Monday, November 28, 2022

Menghalau Kepiting dari Ovarium

Rekomendasi

Senyawa pada kulit manggis menghambat proliferasi sel kanker ovarium dengan memicu program bunuh diri sel kankerKulit manggis mengakhiri derita kanker indung telur.

 

Kristi Adelina hanya bisa terbaring setiap kali nyeri di perut bagian bawah sebelah kiri menyerang. “Rasanya seperti disayat-sayat, sakit sekali,” kata Kristi. Saat sakit mendera, tubuh pun terasa lunglai dan keringat dingin mengucur. “Menolehkan kepala saja sulit, tak ada tenaga,” ujar ibu satu anak itu. Kristi juga mengalami haid yang tak lazim, 3 kali; lazimnya, cuma sekali sebulan.

Penderitaan itu Kristi rasakan sejak Maret 2008. Ia tak lagi sanggup menahan sakit yang kian kerap mendera sehingga memeriksakan diri ke dokter spesialis kandungan dan kebidanan. Dokter mendiagnosis Kristi mengalami gangguan hormon. Setelah mengonsumsi obat resep dokter, kesembuhan tak kunjung datang. Ia pun kembali memeriksakan diri di klinik berbeda di Cilandak, Jakarta Selatan.

Positif kanker

Dokter di klinik itu mendiagnosis Kristi positif kanker indung telur. Diagnosis itu berdasarkan hasil ultrasonografi yang  menunjukkan adanya tujuh benjolan di indung telur sebelah kiri. Setiap perempuan memiliki dua indung telur di sisi kanan dan kiri rahim. Fungsinya menghasilkan sel telur (ovum) serta hormon. Diameter benjolan bervariasi, antara 1-4 cm, persis seperti anggur yang menempel pada dinding indung telur.

Menurut ginekolog dari Rumah Sakit Islam Siti Hajar, Sidoarjo, Jawa Timur, dr Kerry Ramlan Kartosen SpOG, semua benjolan tidak lazim yang muncul di tubuh disebut tumor. Bila tidak segera diatasi, sel tumor akan berkembang pesat dan ganas yang akhirnya berubah menjadi kanker yang acap disimbolkan dengan kepiting. Kristi akhirnya menjalani tes darah untuk mengetahui kadar CA (cancer antigen) 125. Kadar CA 125 merupakan protein penanda tumor yang lazim digunakan untuk memantau pertumbuhan sel kanker ovarium.

Hasil tes menunjukkan kadar CA tergolong tinggi, yakni mencapai 472,90 U/ml, kadar normal kurang dari 35 U/ml. Itu berarti Kristi positif menderita kanker ovarium. Dalam Journal of National Cancer Institute, Roberta B Ness mengatakan bahwa sel kanker ovarium dapat bermula dari sel epitel di bagian permukaan indung telur, sel yang memproduksi sel telur, dan sel pendukung yang memproduksi hormon. Untuk mengatasi kanker itu, dokter yang memeriksa menyarankan Kristi agar segera menjalani operasi.

“Kankernya sudah parah, kemungkinan sudah menyebar ke usus,” ucap dokter seperti ditirukan Kristi. Hasil diagnosis itu pukulan berat bagi Kristi dan keluarga. Karena berhasrat sembuh, sang suami langsung setuju untuk operasi. Namun, Kristi malah menolak. “Saya pikir-pikir dulu,” ujarnya. Perempuan 45 tahun itu merasa takut menjalani operasi. Selain itu  biaya operasi relatif mahal. “Setelah operasi masih harus kemoterapi, efeknya masih panjang,” kata pehobi berocok tanam  itu.

Manggis

Di tengah kesedihan itu, Kristi teringat artikel herbal untuk mengatasi kanker pada sebuah majalah. Itulah sebabnya, usai tiba di rumah ia membongkar kembali tumpukan majalah untuk mencari artikel itu. Sesaat menjelang pagi, ia baru menemukan artikel itu. Kristi segera menemui dokter dan herbalis di Tangerang Selatan, Provinsi Banten, itu.

Setelah memeriksa Kristi, herbalis itu memberikan beragam herbal seperti ekstrak kulit manggis, daun sirsak, sambiloto, rimpang kunyit, rimpang temulawak, dan daun jambu biji. Kulit manggis mengandung antioksidan tinggi yang mampu membantu mengendalikan sel kanker. Kulit buah anggota famili Clusiaceae itu mengandung senyawa xanthone, salah satu antioksidan.

