Friday, August 12, 2022

Pasar Incar Gula Aren

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Permintaan gula aren membeludak. Peluang pasar terbuka.

Gula aren memiliki indeks glikemik rendah, yakni 35 sehingga lebih aman.
Gula aren memiliki indeks glikemik rendah, yakni 35 sehingga lebih aman.

“Kami kewalahan memenuhi permintaan gula aren,” kata Surya Anggawirya. Manajer pemasaran CV Mandiri, produsen gula aren di Kota Manado, Provinsi Sulawesi Utara, itu melayani permintaan gula aren 100—200 ton per bulan. Sementara kapasitas produksinya hanya 40 ton per bulan. Artinya lebih dari 60% permintaan konsumen belum mampu terpenuhi.

Produsen gula aren di Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, Jo Santosa menghadapi hal serupa. “Permintaan yang masuk mencapai ratusan ton per bulan,” kata Santosa. Padahal, kapasitas produksinya masih rendah, 3 ton per bulan. Yayasan Masarang produsen gula aren di Kota Tomohon, Sulawesi Utara, menerima permintaan gula aren cukup tinggi. Kapasitas produksi 1,5—2 ton per hari belum mencukupi tingginya permintaan pasar.

Pasar mancanegara

Produktivitas nira minimal 10—15 liter per pohon setiap hari.
Produktivitas nira minimal 10—15 liter per pohon setiap hari.

Surya menjelaskan permintaan gula aren itu datang dari dalam dan luar negeri. Ia beberapa kali mengirim gula aren ke Malaysia dan Singapura. Bahkan Yayasan Masarang memfokuskan pasar gula aren untuk mancanegara. “Dari total produksi, 90% ditujukan untuk pasar ekspor dengan tujuan negara-negara Eropa dan Asia serta Australia,” ujar Marthen Poling SP, manajer produksi Yayasan Masarang. Sisanya, 10% untuk memenuhi pasar lokal.

Yayasan Masarang mengolah gula aren dalam bentuk gula semut, gula cetak, dan gula cair. Adapun CV Mandiri dan Jo Santosa mengolah nira menjadi gula batok dan gula semut. Gula batok merujuk kepada cetakan berupa batok atau tempurung kelapa. Sebagian besar permintaan itu datang dari industri makanan dan minuman. Maklum, para produsen makanan itu menggunakan gula aren sebagai pengganti gula tebu dalam pembuatan produk.

Untuk memenuhi kebutuhan bahan baku yang mencapai 10.000—15.000 liter nira setiap hari, Yayasan Masarang bekerja sama dengan lebih dari 600 petani di Tomohon, Sulawesi Utara, dan sekitarnya. CV Mandiri pun demikian, bekerja sama dengan petani mitra untuk memasok nira sebagai bahan baku pembuatan gula aren. Adapun Santoso membina 300 petani aren di Garut, Jawa Barat dengan rata-rata kepemilikan 4—8 pohon aren.

Proses pengolahan nira menjadi gula aren secara tradisional.
Proses pengolahan nira menjadi gula aren secara tradisional.

Pengolahan gula aren dilakukan dalam beragam bentuk, sesuai permintaan. Misalnya saja dalam bentuk gula batok dan gula semut. Perbedaan bentuk olahan itu juga menyebabkan perbedaan harga jual. Gula batok berbentuk balok dengan bobot sekitar satu kilogram harganya Rp16.400 per buah. Harga jual gula semut lebih tinggi, yakni Rp21.800 per kilogram jika permintaan berton-ton.

Harga gula aren di pasaran beragam, mulai Rp15.000—20.000 per kilogram untuk gula batok dan Rp20.000—50.000 per kilogram untuk gula semut. Tingginya harga gula semut dibanding gula batok karena proses pengolahannya relatif lama. Selain itu, “Untuk mengolah gula semut memerlukan bahan baku yang lebih banyak,” kata Santoso. Surya memberikan gambaran, untuk menghasilkan 1 kg gula semut memerlukan 5—7 liter nira.

Lebih sehat
Dengan jumlah bahan baku yang sama menghasilkan 2—2,5 kg gula batok. Menurut peneliti dari Aren Foundation, Ir Dian Kusumanto MSi, kandungan gizi gula aren lebih baik dibanding gula pasir. Itu terlihat dari angka indeks glikemiks (IG). Indeks glikemik merupakan indikator bahan pangan dalam meningkatkan kadar gula darah dalam tubuh.

Semakin tinggi nilai IG semakin mempercepat kenaikan kadar gula darah. Indeks glikemiks gula pasir 90, sedangkan gula aren tak sampai setengahnya, yakni hanya 35. Padahal standar aman indeks glikemiks di bawah 70. Itu artinya, gula aren lebih aman dikonsumsi dibanding dengan gula pasir.

Dibanding dengan bahan pemanis lain, gula aren juga memiliki citarasa yang khas. “Gula aren memiliki aroma yang lebih wangi,” kata Dr Ir Mubiar Purwasasmita, peneliti dari Teknik Kimia Institut Teknologi Bandung. Dian menjelaskan perkembangan aren yang semakin membaik terlihat sejak 2012. Salah satu penyebabnya, pola hidup masyarakat yang membaik dengan menerapkan konsumsi makanan sehat seperti gula aren.

Ir H Dian Kusumanto MSi peneliti dari  Aren Foundation.
Ir H Dian Kusumanto MSi peneliti dari Aren Foundation.

Semakin maraknya aren juga terlihat dengan adanya penanaman 10.000 bibit aren pada April 2016. Lokasi penanaman di Medan, Sumatera Utara. Harap mafhum selama ini aren tumbuh dengan sendirinya di lahan-lahan kosong. Biji yang tua jatuh dan tumbuh menjadi individu baru. Itulah sebabnya jarak tanam aren di berbagai sentra pada umumnya tidak teratur. Masyarakat jarang yang menanam dengan sengaja tanaman serbaguna itu.

Jawa Barat merupakan daerah persebaran aren terluas di Jawa. Razali Yusuf dan rekan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat pada 2012 luas area penanaman aren di Jawa Barat mencapai 13.878 ha. Lokasi penanaman tersebar di Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis.

Tren yang semakin baik itu didukung dengan munculnya varietas aren produksi tinggi dan genjah. Adanya varietas-varietas baru itu menjadi harapan baru bagi petani. Menurut Mubiar Purwasasmita dan Dian aren komoditas yang menjanjikan. Sebuah pohon aren menghasilkan minimal 10—15 liter nira setiap hari.

Harga jual nira yang baru turun dari pohon—tanpa pengolahan apa pun—di tingkat petani mencapai Rp8.000 per liter. Jika petani menjual nira itu mengantongi Rp80.000—Rp120.000 setiap hari. Pohon kerabat kelapa itu terus berproduksi meski hari libur atau Ahad sehingga petani tetap dapat menuai nira. Dalam sebulan petani bisa mengantongi minimal Rp2,4-juta dari satu pohon aren.

Apalagi, “Nira dapat dipanen setiap hari sepanjang tahun,” kata Dian. Jika populasi pohon aren kian banyak, petani berpeluang meraup pendapatan lebih besar. Tidak hanya nira yang bermanfaat. Hampir seluruh bagian tanaman Arenga pinnata itu benilai ekonomi tinggi (baca: halaman 142—143). Selain citarasanya yang manis, bisnis aren pun juga manis. (Desi Sayyidati Rahimah/Peliput: Muhammad Awaluddin & Riefza Vebriansyah)

Previous articleBelajar dari Mang Ihin
Next articleDua Aren Istimewa
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img