Friday, December 9, 2022

Pasar Kopi Organik Ciamik

Rekomendasi

TRUBUS — Potret bisnis kopi organik untuk mengisi pasar ekspor dan domestik. Para pekebun kewalahan melayani permintaan.

Rizkani Ahmad mengelola lahan 2 hektare (ha) berpopulasi masing-masing 1.800 tanaman kopi arabika per ha. Populasi di lahan itu relatif padat, lazimnya 1.600 tanaman per ha. Pekebun di Pondokbaru, Kecamatan Bandar, Kabupaten Benermeriah, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, itu rutin memanen buah kopi merah pada September dan Februari. Sekali panen berlangsung 3—4 bulan karena proses pemasakan buah tidak serentak.

Ketua Koperasi Kopi Wanita Gayo, Rizkani Ahmad, mengelola lahan kopi seluas 2 hektare.(foto :kokawagayo)

Itulah sebabnya saat panen ia hanya memetik buah berkulit merah. Menurut Rizkani volume panen mencapai 5 bambu per tanaman yang kini berumur 10 tahun. Di Benermeriah ukuran satu bambu setara 1,2 kg ceri alias buah kopi berkulit merah. Oleh karena itu, Rizkani memetik total 6 kg per tanaman atau 10.800 kg buah kopi per hektare. Panen terakhir pada 2000 harga Rp75.000 per kg green bean.

Peran perempuan

Harga jual itu lebih tinggi dibandingkan dengan harga kopi lain. Harap mafhum, kopi arabika di lahan Rizkani tumbuh secara organik. Perempuan 47 tahun itu memperoleh sertifikat organik dari Ecocert. Rizkani mengatakan, selisih harga green bean organik dan nonorganik rata-rata Rp9.000—Rp10.000 per kg. Jika petani menjual ceri organik harga pun lebih tinggi, selisih Rp2.000 per bambu. Saat ini harga satu bambu ceri mencapai Rp11.000.

Jika menjual ceri saja, omzet Rizkani mencapai Rp118 juta per hektare per tahun. Ibu tiga anak itu mengatakan, biaya produksi Rp50.000 per tanaman setahun. Ia bukan satu-satunya yang menangguk omzet besar dari perniagaan kopi. Di area berketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut Rizkani mengelola Koperasi Kopi Wanita Gayo (Kokowagayo). Anggota total 409 orang—semuanya perempuan.

Para petani kopi di Gayo mengantongi sertifikat organik. Menurut Rizkani peran perempuan di Benermeriah dalam perniagaan kopi sangat penting. Sejak panen hingga pengemasan, perempuan turut andil. Apalagi sortasi biji kopi yang menuntut ketelatenan pada umumnya dilakukan oleh kaum perempuan.

Pengolahan buah ceri hasil panen anggota, perendaman di bak, hingga menjadi green bean berlangsung di koperasi. Kaum perempuan berperan memisahkan biji bagus dari yang buruk. Mereka membuat pengkelasan atau grading setelah penjemuran biji kopi—kadar air 15%. Kokowagayo mengelompokkan biji kopi menjadi empat kelas, yakni kopi cabutan, pangkal, piksel, dan kopi kelas satu.

Sosok buah kopi arabika hasil budidadya organik di Kabupaten Benermeriah, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.(foto : kokawagayo)

Biji berwarna hitam termasuk kelas piksel merupakan kelas terendah. Harga jual Rp11.000—Rp13.000 per kg. Kelas cabutan jika biji rusak karena gigitan serangga atau proses penggilingan (Rp22.000 per kg). Adapun kelas pangkal menunjukkan 60% bagus, bentuk pipih, dan berukuran kecil (Rp25.000 per kg). Kopi kelas satu harus berwarna kehijauan, biji berwarna hitam atau putih harus dibuang (Rp75.000 per kg).

Pada umumnya hasil panen petani kopi di Benermeriah 80% merupakan kopi kelas satu. Kopi itulah yang mengisi pasar ekspor ke berbagai negara. Setiap bulan koperasi yang berdiri sejak 2014 itu rutin mengekspor kopi organik ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Australia, Kanada, Belanda, Italia, dan beberapa negara di Asia. Koperasi itu rutin mengekspor kopi organik sejak 2015 atau setahun setelah berdiri.

Perdagangan adil

Rizkani yang menjabat sebagai ketua Kokowagayo mengatakan, volume ekspor rata-rata 18 kontainer setara 342 ton per tahun. Satu kontainer setara 19 ton.”Ekspor ke Amerika Serikat mencapai 70% dari total volume,” kata Rizkani. Pangsa pasar Eropa menyerap 20% kopi organik dari Kokowagayo. Menurut Rizkani Kokowagayo melayani pasar ekspor setelah mengikuti ekshibisi di beberapa negara.

