Monday, August 15, 2022

Paku Adiantum: Cegah Mereka Tinggal Nama

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Tanaman langka dan terancam punah hidup nyaman di dalam rumah kaca.

Pembangunan Bendungan Three Gorges di Provinsi Hubei, Cina, menuai kontroversi. Pihak yang setuju menyatakan pembangunan bendungan itu memberi banyak manfaat. Sementara kelompok lain berpendapat bendungan itu berpotensi menimbulkan banyak masalah. Sejatinya pembangunan itu tidak hanya merugikan penduduk sekitar, tetapi juga aneka flora endemik setempat. Seperti jenis paku-pakuan.

Proyek konservasi air terbesar di dunia itu merenggut habitat salah satu paku endemik Cina seperti Adiantum reniforme var. sinense. Jika tidak ada upaya penyelamatan bisa jadi tanaman anggota famili Adiantaceae itu tinggal nama alias punah. Ancaman lain yang merusak habitat paku itu perburuan oleh manusia untuk pengobatan. Menurut JX Liao dan rekan dari Kebun Raya Wuhan, Cina, adiantum memiliki efek terapi pada penyakit kuning dan infeksi saluran kemih. Kepunahan semakin nyata karena paku yang tumbuh di tepi Sungai Yangtze itu memiliki kemampuan reproduksi rendah.

18 spesies

Beruntung Kebun Raya Dr Cecilia Koo yang berdiri pada 2007 berhasil menyelamatkan tanaman itu. Dr Li Chia Wei penggagas utama Dr Cecilia Koo Botanic Conservation Center (KBCC). Tujuan utama pembangunan KBCC sebagai tempat konservasi tanaman tropis dan subtropis serta menjaga kekayaan hayati dunia tetap lestari. Kebun raya itu mengumpulkan 30.000 jenis tanaman dan menjadi tempat perlindungan tanaman paling penting di dunia pada 2020. Tujuan yang paling utama mengembalikan tanaman koleksi ke habitat aslinya. Paku Adiantum reniforme var. sinense kini menghuni Kebun Raya Dr Cecilia Koo.

Sebutan Cecilia berasal dari nama ibu donatur kebun raya, Leslie Koo, yang juga Ketua Pengusaha Semen Taiwan. Jadi, KBCC kebun raya satu-satunya di dunia dengan kepemilikan pribadi. Koleksi lain KBCC Angiopteris itoi, jenis paku endemik Taiwan yang terancam punah. “Di alam paku jenis itu kurang lebih tersisa 100 individu,” ucap Chun Ming Chen, Manajer Koleksi KBCC. Selain itu, KBCC menjadi tempat bernaung Pyrenaria buisanensis, jenis teh endemik dan terancam punah asli Taiwan. Di alam kehadiran tanaman yang dideskripsikan oleh S Sasaki itu tidak lebih dari 30 individu.

Kebun raya seluas 2,8 hektar itu menetapkan 18 famili tanaman sebagai target utama konservasi. Delapan belas famili tanaman itu meliputi Araceae, Asclepiadaceae, Bambusoideae, Begoniaceae, Bromeliaceae, Gesneriaceae, Heliconiaceae, Marantaceae, Musaceae, Orchidaceae, Palmae, Pteridophyte, Rutaceae, Succulents, Theaceae, Zingiberaceae, tanaman air, dan tanaman karnivora.

Lazimnya kebun raya itu hanya menerima peneliti dan guru sekolah. Berkat kerja sama baik yang terjalin antara Trubus dan penangkar tanaman hias Taiwan, Jung Sheng Lin, rombongan Exotic Taiwan Agro Tour dapat mengunjungi kebun raya itu. Inilah rekaman foto wartawan Trubus Onny Untung dan Riefza Vebriansyah menyusuri kebun raya di Pingtung, Taiwan, itu.***

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img