Saturday, August 13, 2022

Pandemi Korona Pasar Bergairah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Indonesia sebagai negara produsen mengoptimalkan produksi sarang walet. Permintaan sarang stabil bahkan meningkat selama dan pascapandemi virus korona. (Dok. Trubus)

Permintaan sarang burung walet justru meningkat saat pandemi virus korona.

Trubus — Banyak industri gulung tikar akibat wabah virus korona atau Covid-19. Namun, tidak dengan insdustri sarang burung walet. Menurut Ketua Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPSBI), Dr. Boedi Mranata, sejak merebaknya virus korona pada akhir 2019 hingga akhir semester awal 2020, permintaan sarang burung walet dari Tiongkok cenderung stabil. “Tidak ada kendala di permintaan, malah cenderung naik,” kata Boedi.

Ketua Perkumpulan Pengusaha Sarang Burung Indonesia (PPSBI), Dr. Boedi Mranata. (Dok. Trubus)

Menurut Boedi salah satu pemicu permintaan meningkat karena berita di televisi lokal Tiongkok. Pemerintah setempat menganjurkan warganya mengonsumsi sarang burung walet sebagai pangan sehat saat pandemi korona. Dampakanya permintaan sarang walet melambung dan tren konsumsi meningkat. Sayang, Boedi belum memiliki data yang menunjukkan tren permintaan naik saat pandemi. Namun, indikatornya berupa peningkatan pembelian dari pangsa pasar konsumen kelas menengah ke bawah.

Permintaan meningkat

Boedi mengatakan, “Semula konsumen sarang burung walet dari kalangan menengah ke atas. Saat pandemi, pangsa pasar meningkat terutama dari kalangan menengah ke bawah,” kata doktor Biologi alumnus Universitas Hamburg, Jerman, itu. Harap mafhum, budaya konsumsi sarang walet memang sohor di Tiongkok. Beragam lapisan masyarakat sudah mengenal faedah sarang burung walet secara empiris turun-temurun.

Konsumsi sarang walet memang membudaya di negeri Tirai Bambu itu. Hal itu ditunjang dengan beragam riset sehingga masyarakat Tiongkok makin meyakini khasiat sarang walet. Riset anggota staf Badan Karantina Pertanian, Dr. drh. Helmi, mengungkapkan, liur emas bersifat antiviral terutama virus H-5N-1 atau flu burung. Menurut Helmi mekanisme kerja ekstrak sarang burung walet dengan menghambat pelekatan virus ke reseptor di permukaan sel inang.

Memenuhi permintaan konsumen kelas menengah ke bawah tentu perlu penyesuaian produk. Tujuannya agar lebih ekonomis. Boedi mencontohkan, jika produk permium untuk pangsa pasar konsumen menengah ke atas berbentuk mangkuk sempurna dan besar, maka produk lebih ekonomis biasanya sarang berbentuk mangkuk tidak sempurna atau terdapat patahan dan berukuran lebih kecil.

Sarang walet salah satu komoditas pangan pilihan masyarakat Tiongkok saat pandemi korona. (Dok. Trubus)

Meskipun permintaan stabil bukan berarti tanpa kendala. Menurut produsen walet di Jakarta, Harry Wijaya, kendala selama pandemi adalah distribusi sarang. Misalnya pada Maret 2020 pengiriman langsung ke Tiongkok terhambat. “Saat Tiongkok menerapkan kebijakan lockdown (kuncitara, red), pengiriman terhambat karena pesawat sulit masuk,” kata Harry Wijaya.

Menurut Boedi pengiriman sarang walet ke Tiongkok menjadi kendala. Tiongkok melakukan pembatasan saat pandemi. Namun, itu bukan kendala berarti dan bisa disiasati. Caranya dengan pengiriman transit ke beberapa daerah terlebih dahulu sebelum ke Tiongkok. “Kondisi normal lama pengiriman hanya 1 hari. Namun, saat pandemi bisa hingga 3 hari karena transit,” kata pria asal Banyuwangi, Jawa Timur, itu.

Optimis

Pangsa pasar sarang walet di Tiongkok meningkat terutama kelas menengah ke bawah. (Dok. Trubus)

Kendala lain dari sektor pemrosesan atau pabrik. Efek penerapan pembatasan sosial bersakala besar (PSBB) menyebabkan banyak pabrik pencucian sarang walet tutup sementara waktu. Akibatnya produksi tersendat. Namun, menurut Boedi, sarang walet salah satu komoditas ekspor unggulan, pabrik bisa beroperasi dengan menerapkan aturan sesuai standar PSBB. Berdasarkan regulasi PSBB perusahaan harus mengecek suhu para pegawai.

Sementara para karyawan menggunakan masker dan sarung tangan serta menjaga jarak minimal 1 kursi kosong antarpekerja. Meski terkendala, Boedi optimis pasokan ekspor ke Tiongkok meningkat pada 2020. Tren ekspor sarang burung walet ke negeri tirai bambu memang terus meningkat sejak ekspor perdana pada 2015. Misalnya pada 2018 mencapai 120 ton per tahun, meningkat pada 2019 menjadi 140 ton per tahun.

Target dari PPSBI peningkatan minimal 25% saban tahun. Artinya jika volume ekspor sarang walet dari Indonesia 140 ton pada 2019, target pada 2020 menjadi 168 ton. Peningkatan itu realistis, sebab kian banyak jumlah eksportir yang mengirim sarang langsung ke Tiongkok. Setidaknya 20 eksportir rutin memasok, jumlah eksportir itu berpotensi akan bertambah seiring banyak pengusaha sarang burung walet yang tertarik memasok sarang langsung ke Tiongkok.

Apakah siklus tahunan berubah seiring memasuki fase normal baru? Menurut Boedi siklus tahunan masih sama. Penurunan permintaan lazim setelah Imlek, kemudian berangsur kembali meningkat bertahap saat pertengahan tahun, puncaknya pada akhir tahun pada September—Desember. (Muhamad Fajar Ramadhan)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img