Thursday, December 8, 2022

Net House 1,5 Hektar untuk Putsa

Rekomendasi

Penggunaan net house untuk penanaman putsa dan pepaya mampu menekan serangan hama hingga 70%Banderol Rp130.000 per kg putsa impor di sebuah pasar swalayan di Bandung, Jawa Barat, membuat Eric Wiraga tercengang lalu mengebunkan apel india itu.

 

Pengusaha garmen asal Bandung itu memiliki sejumlah lahan di Subang, Jawa Barat, yang ditanami aneka buah-buahan. Saat ide menanam putsa muncul, ia langsung membersihkan 1,5 ha lahan yang semula dihuni alang-alang. Gulma dibasmi, bedengan selebar 1 m dibuat.  Di bedengan itu setiap 3 m ia membuat lubang tanam yang dibenami pupuk kandang sapi. Itulah lubang tanam untuk bibit putsa Zizyphus zizyphus setinggi 30 cm. Eric yang kerapkali berkunjung ke Pulau Formosa untuk urusan bisnis, menyempatkan diri membawa batang atas putsa Taiwan ke Subang. Rasa putsa Taiwan  lebih  manis daripada putsa asal Thailand (baca: Di Antara Tiga Pilihan, Trubus Juli 2006). Di Subang, batang atas itu disambung dengan batang bawah bidara laut.

Tak ada yang istimewa sampai tahap itu. Namun, begitu bibit ditanam muncul perbedaan dibanding pekebun putsa lain.  Lahan seluas 1,5 ha itu ia tutup seluruhnya dengan net berkerapatan 20% untuk mencegah masuknya hama. Net house setinggi 6 m menutup keempat sisi dan bagian atas lahan seluas 1,5 ha. Itulah net house terluas di Indonesia untuk putsa, mengadopsi teknik menanam buah-buahan – terutama pepaya – di Taiwan, seperti yang disaksikan Trubus saat berkunjung ke Taichung, sentra hortikultura di Taiwan tengah.

Rumah Rp1-miliar

“Mereka melakukannya untuk melindungi tanaman dari serangan hama,” kata William Ang, kolega Eric yang juga perwakilan sebuah perusahaan benih hortikultura asal Taiwan di Indonesia. Pengalaman Mulyono Sutedjo yang mengebunkan chinese date asal Thailand pada 2004 di Singkawang, Kalimantan Barat, jujube itu memang rentan serangan hama ulat. Serangan itu menyebabkan daun dan buah menjadi berlubang. Sebanyak 30 pohon di kebun Mulyono kini tak bersisa akibat serangan ulat. Menurut Eddy Susanto, penangkar buah di Jakarta,  hama utama pada putsa adalah lalat buah, kutu putih, dan ulat yang menyerang buah dan daun. Serangan bisa menyebabkan gagal panen.

Menurut William penggunaan jaring dapat menekan penggunaan pestisida. Sobir PhD, kepala Pusat Kajian Buah Tropika (PKBT) IPB, menuturkan penggunaan pestisida di Taiwan relatif tinggi. “Penggunaan net house sangat efektif untuk mencegah hama, tetapi pada daerah bercurah hujan tinggi bisa mengundang penyakit datang karena kelembapan tinggi,” kata Sobir.

Pekebun di Pulau Formosa menggunakan rumah jaring yang atapnya bisa dibuka-tutup. Rumah jaring dibongkar ketika musim panas tiba pada Juni – September agar tidak rubuh jika taifun – yang frekuensinya tinggi di musim kemarau – muncul. Kerepotan itu berharga karena di sana putsa sudah menjadi komoditas ekspor. Di tanahair baru sedikit orang mengebunkan tanaman anggota famili Rhamnaceae itu.

Rumah jaring di kebun Eric dibuat permanen hingga bisa bertahan 10 tahun. Untuk itu penggemar koi itu membangun rangka rumah jaring dari besi senilai Rp1 – miliar. Di dalam kerudung rumah jaring putsa mendapat pemupukan kotoran sapi dua kali setahun sebanyak 1 kg per pohon. Sebanyak 500 sprinkle menyemburkan air setiap pukul 06.00 selama sejam.

Putsa yang ditanam pada awal 2011 mulai belajar berbuah pada umur 8 bulan. Buah mulus, berukuran besar dengan bobot 50 g sekilo isi 20 buah, dan rasa manis. Namun, setahun mendatang Eric memperkirakan ukuran buah lebih besar sekilo terdiri dari atas 12 buah. Produksi pertama mencapai 100 kg per 1,5 ha per bulan. Eric memperkirakan produksi optimal pada saat tanaman berumur 2 tahun. Ketika itu dari satu pohon diperkirakan ia bisa menuai 10 kg buah per tahun atau total jenderal 10 ton per 1,5 ha. Hasil panen perdana dijual di kebun Rp25.000 per kg.

Pepaya pendamping

Sambil menunggu putsa berbuah maksimal, Eric menanam pepaya tainung sebagai tanaman pendamping. Eric memilih pepaya karena cepat panen dan harga jualnya relatif tinggi. Karena dilindungi net, tanaman bebas serangan hama. Mimpi buruk pada 2010 karena 700 pohon pepaya gagal panen akibat serangan kutu putih, Paracoccus marginatus, pun tak terulang. Hama pengisap cairan tanaman itu pernah merugikan pekebun di Boyolali sampai Rp11,4 – miliar pada 2009.

“Sekarang pepaya bisa dipanen matang pohon karena tak ada serangan hama, rasa manisnya bisa maksimal,” kata Eric yang menjual pepaya hasil kebunnya Rp9.000 per kg. Buah matang pohon tanpa khawatir bersaing dengan tupai atau kelelawar. Eric rutin memanen 900 pohon pepaya di kebun. Saat  putsa mulai berproduksi optimal pada 2013, kebun pepaya dibongkar dan apel india pun tumbuh leluasa. (Susirani Kusumaputri)

 

^       Penggunaan net house untuk penanaman putsa dan pepaya mampu menekan serangan hama hingga 70%

>       Tanaman putsa di kebun Eric sedang belajar berbuah

Eric Wiraga adopsi sistem rumah jaring yang lazim digunakan di Taiwan

Di malam hari Eric juga memasang perangkap hama di dalam rumah jaring

Putsa kerap diserang hama, terutama ulat yang menyerang daun

Penggunaan rumah jaring membuat pepaya bebas gangguan hama, berkulit mulus, dan bisa matang pohon

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img