Saturday, August 13, 2022

Pasar Butuh Itik Jantan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Itik-itik itu lalu dipasok ke pengepul besar di surabaya untuk masuk ke restoran dan rumah makan. Dengan harga jual Rrp17.000 – Rp18.000 perekor, doddy meraup pendapatan Rp5,1-juta – Rp9-juta perminggu.

 

Itik pejantan umur 2 bulan sudah lama dimanfaatkan sebagai pedaging. Namun, jumlahnya terbatas karena tidak banyak yang memelihara. Padahal, seyogyanya para mania daging itik lebih memilih daging itik jantan muda ketimbang itik betina apkir. ‘Yang jelas daging pasti lebih empuk karena dipotong muda,’ tutur Doddy. Berbeda jika mengkonsumsi itik apkir, sepandai-pandainya memasak tetap agak alot. Maklum itik apkir berasal dari itik betina berumur 1,5 – 2 tahun. Para peternak mengapkir itik itu setelah 1 – 1,5 tahun dipelihara sebagai penghasil telur.

Itik jantan jarang diternak khusus lantaran ketersediaan DOD (day old duck = itik umur sehari)-nya langka. Para produsen DOD tidak menginginkan kehadirannya. ‘Harga DOD betina jauh lebih mahal dibandingkan DOD jantan,’ kata Agus Priyanto, peternak di Desa Cempoko Sawit, Boyolali, Jawa Tengah. Harga sekarang DOD betina Rp5.000; DOD jantan Rp3.900 per ekor.

Jadi, sebelum telur-telur ditetaskan disortir dulu agar yang keluar DOD betina. Telur yang diperkirakan jantan, langsung dibuang sebagai telur konsumsi. Dengan penyortiran seperti itu, pantaslah jumlah DOD jantan sedikit, kurang dari 10%.

Mulai marak

Jika DOD tersedia, beternak itik jantan untuk pedaging cukup menguntungkan. Tengoklah peternakan itik milik Joko Purwanto di Depok, Jawa Barat. Ada 3 kandang masing-masing berukuran 1,2 m x 60 cm yang terbagi dalam 4 tingkat. Setiap tingkat diisi 100 DOD, sehingga total populasi 1.200 ekor. Setelah berumur seminggu itik dipindahkan ke kandang-kandang umbaran berukuran 4 m x 7 m yang diisi 350 ekor/unit. Joko memiliki 17 kandang umbaran. Dalam 2 bulan itik-itik itu sudah berbobot 1,2 kg, siap dijual.

Hitung-hitungan Joko, untuk membesar-kan 100 ekor dibutuhkan biaya Rp2.270.000. Biaya itu sudah termasuk pembelian DOD, pakan, tenaga kerja, dan penyusutan kandang. Dengan harga jual Rp26.350/ekor, keuntungan bersih yang diraih dosen arsitektur di Universitas Gunadarma itu dalam 2 bulan Rp365.000 per 100 ekor. Keuntungan Joko kian menggelembung, karena dengan pemeliharaan bertahap setiap minggu bisa dipanen 1.000 – 1.200 itik jantan pedaging.

Nun di Cipanas, Cianjur, Jawa Barat, Muryono pun mengembangkan itik jantan. Bedanya, ia menggunakan itik jantan jenis khusus: itik raja dari Kalimantan. Itik yang mencapai bobot 2 kg dalam 3 bulan itu didatangkan pada Februari 2009. Ia memeliharanya di kandang berukuran 5 m x 8 m. Dari 350 DOD, pria yang bertugas di bagian Komunikasi dan Elektronik, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, itu bisa menjual sebanyak 300 ekor atau senilai Rp8,7-juta. Muryono tidak perlu repot-repot memasarkan karena pengepul dari Depok, datang ke kandang.

