Tuesday, August 9, 2022

Panen Ganda di Kebun Kopi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Keberadaan penaung pada musim kemarau meningkatkan produksi kopi.(foto : dok. Trubus)

TRUBUS — Tumpang sari kopi berdampak positif secara ekologi dan ekonomi.

Semula kebun kopi di Desa Sumbertangkil, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, Jawa Timur, hanya berupa hamparan tanaman kopi. Sebetulnya banyak kebun kopi polikultur, tapi acak-acakan. Kopi bercampur dengan tanaman lain sehingga berkompetisi menyerap sinar matahari. Ada juga yang menumpangsarikan dengan tanaman yang menjadi inang hama dan penyakit kopi. Meski begitu suasana kebun kopi di Desa Sumbertangkil berbeda sejak 2016.

Kebun kopi monokultur berubah menjadi kebun kopi yang tumpang sari dengan pisang kirana. Salah satu pekebun di Desa Sumbertangkil, Surat Untung, menyelipkan 300 pisang kirana di antara 1.200 pohon kopi di lahan 1 hektare (ha). “Saya mendapatkan untung dobel. Panen kopi setiap tahun sekaligus panen pisang setiap 2 pekan,” kata Surat.

Panen meningkat

Kebun kopi tumpang sari dengan pisang banyak tersebar di lahan yang bersebelahan dengan hutan-hutan milik Perhutani. “Pisang menjadi penaung kopi terutama di saat musim kemarau,” kata Surat. Pekebun seperti Surat juga tersebar di Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Bedanya pekebun di Dampit mengebunkan kopi dan lamtoro di satu lahan. Batang lamtoro menjadi penaung kopi sekaligus penyangga lada dan vanili.

Ponijo dan Priyono contoh pekebun yang mengusahakan tumpang sari model itu. Keduanya memanen 3—3,5 ton green bean per tahun. Bahkan Ponijo juga mengusahakan jahe di lantai kebun kopi sehingga petani memanen beragam produk. Menurut Koordinator penyuluh di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Dampit, Jajang Slamet S., perubahan cara mengebunkan kopi dari monokultur ke polikultur berlangsung sejak 2013.

Koordinator penyuluh di Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Dampit, Jajang Slamet S.(foto : dok. Pribadi)

Praktik tersebut mulai terasa dampaknya pada 2015—2016. “Pada prinsipnya pekebun kopi menerima pengetahuan baru bila hasil panen tidak mengurangi praktik yang dihasilkan selama ini,” kata Jajang. Lazimnya produksi kopi monokultur 2 ton green bean per ha per tahun. Dengan demikian, bila hasil panen kopi tetap, mereka masih bersedia mengadopsi teknik budidaya baru. Pekebun pun mendapatkan tambahan panen dari pisang, vanili, jahe, atau lada. Itu secara teori.

Kenyataannya produksi kopi malah meningkat 3—3,5 ton per ha sehingga pekebun lainnya tertarik mengikuti sistem polikultur. Sistem polikultur terarah memang lebih baik dibandingkan dengan sistem polikultur acak atau monokultur. “Pekebun tidak mengetahui tekniknya sehingga pemerintah turun tangan memberikan arahan,” kata Jajang. Salah satu tekniknya adalah kopi membutuhkan penaung pada kemarau karena cuaca terik. Oleh sebab itulah, pekebun membiarkan tajuk tanaman penaung lebat agar menaungi kopi.

Sebaliknya kopi memerlukan sinar matahari sehingga tidak boleh ternaungi saat musim hujan. Jadi pekebun mesti rutin memangkas tanaman penaung seperti pisang dan lamtoro saat musim hujan pada September—April. Pangkasan tanaman penaung itu dimanfaatkan untuk pakan ternak seperti kambing. Prinsipnya hindari biomassa dari kebun terbuang percuma. Prinsip itu yang menjadi pegangan para pekebun. Sayangnya pakan ternak menjadi terbatas saat kemarau.

Nilam

Di saat kelangkaan pakan itulah solusi lain harus diberikan. “Pekebun harus diajarkan cara memfermentasi kulit kopi sehingga dapat mengatasi kelangkaan pakan,” kata Jajang. Pola tumpang sari yang diintegrasikan dengan ternak merupakan teknik yang cocok untuk mengebunkan kopi secara berkelanjutan. Alasannya memelihara ternak ibarat pekebun memiliki pabrik pupuk sendiri. Kotoran kambing diolah menjadi pupuk organik padat yang dikembalikan ke lahan. Sementara urin kambing juga ditampung sebagai pupuk cair.

Semua saling berputar pada ekosistem kebun. Nun di Kabupaten Solok, Sumatra Barat, Kelompok Tani Bukik Gompong Sejahtera menumpangsarikan kopi dengan tanaman nilam. Mereka menanam kopi pada Januari 2021. Selang 6 bulan, mereka mengembangkan nilam di sela-sela kopi. “Perawatan kopi sudah tertutupi dari hasil panen nilam,” kata Sekretaris Kelompok Tani Bukik Gompong Sejahtera, Ilham Yudha Putra, S.H., M.Kn. Nilam menjadi penting lantaran selama ini lantai kebun kopi ditumbuhi perdu yang menjadi gulma kopi.

Kopi juga bisa disandingkan dengan tanaman lada.

Yudha menyebut nilam samak bapitih yang artinya tanaman semak penghasil uang. Ia membudidayakan 1.300—1.400 kopi dan 6.000 tanaman nilam per ha. Menurut Jajang beragam komoditas bisa menjadi pilihan untuk teknik tumpang sari kopi. Bisa dengan tanaman penaung atau tanaman di lantai kebun. Namun, tanaman lantai kebun—jahe, lada, atau nilam—yang dipanen musiman menguras unsur hara.

Solusinya kembalikan biomassa ke kebun. Jajang mencontohkan, bila dari lantai kebun dipanen 2 ton biomassa per ha, pekebun mesti membenamkan pupuk kandang setara jumlah itu agar kopi tidak tumbuh merana. Prinsipnya tumpang sari dibutuhkan agar semua komponen ekosistem dalam kebun dapat dipetik manfaatnya secara ekologis dan ekonomis. Dengan cara itu daya dukung lingkungan berkelanjutan. Manfaat lainnya menopang kehidupan pekebun karena panen tidak hanya mengandalkan kopi.(Destika Cahyana)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img