Nilai oxygen radical absorbance capacity (ORAC)-indikator kandungan antioksidan-kulit manggis mencapai 17.000-20.000 unit per 100 gram. Daun sambiloto berperan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Bila kekebalan tubuh meningkat, maka tubuh lebih mudah mengatasi serangan penyakit. Adapun daun sirsak yang mengandung acetogenins berkhasiat mengatasi kanker. Kristi mengonsumsi obat berupa seduhan dan kapsul secara rutin tiga kali sehari.

Selain itu ia juga mengubah gaya hidup, antara lain menjadi vegetarian. Bukan sekadar vegetarian, ia pun selektif mengonsumsi bahan pangan. Kedelai dan penganan olahannya, misalnya, ia pantang karena meningkatkan produksi estrogen. Hormon itu mempercepat pertumbuhan sel kanker indung telur.

Teratur

Menurut dokter dan herbalis di Yogyakarta, dr Sidi Aritjahja, penderita kanker juga mesti menghindari  konsumsi bahan makanan bersifat karsinogenik alias pemicu kanker. Makanan itu dapat mempercepat perubahan sel kanker atau tumor dari jinak menjadi ganas. Sidi menyarankan agar pasien kanker menghindari makanan seperti tempe, tapai, dan oncom. Sebab, kapang dalam proses peragian merangsang pembentukan pembuluh darah baru pada kanker.

Herbalis di Yogyakarta, Lina Mardiana, menuturkan bahwa pasien kanker juga mesti berpantang aneka makanan hewani, emping, petai, kangkung, sawi, bayam, sawo, nanas, dan alpukat. Soal makanan dan konsumsi obat, Kristi patuh betul pada saran dr Paulus. Setelah sebulan mengonsumsi, rasa sakit yang kerap mendera mulai berkurang. Itu sejalan dengan menurunnya kadar CA yang  96,10 U/ml. Dua bulan usai pemeriksaan itu, datang bulan kembali teratur. Rasa nyeri sama sekali hilang.

Itu yang mendorong Kristi melakukan ultrasonografi. Pemeriksaan itu membuktikan bahwa kanker di ovarium tampak  mengecil. Hasil beberapa kali memeriksa kadar CA, kondisi terus membaik. Pada September 2008 kadar CA 65,30 U/ml, turun menjadi 37,70 U/ml pada Februari 2009, dan 23,40 U/ml (April 2009). Hasil pemeriksaan terakhir pada Agustus 2011 kadar CA tetap normal, yakni 19,30 U/ml.

Bagaimana duduk perkara kulit manggis mengakhiri kanker ovarium? Menurut ahli farmasi dari Universitas Indonesia, Dr Berna Elya Apt MSi, senyawa pada kulit manggis menghambat proliferasi sel kanker dengan mengaktivasi enzim yang memicu apoptosis atau program bunuh diri sel kanker. Guru besar Fakultas Farmasi, Universitas Indonesia, Prof Dr Sumali Wiryowidagdo MSi Apt, menuturkan kulit manggis bekerja dengan cara menghambat perkembangan dan mematikan sel kanker.

Sidi berpendapat antioksidan pada kulit manggis mampu membantu memperbaiki sel-sel tubuh yang rusak sehingga Kristi merasa sangat sehat dan segar. Ia bahkan mampu menyetir mobil sendiri dari Jakarta ke kampung halamannya di Sumatera Utara. Meski kondisinya membaik, Kristi tetap mengonsumsi kulit manggis untuk menjaga daya tahan tubuh dan membantu mengempiskan benjolan yang tersisa. Berkat kulit manggis, kisah derita akibat kanker pun berakhir sudah. (Susirani Kusumaputri/Peliput: Andari Titisari)

 

  1. Senyawa pada kulit manggis menghambat proliferasi sel kanker ovarium dengan memicu program bunuh diri sel kanker
  2. Penderita kanker ovarium dilarang mengonsumsi kedelai dan penganan olahannya,  karena meningkatkan produksi estrogen
  3. dr Sidi Aritjahja, “Penderita kanker juga mesti menghindari  konsumsi bahan makanan bersifat karsinogenik.”
Previous articleRival Baru Asam Urat
Next articleAdu Domba Parasit

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img