Di Jawa Timur pun pembesaran itik jantan untuk pedaging mulai marak. Buktinya setiap hari Mahmudi di Desa Bacet, Kecamatan Ponggok, Blitar, memasok 3.000 – 4.000 DOD ke lebih dari 15 peternak di seputaran Blitar, Jawa Timur. Tak ayal harga DOD jantan pun terkerek naik. ‘Penyedia DOD di Tangerang kini tak membedakan harga jantan dan betina: sama rata, Rp5.000/ekor,’ ujar Willy Budiman, peternak di Kelapagading, Jakarta, yang kini tengah membesarkan 1.200 itik jantan.

Pasar besar

Meski harga DOD jantan terus melambung, para peternak pembesaran tak merasa keberatan. Ini tidak lain agar para pengusaha penetasan telur pun bergairah. Mereka tidak perlu melakukan sortir. Ujung-ujungnya DOD jantan bisa didapatkan dengan mudah, karena jumlah yang dihasilkan dari penetasan sama banyaknya dengan betina. Toh dengan harga DOD Rp5.000/ekor, keuntungan dari usaha pembesaran itik jantan masih layak.

Diharapkan dengan maraknya pembesaran itik jantan, kebutuhan daging itik bisa terpenuhi. Musababnya itik betina apkir yang selama ini jadi tumpuan, tidak bisa dijamin kontinuitas pasokannya. ‘Peternak itik petelur tidak akan menjual itik-itiknya sebelum masa produksi usai,’ kata Joko. Sementara kebutuhan daging itik terus meningkat.

Ia menganalisis di sepanjang Jalan Margonda, Depok, Jawa Barat, saja – yang setiap hari dilalui Joko – terdapat 70 warung tenda penyedia daging itik. Bila masing-masing warung tenda itu setiap hari menyerap 3 ekor, maka kebutuhan sebulan mencapai 6.300 itik. Itu di luar jumlah kebutuhan rumah-rumah makan. Sebagai contoh, rumah makan Artani di Jalan Juanda, Depok, meminta pasokan 30 ekor untuk pelanggannya.

Di Jakarta kondisinya setali 3 uang. Sebut saja rumah makan Bebek Goreng Yogi di Kebonjeruk, Jakarta Barat, yang menyediakan menu bebek goreng, bebek sambal rica, bebek goreng mercon, dan bebek sambal hijau. Restoran itu mampu menjual 350 ekor per hari. Penjualan di rumah makan di Cempakaputih, Jakarta Pusat, bahkan mencapai 1.000 ekor/hari.

Permintaan kota-kota besar lain seperti Solo dan Yogyakarta, tidak kalah besar. Di Kartasura, Solo, rumah makan Pak Endut menghabiskan 400 ekor setiap hari dan di kawasan Maliboro, Yogyakarta, 25 – 50 ekor per minggu. Itu belum termasuk kebutuhan 11 cabang di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Jambi, Bali, dan Bandung, yang ditotal sekitar 15.000 – 20.000 ekor per bulan.

Wahyu Nugroho, pemilik rumah makan Pak Endut cabang Yogyakarta, mendapat pasokan itik apkir dari Solo, Boyolali, Sragen, dan Klaten. Selama itu memang tak pernah kekurangan. Namun, jika permintaan daging itik terus meningkat, ‘Pasti akan kelimpungan,’ imbuhnya. Apalagi jika konsumen menuntut daging itik yang lebih empuk, sehingga perlu lebih banyak lagi peternak khusus itik pejantan. ‘Daging itik jantan umur 2 – 3 bulan lebih lembut dan lebih cepat matang – hanya 1 jam; apkir 4 jam,’ ujar Ngesti dari rumah makan Artani.

Demikian saat dipresto dengan menggunakan itik jantan muda, presto hanya memakan waktu 10 menit. Itu yang dilakukan Doni, pemilik rumah makan Glanmore di Lentengagung, Jakarta Selatan. Artinya, pasar kini butuh itik jantan. (Lastioro Anmi Tambunan)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img