Pesan kebangsaan dan cinta tanah air di kreasi rangkaian bunga. Merah putih tampil seronok.

Trubus — Maria Theresia Dellaocta menghias rumahnya dengan dua rangkaian bunga penyemarak 17 Agustus. Warga Jakarta Selatan itu berkreasi dengan tiga bingkai kayu yang sejatinya digunakan sebagai hiasan dinding. “Bingkai kayu itu biasanya dimanfaatkan untuk meletakkan tanaman-tanaman mini atau keramik hias,” katanya. Alih-alih memilih vas, Della justru memakai bingkai itu untuk meletakkan materi flora.

Sarjana Desain Interior alumnus Universitas Kristen Maranatha itu mengusung warna merah dan putih pada rangkaian bikinannya. Kedua warna itu terinspirasi dari warna bendera nasional. Della memanfaatkan mawar, anyelir, dan daun hanjuang sebagai flora untuk mewakili warna merah. Sementara lili untuk mewakili warna putih. Ada pula silver dust yang berwarna keperakan dan baby’s breath kering yang telah diberi warna terakota.
Estafet generasi
Dellaocta sengaja memilih bunga dalam kondisi mekar dan kuncup sebagai bahan rangkaian. “Keduanya memiliki simbol lintas generasi yakni dewasa dan remaja,” katanya menjelaskan pesan dalam rangkaian. Ia meletakkan seluruh materi flora pada floral foam yang dipasang di sisi kiri bagian dalam bingkai. Perangkai bunga itu menggunakan teknik itu lantaran ingin membuat rangkaian horizontal.

Di bagian belakang kumpulan flora, ia menancapkan ijuk kering untuk menambah kesan etnik pada rangkaian. Della menuturkan, kreasi pertamanya merupakan rangkaian satu sisi. “Oleh karena itu, paling cocok diletakkan di sudut maupun sisi ruangan,” katanya. Agar suasana rumah kian semarak, ia lantas membuat rangkaian meja. Pada rangkaian keduanya itu ia menggunakan flora utama yang sama, yakni lili putih, mawar merah, hanjuang merah, dan anyelir.

Materi flora tambahan berupa bunga kaspea kering untuk memperindah rangkaian. Gaya asimetris pada rangkaian itu begitu terasa lantaran Della menyisipkan ranting asparagus kering hanya di sisi kanan. Hasilnya penampilan rangkaian terkesan unik dan modern. Selain Della, Lucia Raras, perangkai bunga di Jakarta Selatan juga antusias menyambut hari kemerdekaan. Raras, sapaannya, membuat rangkaian bunga berpenampilan atraktif .
Seluruh materi flora melekat pada floral foam yang dipasang di antara dua kayu kering berbentuk lancip. Raras pun mengusung warna merah putih pada rangkaiannya. Pilihannya jatuh pada seruni merah dan anyelir putih. Kedua bunga itu tampak mencolok saat berpadu dengan dedaunan. Pada rangkaian pertama itu Raras menyelipkan dedaunan seperti ivi, asparagus bintang, dan lili paris.
Ada juga biji-bijian berupa hiperikum dan beri. Ketua umum Ikatan Perangkai Bunga Indonesia (IPBI) itu menerapkan teknik gunting dan tancap pada seluruh bahan yang digunakan, kecuali lili paris. Raras membuat bentuk simpul dahulu pada ujung daun lili paris untuk memberi kesan artistik. Bisa dibilang Raras memang terampil bermain dengan dedaunan.
Kreasi daun
Perangkai bunga profesional itu juga membuat rangkaian bunga bergaya rustic. Rangkaian itu menarik lantaran berada dalam dandang. Penampilannya begitu semarak karena berisi banyak jenis flora seperti anthurium hijau, seruni putih, mawar merah, snapdragon ungu, silver dust, philodendron, hiperikum, beri-berian, paku-pakuan, dan asparagus bintang.

Raras menuturkan rangkaian itu layak untuk menemani perayaan hari kemerdekaan yang begitu meriah. Menjelang perayaan hari kemerdekaan masyarakat mulai sibuk dengan sejumlah kegiatan. Ada yang menghias gapura dengan cat warna-warni. Ada pula yang memasang umbul-umbul dan bendera. Rangkaian bunga sarat makna itu juga mampu mempercantik ruangan. (Andari Titisari)
