
menjadi bahan baku aneka
produk. (Dok. Trubus)
Mengolah anggur laut menjadi aneka produk seperti es krim dan menu utama di restoran.
Trubus — Sekilas es krim bikinan Ria Safitri dan Eva Firnanda sama dengan produk sejenis di pasaran. Keunikan es krim itu terasa ketika sudah masuk ke dalam mulut. Bulatan-bulatan hijau kecil dalam es krim buatan pelajar SMA Mazra’atul Ulum, Lamongan, Jawa Timur, itu, pecah lalu terasa sedikit asin dan gurih di permukaan lidah. “Es krim itu berbahan baku anggur laut,” kata Ria Safitri.
Lazimnya masyarakat di daerah Putri—sapaan akrab Ria Safitri—mengolah anggur laut menjadi urap atau lalapan. Ada juga yang mengolah anggur laut menjadi salad. Jadi, olahan anggur laut menjadi es krim merupakan ide baru. Putri dan Eva membuat es krim dari Caulerpa sp. agar disukai anak-anak dan orang dewasa. Harap mafhum, sebagian orang enggan mengonsumsi alga hijau itu karena amis.

Raih penghargaan
Putri dan Eva pun akhirnya sepakat membuat es krim anggur laut dengan nama Si Latoh. Latoh merupakan sebutan anggur laut oleh masyarakat pesisir di Pulau Jawa. Respons masyarakat pun relatif bagus dengan adanya produk olahan itu. “Saat ini kami memproduksi sekitar 600 cangkir es krim anggur laut per bulan,” kata Putri. Pemesan lazimnya menyajikan es krim anggur laut pada acara pernikahan dan ulang tahun. Pelanggan masih berasal dari Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.
Pasokan lawi-lawi—sebutan anggur laut di Sulawesi Selatan—berasal dari perairan di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Kegiatan ekstrakurikuler kewirausahaan SMA Mazra’atul Ulum—produsen Si Latoh—menjalin kerja sama dengan para petani anggur laut di daerah itu. “Kami tidak lagi mencari anggur luat sendiri di laut,” kata Putri. Lebih lanjut ia menuturkan kandungan anggur laut dalam es krim mencapai 10%. Selain potongan, Putri dan Eva pun mencampur jus anggur laut dengan adonan es krim.

Medali emas dari Festival Inovasi dan Kewirausahaan Siswa Indonesia (FIKSI) 2019 bukti lain respons positif kehadiran Si Latoh. Para juri yang berprofesi sebagai chef menilai positif kreasi Putri dan Eva.
Sebetulnya kedua pelajar itu tidak menyangka mendapatkan medali emas pada ajang besutan Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas (PSMA), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yang berlangsung di Bandung, Jawa Barat, itu. Kini Putri dan Eva tidak lagi terlibat langsung sebagai produsen es krim anggur laut. Pekerjaan itu diteruskan oleh adik kelas mereka yang tergabung dalam kegiatan ekstrakulikuler kewirausahaan.
Hasil budidaya
Selain es krim, olahan lain anggur laut yakni menjadi rujak. Menu itu salah satu andalan Mentari Lovina Bar & Kitchen di Kabupaten Buleleng, Bali. “Respons pengunjung sangat bagus dengan menu anggur laut. Mereka menyebutnya green caviar. Sangat bagus untuk kesehatan,” kata pemilik Mentari Lovina Bar & Kitchen, I Made Swastika. Mayoritas pengunjung Mentari Lovina Bar & Kitchen adalah turis mancanegara.

Lamongan, Jawa Timur. (Dok. Ria Safitri)
Pelanggan restoran menyebut green caviar karena penampilan anggur laut yang mirip kaviar tapi berwarna hijau. Saat ini di Buleleng hanya restoran itu yang menyajikan alga anggota famili Caulerpaceae itu. Sejak awal I Made Swastika meyakini konsumen menyukai menu anggur laut. Itu bisa terjadi karena penjelasan produk yang baik dan benar kepada para konsumen. “Makanan bagus bisa dicampurkan ke mana saja. Bisa sebagai makanan pembuka, garnish, dan menu utama,” kata I Made Swastika.
Ia memang berhasrat memperkenalkan bulung boni—sebutan anggur laut di Bali—sebagai makanan enak dan bagus. Selain itu ia juga ingin berbeda dari restoran lainnya. Menurut juru masak di Mentari Lovina Bar & Kitchen, Komang Latra Hendrawan, menu berbahan anggur laut hadir sejak dibukanya restoran pada September 2018. Pasokan anggur laut berasal dari hasil budidaya, bukan dari laut langsung.
Pembudidaya anggur laut di Kabupaten Buleleng, Bali, Kadek Lila Antara, S.Pi., M.P., mengatakan, anggur laut hasil budidaya memiliki beberapa keunggulan seperti tidak amis dan berbau menyengat. (Riefza Vebriansyah)
