Friday, December 2, 2022

Nikmat Daun

Rekomendasi

Kira-kira begitulah hasil diskusi di Taipeh, Taiwan, tentang membangun ecocity, kota berwawasan lingkungan. Dari Indonesia antara lain hadir ketua Asosiasi Bunga Indonesia (Asbindo), Karen Sjarief Tambayong. ‘Singapura sudah mulai menanam pohon-pohon yang daunnya enak dimakan,’ katanya. Ia sendiri mulai memperhatikan daun melinjo yang disebut so dan nikmat disayur asam. Daun singkong, lembayung, dan kenikir untuk pecel.

Tentu, ada juga bayam untuk sayur bening dan gedi untuk bubur manado. Pakar kuliner, Bondan Winarno, suka memetik daun salam koja, disangrai sebentar sebagai pengganti bawang goreng. Itulah daun temurui, yang banyak dipakai di Aceh sebagai bumbu gulai. Semua daun pada dasarnya bisa dimakan. Kalau tidak, bagaimana kambing, gajah, kerbau, jerapah, lembu, dan herbivora lainnya bisa gemuk, sehat, dan kuat?

Perpanjang umur

Masalahnya manusia ingin lebih bijak dari seluruh hewan. Bayangkan, kalau kita harus memberi asupan 5 – 10% dari bobot tubuh masing-masing, berapa porsi makanan harus kita telan setiap hari? Kalau rata-rata bobot tubuh manusia 60 kg saja, berarti harus mengunyah dan menelan makanan 3 – 6 kg. Gawat! Dengan memasak, kita tidak perlu makan sebanyak yang diperlukan domba atau sapi.

Apa lagi kalau pandai mengolah konsentrat dan farmasi. Cukup menelan satu atau dua kapsul seujung kelingking saja sudah kenyang dan kuat seharian. Itulah beda manusia dengan hewan yang tidak memanfaatkan api, tak perlu punya dapur, tak usah kompor, microwave, oven, penanak nasi, dan seterusnya. Meski begitu, kita tetap harus menjadi lebih bijak. Apa salahnya kalau dapur tidak diperlukan lagi di setiap rumahtangga.

Siapa yang melarang kita hidup hanya dengan buah? Menjadi frutarian! Minum madu langsung dari alam dan menyerap vitamin dari sinar matahari? Bukankah air juga dapat diperkaya dengan berbagai mineral yang diperlukan untuk berumur panjang dan tetap tertawa sehari-hari? Yang jelas, kita tidak bisa lagi mengelak dari semakin besarnya kebutuhan konsumsi, dan semakin menyempitnya lahan-lahan pertanian.

Kalau toh dibuka perkebunan, ladang, dan sawah baru, akibat buruknya, merusak lingkungan, lebih terasa ketimbang manfaatnya. Daun menjadi penting pada saat kita berhadapan dengan perubahan iklim dan pemanasan global. Berjuta-juta pohon ditanam di berbagai penjuru dunia, karena kita percaya hanya pohon yang dapat memperpanjang umur planet ini.

Terendam

Banyak jiwa melayang karena tidak sanggup menghadapi cuaca yang menjadi ekstrim panas, atau sangat dingin, diamuk badai, puting beliung, dan pergolakan akibat perubahan cuaca. Ada yang harus pindah, meninggalkan kawasan pantai. Di atas semua itu, baik warga kota maupun desa sama-sama harus menghadapi terganggunya sumber-sumber makanan.

Itulah yang harus ditangani, baik oleh generasi yang sedang tumbuh, masih akan lahir, maupun yang sudah hampir pergi. Tentu bukan hal yang luar biasa sulit. Sejak zaman purba nenek-moyang mengajar kita makan bermacam pakis dan kaktus. Sampai sekarang pun kita masih melahap batang bambu muda yang disebut rebung dan daun-daun mentah yang disebut lalapan.

Artinya, banyak tumbuhan layak dimakan, nikmat dan menyehatkan. Berkat seni kuliner, daun, bunga, dan bijibijian bisa dijadikan tepung untuk bahan daging buatan. Yang kita harapkan lebih dari sekadar lezat, juga hemat energi dan praktis. Memang ada banyak bahan makanan alternatif dari getah dan umbi yang dapat diolah dan disajikan setelah racunnya dinetralisir dan dimasak berhari-hari.

Contoh getah aren dan kelapa bisa dimasak menjadi gula. Sayangnya untuk itu perlu banyak bahan bakar. Di pedesaan Jawa Tengah, pada masa lalu orang merebus sadapan kelapa berhari-hari. Kalau turun hujan, dan tidak punya persediaan kayu bakar, dinding bambu dan perabotan rumah dikorbankan agar api tetap menyala dan gula bisa matang. Padahal, setelah menjadi gula aren dan gula kelapa, harganya murah sekali.

