Monday, August 8, 2022

Nyala Api Buah Dokter

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Bungkil jarak pagar yang dipadatkan dan dikeringkan dapat dijadikan bahan bakar kompor iniMelonjaknya harga minyak tanah dan berkurangnya pasokan gas bumi membuat bahan bakar alternatif seperti biji jarak pagar menjadi pilihan. Masyarakat memeras biji jarak pagar Jatropha curcas (bahasa Yunani: iatros berarti dokter, thrope bermakna nutrisi) untuk mengambil minyaknya. Sayangnya, mereka membuang bungkil sebagai limbah padat. Padahal, kandungan minyak di bungkil juga berpotensi sebagai bahan bakar. Sebagai gambaran, kandungan minyak biji jarak pagar mencapai 34%.

Mesin pemeras terbaik saat ini hanya mampu memeras minyak maksimal 28%. Sisanya 6%  tersimpan dalam bungkil. Itu pula yang mendasari Prof Dr Bambang Prastowo, Ir Riyadi, Ir Dibyo Pranowo, dan Ir Abi Dwi Hastomo dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan (Puslitbangbun) di Bogor, Jawa Barat, membuat  tungku berbahan bakar jarak pagar. Penelitian jarak pagar itu berlangsung di Pakuwon, Sukabumi, Jawa Barat, sejak 2005. ”Manfaat jarak pagar bukan hanya minyak, tetapi juga bungkilnya,” kata  Bambang profesor di bidang mekanisasi pertanian.

Sedikit asap

Pengguna dapat memanfaatkan bungkil basah hasil perasan biji jarak sebagai bahan bakar di tungku. Dalam pemakaiannya, tungku berbentuk bulat itu perlu mendapat cukup aerasi  agar api menyala stabil. Caranya dengan menaruh batang bambu di tengah-tengah tungku sebelum meletakkan bungkil-bungkil biji jarak. Begitu hendak menyalakan bungkil, pengguna mengangkat batang bambu. Teknik sederhana itu menjadikan kadar oksigen cukup sehingga pembakaran berlangsung sempurna. Satu buah tungku menampung 2 kg bungkil yang menyala 24 jam nonstop.

Menurut Prastowo sasaran utama tungku bungkil jarak pagar adalah masyarakat yang sulit mendapatkan minyak tanah atau masih memanfaatkan kayu bakar. Mereka pada umumnya menggunakan tungku untuk memasak. ”Sebagian masyarakat masih enggan menggunakan kompor gas karena takut meledak. Mereka sangat antusias menerima tungku briket jarak,” kata Prastowo. Para peneliti itu memang menguji coba tungku jarak di Kabupaten Lampung Utara, Kabupaten Lampung Selatan, dan Kabupaten Sukabumi.

Pilihan lain, mengolah bungkil menjadi briket berkadar air 7%. Pemanfaatan briket  jarak sangat praktis karena penyimpanan lebih mudah, lebih awet karena tahan bertahun-tahun tanpa busuk. Tungku briket jarak pagar berbentuk seperti tabung setinggi 30 cm lengkap dengan lubang aerasi di bagian bawah. Di bagian tengah terdapat tempat untuk meletakkan briket. Prastowo mengatakan, tungku briket itu bisa juga terbuat dari tanah liat mirip anglo yang banyak digunakan di pedesaan.

Sebuah tungku menampung 15 briket sepanjang 4 cm dan berdiameter 2 cm. Jumlah itu cukup menyalakan api selama dua sampai tiga jam. ”Untuk memasak  4 liter air butuh 25 menit,” ujar Prastowo.  Menyalakan briket perlu pancingan dengan meneteskan spritus atau minyak tanah, maupun memakai kertas atau serasah yang dibakar. Selama memasak, pengguna dapat menambahkan briket sesuai kebutuhan lewat sisi tungku. Penggunaan briket juga lebih nyaman karena pembakaran hanya menghasilkan sedikit asap.

Biji utuh

Selain bungkil dan briket, pekebun sebetulnya dapat langsung memanfaatkan biji jarak  utuh yang kering. Penjemuran biji di bawah sinar matahari selama 6 jam memadai untuk menghasilkan biji jarak siap pakai. Gunakan tungku khusus biji jarak yang bagian tengah berongga untuk sirkulasi udara. Api hasil pembakaran biji lebih besar karena kandungan minyak masih tinggi. Sekali menyala, api mampu bertahan hingga tiga jam.

Namun, penggunaan biji utuh untuk bahan bakar berpotensi ”merugikan” pekebun. Alasannya, pekebun kehilangan minyak jarak yang juga multimanfaat, antara lain untuk bahan bakar. Pembakaran 3 kg biji berarti pekebun kehilangan 1 liter minyak jarak. Padahal, pekebun pun dapat menggunakan minyak jarak kasar hasil perasan sebagai bahan bakar kompor. Kompor berkapasitas empat liter minyak, mampu menyala 16 jam. Satu liter minyak jarak untuk memasak empat jam. Kompor itu menggunakan sumbu layaknya kompor minyak tanah.

Menurut Prastowo biaya pembuatan tungku-tungku itu relatif murah, maksimal Rp100.000 per tungku, sehingga terjangkau oleh masyarakat. ”Tungku hasil riset kami tidak ada yang dipatenkan. Masyarakat silakan menirunya. Yang terpenting adalah masyarakat dapat segera memanfaatkannya,” kata Prastowo. Harap mafhum, jarak sempat sohor pada 2005 ketika pemerintah menggadang-gadang buah anggota famili Euphorbiaceae itu sebagai bahan bakar nabati.

Namun, perkembangan selanjutnya masyarakat meninggalkan jarak pagar dengan beragam alasan seperti tak ekonomis. Prastowo membuktikan pemanfaatan bungkil, briket, atau minyak jarak untuk bahan bakar sebuah keniscayaan. Dari biji jarak pagar itu, masyarakat memiliki empat pilihan sebagai bahan bakar: biji utuh, minyak, bungkil hasil perasan, atau briket.  (Susirani Kusumaputri)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img