Saturday, January 24, 2026

Meredam Gejolak Harga Cabai

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id— Naik-turun harga cabai memang suatu yang lumrah. Cabai termasuk komoditas rempah yang tidak bersubstitusi. Ia tidak bisa digantikan oleh lada, misalnya, yang sama-sama memberikan rasa pedas.

Kala produksi melampaui daya serap pasar, harga otomatis turun. Sebaliknya jika kekurangan pasokan, harga langsung membumbung. Sejatinya petani dapat memprediksi harga cabai, dengan memperhatikan volume pasokan dan permintaan pasar.

Data-data produksi, kebutuhan, dan pasar pada beberapa tahun lalu bisa dipelajari sebelum memutuskan untuk menanam. Sayangnya, akibat kebiasaan pola pikir yang keliru dan sifat latah para pekebun, harga cabai selalu berayun-ayun, kadang tinggi, kadang rendah.

Ketika harga naik mereka beramai-ramai menanam. Maka bisa diduga, 3 bulan kemudian harga turun. Begitu seterusnya. Seharusnya pekebun menanam cabai dengan pertimbangan luas tanam pada saat itu. Jika luas penanaman di sentra-sentra melebihi kebutuhan, ya, jangan menanam. Pasalnya, serapan pasar cabai terbatas.

Artinya apa? Gejolak harga bisa diredam andai produksi mendekati angka kebutuhan—bisa lebih atau kurang, tapi tidak terlalu banyak. Namun, itu pun harus memperhatikan sebaran produksi.

Anggota keluarga kentang-kentangan ini tidak seperti padi atau bawang yang bisa disimpan lama. Daya simpan cabai paling lama 1 minggu. Karena itu pertimbangan penanaman harus mengacu pada kebutuhan dan pasokan setiap minggu.

Harga tak bisa stabil bila penanaman terfokus pada bulan-bulan tertentu, sementara bulan lain kosong. Toh, sebetulnya cabai tak mengenal musim, kapan pun bisa ditanam, kendati dengan cara penanganan budidaya sedikit berbeda.

Namun tentu saja, permintaan itu juga pasang surut. Menghadapi Lebaran, misalnya, permintaan cabai naik. Begitu juga pada bulan-bulan yang banyak kenduri, kebutuhan akan cabai meningkat secara signifikan.

Untuk mewujudkan keseimbangan harga, masing-masing daerah perlu mengatur jadwal penanaman dan luas tanam. Jangan sampai pekebun beramai-ramai menanam cabai. Akibatnya harga bisa jatuh ke titik terendah.

Kalau sudah begitu jangankan meraih untung, untuk biaya petik saja tidak cukup. Di lapangan para petugas mungkin kesulitan mengatur waktu tanam dan kuota di masing-masing sentra atau pekebun.

Masalah ini perlu segera diatasi agar produksi cabai sesuai kebutuhan. Itulah harapan semua insan yang terlibat dengan cabai. Termasuk konsumen yang menyenangi masakan pedas, mereka tidak ingin harga cabai mengalami gonjang-ganjing.

Demikian pekebun berharap tanaman cabai yang dikelolanya bisa memberikan kepastian keuntungan.

Artikel Terbaru

Mengenal Superflu: Benarkah Ini Penyakit Baru?

Belakangan ini istilah "superflu" mendadak ramai dibicarakan. Menurut dosen dari Fakultas Kedokteran, Institut Pertanian Bogor (IPB), Dr. dr. Desdiani,...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img