Thursday, February 9, 2023

Merawat Burung Paruh Bengkok agar Menjadi Juara saat Kompetisi Terbang Bebas

Rekomendasi

Trubus.id — Perawatan optimal menjadi salah satu upaya agar burung paruh bengkok jadi pemenang saat kompetisi terbang bebas. Lihat saja perawatan yang dilakukan Ferdian Rully, S.T., M.M., terhadap burung paruh bengkok kesayangannya.

Pehobi asal Kelurahan Pepelegi, Kecamatan Waru, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, itu memelihara burung macaw jenis Blue and Gold (BnG). Burung itu ia beri nama Juwel. Ferdian melatih Juwel dengan intensif, pagi dan sore selama 2 pekan menjelang lomba.

Tiap kali latihan burung harus terbang selama 20 menit. Ia juga rutin menjemur burung selama 1 jam setelah latihan terbang pagi. Pemilik burung harus mengetahui kapan suasana hati (mood) burung baik untuk latihan.

Hal ini karena burung sering hinggap atau mengikuti burung lain ketika mood burung tidak baik. Menurutnya, merawat dan melatih burung tak ubahnya seperti merawat anak bayi. Makanan juga perlu diperhatikan pemilik burung.

Makanan tiap burung berbeda meskipun jenisnya sama. Ferdian rutin memberikan jus buah seperti pisang, apel, dan kiwi saat pagi. Untuk sore hari, jus almon setelah latihan. Burung hanya membutuhkan sekitar 60 ml jus tiap kali makan.

Banyak metode memberikan makanan untuk burung, baik dengan meletakkan jus pada wadah maupun menggunakan alat loloh (spet). Namun, Ferdian lebih menyukai memberi makan burung kesayangannya itu dengan teknik loloh.

Ia meyakini dengan spet, ikatan antara pemilik atau pelatih dengan burung lebih erat. Makanan juga berpengaruh pada bobot burung. Bobot ideal burung yakni 900–1.000 gram sangat cocok untuk mengikuti lomba.

Jika bobot burung terlalu rendah, burung mudah lemas. Jika bobot terlalu berat, burung mudah lelah. Menurut Paman Darmo, salah seorang juri kompetisi burung terbang bebas (freefly), burung yang ikut lomba harus rutin latihan dan mempersiapkan fisik yang prima.

Juri pada kelas Large itu mengatakan, burung-burung juara merupakan burung yang terlatih sejak lama. Pemilik hanya mematangkan potensi dan koordinasi dengan burung menjelang kompetisi. Tiap peserta pasti mengetahui burung potensial juara.

Paman Darmo menambahkan, kesehatan dan pakan burung juga perlu diperhatikan. Menjelang lomba, sebaiknya pemilik tidak memberikan pakan biji-bijian setiap hari karena berpengaruh pada bobot burung.

Juri freefly sejak 2018 itu mengatakan, tidak ada batasan umur untuk burung. Pada kelas Small dan Medium, batas waktu terbang pada masing-masing burung hanya 3 menit untuk babak penyisihan hingga final. Alasannya, pada kategori itu burung tidak memakai alat Global Positioning System (GPS).

Adapun kelas Large terbagi menjadi 2 bagian, yaitu solo dan duo. Burung diberikan waktu selama 20 menit untuk terbang, sedangkan pada babak semifinal dan final tidak diberikan batasan waktu.

Burung disematkan alat GPS untuk memantau jarak dan ketinggian terbang. Burung yang layak jadi pemenang adalah burung yang terbang jauh dan disiplin yakni tidak hinggap sembarangan, hanya pada pemiliknya.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Racikan Bahan Alami Berkhasiat Perlu Dilakukan Pengujian Terlebih Dahulu

Trubus.id — Apa saja yang dipetik dari alam tidak serta-merta tergolong jamu. Suatu racikan alami dari berbagai jenis daun,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img