dan ikat pinggang. Waktu Trubus datang ke sana pada September 2008 terlihat 65 pekerja sibuk di bangunan pengolahan kulit.

Produk akhir kulit buaya itu mengisi pasar Jepang, Korea, Ukraina, Polandia, Perancis, dan Dubai. Hanya 15% dipasarkan di pasar lokal. Ekanindya Karsa juga mengekspor kulit setengah jadi. ‘Tapi jumlahnya masih terbatas,’ ujar Martin Wiradinata, manajer pengawasan kualitas. Sejatinya kuota didapat 2.500 lembar kulit Crocodylus novaeguineae-jenis ini anakannya masih dibolehkan diambil dari alam untuk dibesarkan dan diambil kulitnya-itu pun baru bisa dipenuhi 500 lembar kulit. Kuota seluruh Indonesia 13.500 per tahun.

Buat Nyoman yang doktor Ekologi Kelautan dari Tokyo University, penangkaran yang dimulai sejak 1999 itu bak laboratorium buaya nusantara. Selain C. porosus di sana hidup 12 buaya moncong panjang Tomistoma schlegelii.

Buaya air tawar yang hidup di perairan berkadar garam kurang dari 0,5 per mil itu berasal dari 14 telur yang didatangkan dari Jambi 5 tahun silam. Kini senyulong-sebutannya di Sumatera-sudah berpanjang tubuh 1-1,5 m. Di tanahair belum ada yang berhasil menetaskan telur tomistoma hasil penangkaran. Jenis lain yang hidup di sana, buaya air tawar papua Crocodylus novaeguineae-sebagai sumber kulit.

Penangkaran itu juga menjadi ‘rumah kos’ buaya dari peternakan lain yang tutup atau sitaan pemerintah. Sebut saja dari Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Cikananga, Sukabumi dan PPS Yogyakarta. Masing-masing 24 ekor dan 16 ekor. Menurut Halim Lowi, peternak buaya di Luwuk Utara, Sulawesi Selatan, banyak peternak buaya tutup karena terbentur biaya dan transportasi. Di Cikande, tubuh buaya milik pemerintah dipasang chip sebagai penanda. Total jenderal di lahan seluas 1,1 ha itu hidup 3.000 buaya.

Meski berlokasi di tepi sungai, air di kolam penangkaran berasal dari air limbah penyamakan kulit yang didaur ulang. Setelah melalui 4 bak: mulai proses pengendapan dengan kapur, tawas, karbon aktif, dan koagulan sampai filter akhir dengan arang aktif dan tawas, air limbah bebas busuk. Air lalu dialirkan ke selokan terbuka selebar 30 cm dan dalam 20 cm.

Di selokan itu Biological Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen Demand (COD) air diturunkan. BOD merupakan oksigen yang dibutuhkan mikroorganisme untuk mengurai pencemar bahan organik. COD ialah oksigen yang diperlukan mikroorganisme untuk menetralisir bahan kimia. Supaya air bisa digunakan untuk kehidupan mikroorganisme, jumlah keduanya mesti diturunkan.

Caranya dengan membiarkan lumut hijau tumbuh dan berfotosintesis di selokan. ‘Ganggang air memang punya kemampuan membebaskan air dari BOD dan COD yang tinggi,’ kata Prof Ir Judjono Suwarno, pakar pengolahan air dari Institut Teknologi Adhi Tama, Surabaya. Jumlah oksigen ditambah dengan membuat pancuran kecil di sepanjang selokan. Percikan air pancuran menangkap oksigen dari udara.

Sebagai polesan akhir, air masuk ke dalam 20 bak yang ditumbuhi eceng gondok-kecuali 2 bak terakhir berupa kolam lele dan nila. ‘Eceng gondok toleran terhadap logam berat dan menetralisir air dari logam berat dan polutan,’ ujar Judjono. Air aman untuk hidup buaya dan anak-anaknya jika lele dan nila tetap hidup. Pantas dengan semua aktivitas yang sinergis sejumlah herpetoloog dari Jerman dan Malaysia melakukan penelitian di sana.

Kini untuk meningkatkan kualitas kulit Ekanindya Karsa mulai melakukan sistem single breeding. Maksudnya 1 induk betina hanya dikawinkan dengan 1 induk jantan. Sebelumnya breeding dilakukan secara komunal di dalam kolam besar. Perbandingan jantan dan betina 1:2 atau 1:3. ‘Dengan sistem komunal sulit meneliti karakter induk yang menurun pada anakan,’ ujar Erick. Erick paham benar jika buaya diasuh dengan benar, didapatlah kulit yang lebih baik. (Destika Cahyana/Peliput: Imam Wiguna dan Nesia Artdiyasa)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img