Monday, August 15, 2022

Merpati Hias : Corak Batik Terbaik

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Si Kuda Hitam, merpati MOF blondinette pemenang Best of Best.(Dok. Akbar Makmur)

Merpati jenis modern oriental frill blondinette menjadi jawara kontes nasional.

Trubus — Merpati hias jenis modern oriental frill blondinette (MOF blondinette) milik Akbar Makmur menjadi yang terbaik di kelasnya. Di babak final raya (grand final) ia merah gelar best of the best. Kuda Hitam, nama merpati hias itu, mengungguli lebih dari 40 burung merpati hias jawara di masing-masing kelas. Akbar tidak heran Kuda Hitam menjadi yang terbaik dari para jawara meskipun baru dua kali mengikuti kontes.

Kuda Hitam benar-benar menjadi kuda hitam—pada awal kegiatan tidak terlalu mendapat perhatian, tetapi berhasil memberikan pengaruh signifikan terhadap peristiwa itu dengan menjadi jawara.  Merpati berumur setahun itu memang keturunan induk berkualitas. “Ketika kontes nasional di Bogor tahun lalu, bapaknya Kuda Hitam, Asoka, yang jadi juara di kelasnya,” ujar pehobi dari Makassar, Sulawesi Selatan, itu.

Konsumsi vitamin

Melati jabun, jenis merpati endemik yang perdana dimasukkan ke dalam kategori kelas kontes tersendiri. (Dok. Trubus)

Menurut Akbar keunggulan Kuda Hitam dalam bekur atau performa selama kontes. Juri kontes, Prihardjono, mengatakan, kemolekan merpati MOF blondinette paripurna ketika paruh ekstrem pendek mirip burung paruh bengkok. Menurut Prihardjono sosok ideal merpati MOF blondinette juga berpola bulu bak dasi di bagian leher simetris, bentuk tubuh proporsional, warna bulu gradasi dari kepala sampai ujung ekor dengan pola batik, serta kaki berbulu.

Kuda Hitam yang mengikuti kontes Bogor Fancy Pigeon Show : Steak Gunting Cup 2020 memiliki kriteria itu. Kuda Hitam mendekati kesempurnaan sehingga mengalahkan 31 pesaing di kelasnya. Harap mafhum, Akbar menjaga stamina merpati koleksinya karena menempuh perjalanan lebih dari 1.000 km. Kunci perawatan pada pemberian vitamin. Ia rutin memberikan satu kapsul minyak ikan dan satu tablet vitamin B kompleks saban pekan.

Pehobi merpati hias sejak 2018 lalu itu memberikan pakan pur 594. Selain itu sepekan sekali merpati hias itu mengonsumsi beras merah, kacang hijau, dan jagung mungil. Menurut Prihardjono pakan komponen terpenting untuk menunjang performa burung selain genetik. Pakan membuat merpati lebih berstamina, berbulu cerah, dan tentunya sehat. Selain itu Akbar juga menjemur merpati-merpati hias saban pekan sekali mulai pukul 07.00 selama sejam.

Kunci perawatan lain, Akbar memandikan merpati bercorak batik itu sekali sepekan. Dua hari sebelum kontes, Akbar berangkat bersama Kuda Hitam dengan 5 merpati hias miliknya. Setelah tiba di Bogor, Jawa Barat, panitia memberikan tempat istirahat khusus merpati berupa kandang. Sebuah kandang untuk sepasang merpati. Menurut ketua penyelenggara kontes, Joko Wikono, peserta kontes memiliki kualitas yang lebih baik ketimbang kontes nasional sebelumnya.

“Lebih baik secara kebersihan dan keindahan merpati. Jadi, benar-benar terawat semua. Bulunya bagus, performa bagus, staminanya bagus,” kata Joko. Ketua Indonesian Fancy Pigeon Community (IFPC) itu menduga selama pandemi para pehobi lebih banyak kesempatan merawat sehingga menghasilkan merpati berkualitas bagus.

Kelas baru

Para pemilik merpati peraih best of the best. Dari kiri: Akbar Makmur, Prasetyo Benny, dan Syafiq. (Dok. Trubus)

Kontes di Bogor yang pertama selama pandemi korona. Panitia membuka pendaftaran sistem daring. Meskipun begitu, peserta kontes mencapai 730 merpati hias yang terbagi menjadi 50 kelas kontes. Selain itu pandemi memengaruhi cara penjurian. Semestinya, ada juri-juri internasional dari luar negeri seperti Filipina dan Thailand. Namun, pada kontes kali ini juri-juri internasional berasal dari domestik.

Empat juri yang hadir pada kontes nasional itu adalah Prihardjono dari Jakarta, Frans Wibawa (Jawa Barat), Rachmat Basuki (Jawa Timur), dan Jemmi Harun dari Sulawesi Selatan. Ada yang baru pada kontes kali itu, yaitu kelas baru khusus merpati hias endemik Indonesia, tepatnya Jawa Timur, yaitu melati jabun. Menurut Jowie, sapaan Joko Wikono, “Jabun ini paling susah dicari, karena, matanya harus hitam, paruhnya harus hitam.”

Ciri lain jabun, tubuhnya harus putih mulus dan bersimbar atau kaki berbulu. Pantas jabun merupakan merpati langka. Pada kontes itu para pehobi merpati hias dari Banten, Jawa Barat, Jawa Timur, hingga Makassar mengikutkan koleksinya untuk beradu elok. Kelas terbesar yaitu Show King yang diikuti 50 ekor merpati.  (Tamara Yunike)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img