Friday, January 16, 2026

Mengolah Wortel Menjadi Tepung

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id— Wortel biasanya hanya digunakan sebagai pelengkap sup. Namun, di tangan CV Be Organik International, sayuran berwarna jingga itu diolah menjadi tepung atau bubuk.

Menurut Kepala Penjualan dan Penawaran CV Be Organik Internasional, Aditia Warman, S.I.Kom., bubuk wortel kali pertama diproduksi sejak peghujung 2020. Pasokan wortel organik dari petani di Jawa Tengah.

Wortel organik yang dipilih harus memiliki kadar air yang tidak terlalu tinggi. Sayangnya, Aditia tidak menyebutkan nilai kandungan air yang dibutuhkan untuk pengolahan bubuk wortel.

Namun, makin tinggi kandungan air mengakibatkan pengendapan ketika pengolahan. Beberapa kriteria lain yaitu wortel panjang 15—20 cm dan bobot per umbi maksimal 80 gram.

Beberapa tahapan pengolahan bubuk wortel yaitu pembersihan dan pengeringan menggunakan oven. Setelah kering pekerja menggiling dan menyaring wortel. Selanjutnya pekerja mengemas bubuk wortel dalam kaleng plastik transparan.

Masa simpan bubuk wortel 6 bulan sejak kemasan dibuka dan 10—12 bulan dalam keadaan tersegel bila disimpan dalam suhu ruang (25—26°C). Satu kemasan bubuk wortel berbobot 80 gram membutuhkan 0,5 kg wortel segar.

Produksi bubuk wortel mencapai 60—80 kaleng per pekan. Tujuan awal pembuatan bubuk wortel untuk mengajak anak-anak agar suka makan sayuran. Kelebihan sayuran dalam bentuk bubuk yaitu tidak berbau tetapi tidak memengaruhi rasa apabila dicampur dengan masakan.

“Kandungan vitaminnya sama baiknya seperti sayuran segar,” kata alumnus Program Studi Broadcasting, Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Mercu Buana, itu.

Perusahaan yang bertempat di Kelurahan Kedoya Utara, Kecamatan Kebonjeruk, Jakarta Barat, itu sudah memiliki sertifikat pertanian organik sebagai produsen pangan olahan organik sejak Agustus 2022. Sertifikat organik itu dikeluarkan oleh Indonesia Organic Farming Certification (Inofice).

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img