Jangan sampai daun baru dapat dimakan dengan menghabiskan banyak energi, waktu, dan biaya. Yang kita harapkan justru daun itulah yang menjadi uang dan bahan bakarnya. Dalam banyak kesempatan kita melihat daun menjadi berkah. Mulai dari bahan pupuk kompos, daun untuk obat-obatan, sampai daun hias yang setiap lembar mencapai berjuta-juta rupiah.

Konsumsi daun yang paling umum sehari-hari kita lihat pada industri tembakau dan teh. Itulah bisnis daun yang paling rutin dan menjadi komponen penting dalam ekonomi. Sedangkan perniagaan daun lalapan dan daun hias belum menjadi primadona. Padahal, di sanalah sebenarnya terletak akses kepada pasar dan uang. Daun hias diperlukan setiap hari untuk hotel, restoran, pesta nikah, rapat, dan seminar di berbagai penjuru dunia.

Inspirasi daun

Manusia memang sudah lama berutang budi pada daun. Daun laurel telah menjadi mahkota para kaisar Romawi, pada masa lebih dari 2.000 tahun lalu. Begitu juga daun zaitun, simbol perdamaian sampai sekarang. Kita masih menunggu peran daun yang lebih penting dari sekadar penyedap dan pewangi seperti daun salam dan pandan. Lebih dari daun beluntas penghilang bau keringat dan daun simbukan untuk obat sakit perut.

Ataukah hanya sekadar pelunak daging seperti dilakukan daun papaya dan penghilang amis kepiting seperti dilakukan daun nanas? Tentu juga lebih dari sebagai pembungkus nasi seperti dilakukan oleh daun combrang, kol banda, daun pisang,dan daun jati. Sampai pada suatu hari, kita sarapan, makan siang, dan makan malam hanya dengan daun, yang jelas berjuta-juta ragamnya. Melebihi nikmatnya daun ubi dan bayam yang digoreng tepung sebagai tempura.

Semoga kecintaan, kecermatan, dan kesungguhan hati manusia dapat menemukan daun rasa ikan, daun rasa daging, rasa gula, rasa keju, rasa asam, rasa cokelat, dan rasa surgawi, seperti konon diberikan oleh daun ganja dan tembakau itu. Kita akan makan daun bukan sebagai pertanda kiamat sudah dekat, tapi sebagai isyarat bahwa khalifatullah di bumi bisa arif dan bijaksana. Belajar menikmati daun berarti ikut tanggap dan cerdik dalam merespons pemanasan global.

Inti dari kampanye cinta pada daun adalah mengobarkan semangat membela dan melindungi pohon. Ada berbagai macam pohon yang nyaris terabaikan, karena diversifikasi yang rendah. Penghijauan dan hutanisasi yang miskin variasi, menjebak manusia pada varietas yang itu-itu saja: mahoni, angsana, asam, tanjung, trembesi, palem, dan 200-an jenis lainnya. Padahal, ada puluhan ribu macam tumbuhan. Bahkan kalau setiap orang punya pohonnya sendiri, tidak banyak yang bisa persis sama.

Itu dapat dimulai dari mengenal setiap lembar daun. Kita perlu membaca daun sebagai surat dari Tuhan. Di sana ditulis manfaat, nama, dan sejarahnya, bahkan pesan-pesan penting lainnya. Apakah selembar daun hanya berkata: aku dapat dimakan? Atau sambil gugur sempat berbisik lembut: suatu saat kau juga harus kembali ke tanah? Tidak. Daun-daun yang tulus hati juga berbicara bahwa mereka bisa menjadi obat, membawa penghiburan, memperpanjang umur, bahkan mencegah pemanasan global, dan ancaman kelaparan.

Daun sebagai sumber pangan inilah tantangan terbesar untuk masa datang. Selamat berkenalan dengan daun-daun (muda maupun tua) yang Anda cintai. Jangankan untuk memulai bisnis baru; untuk hidup baru pun, selembar daun dapat membantu kita. Peran pertama selembar daun adalah memberikan inspirasi, bagaimana hidup bahagia dan berguna di bumi ini.***

Eka Budianta *

*) Eka Budianta, penyair, budayawan, direktur Jababeka Botanic Gardens, kolumnis majalah Trubus sejak 2001.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Terluka dan Tidak Bisa Terbang, Petugas Mengevakuasi Burung Rangkong

Trubus.id — Petugas Balai Besar KSDA Sumatra Utara, mengevakuasi burung rangkong yang ditemukan terluka di kawasan konservasi Suaka Margasatwa...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img