Rizkani menuturkan, selain harga jual lebih tinggi, Kokowagayo juga menerima dana perdagangan berkeadilan (fair trade) setidaknya Rp 1 miliar per tahun. Harap mafhum, di mancanegara harga kopi organik lebih mahal untuk menghargai upaya pelestarian lingkungan dan kesehatan (baca boks: Dua Pijakan Organik).

Hampir setiap petani kopi juga peternak kambing. Kokowagayo memanfaatkan dana perdagangan berkeadilan dari konsumen melalui importir untuk membangun sarana kesehatan dan pendidikan anak-anak. “Jadi, ketika ibu-ibu bekerja di ladang kopi tidak perlu khawatir anaknya tidak sekolah,” kata Rizkani.

Dippos Nalo Anro dari PT Mega Inovasi Organik sepakat bahwa pangsa pasar kopi organik menjanjikan. Ia menyebut pasar kopi organik sebagai niche market—ceruk difokuskan pada sekelompok kecil pelanggan yang kurang terlayani oleh perusahaan lain. Jadi, secara kuantitatif serapan pasar mungkin tidak sebesar kopi nonorganik, tetapi harga jual lebih tinggi. Nalo mengatakan, harga jual kopi organik spesialti di pasaran Eropa mencapai 25—27 Euro per kg. Bandingkan dengan harga kopi nonorganik yang hanya 6 Euro.

“Harga 4—5 kali lipat,” ujar Nalo yang mengelola PT Mega Inovasi Organik. Nalo membuat metafora pasar kopi organik ibarat butik di pasar busana. Barang unik, khas, dan berkualitas sehingga harga lebih tinggi daripada harga pakaian di pasar swalayan. Selama ini perusahaan itu memasok beragam komoditas organik ke pasar Eropa dengan mengantongi sertifikat Naturland.

Penjemuran kopi arabika di Koperasi Kopi Wanita Gayo, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Hampir dua tahun terakhir, Nalo membuka pasar kopi organik. “Mengembangkan jejaring pasar kopi organik tidak mudah,” kata Nalo. Oleh karena itu, ia membuka perwakilan di Kota Neuberg, Jerman. Nalo lantas mengirimkan sampel dan pasar Eropa menerima serta minta psokan rutin. Ia membina petani di Tanatoraja, Provinsi Sulawesi Selatan dan Kabupaten Gayo Lues—kedua kopi itu termasuk spesialti dan kekayaan indegenous geography.

Pasar domestik

Mochammad Aleh sebetulnya berhasrat mengisi pasar ekspor. Persyaratan sertifikat organik sudah di tangan. Sayangnya, produksi kopi masih terbatas. Jangankan memasok pasar ekspor, Aleh justru kewalahan melayani tingginya permintaan pasar domestik. Petani di Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, itu mengelola 1 hektare lahan berpopulasi 2.000 tanaman.

Aleh mengatakan, meski organik produktivitas melambung hingga 10 kg per tanaman per tahun. Lazimnya produksi kopi hanya 4—5 kg per tanaman setahun. Itu membuktikan bahwa produktivitas organik juga bisa tinggi. Ia mengelola Koperasi Kopi Margamulya yang mengolah kopi arabika dari para anggota (total 60 petani). Koperasi yang berdiri pada 2014 itu membeli ceri—buah kopi berkulit merah—Rp7.500—Rp8.000 per kg. Harga itu lebih tinggi Rp1.000 dibandingkan harga kopi nonorganik di pasaran.

Pria 50 tahun itu mengatakan, harga beli ceri dari anggota tergantung harga jual green bean. Satu kilogram green bean berasal dari 6 kg ceri. Ketika harga jual green bean Rp65.000 per kg, misalnya, koperasi membeli ceri petani Rp10.800 per kg. “Tinggal dibagi enam,” kata Aleh. Koperasi kemudian mengolah ceri hasil panen para petani itu hingga menjadi green bean.

Koperasi berupaya memasarkan green bean ke berbagai industri seperti kedai, kafe, dan perusahaan besar. Aleh mengatakan, pembeli di Samosir, Sumatera Utara rutin meminta 15 ton per pekan. Sementara itu kemampuan koperasi memasok hanya 5 ton per pekan. Pembeli di Kota Binjai, Sumatera Utara, rutin memerlukan 10 ton setiap pekan. Aleh hanya sanggup memasok 2 ton. Produksi kopi koperasi itu 120 ton green bean per tahun hanya memenuhi 10% permintaan pasar. Itulah sebabnya, Aleh dan rekan terus memperluas lahan kopi organik.

Proses pengolahan kopi arabika organik di Koperasi Margamulya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Beberapa kafe di Bandung, Jakarta, dan Surabaya meminta pasokan kopi dari Koperasi Margamulya. Dua-tiga tahun terakhir terjadi pergeseran kosumen kopi. Bahkan, Vice President The International Federation of Organic Agriculture Movements (IFOAM) Asia, Indro Surono mengatakan, tren minum kopi di kalangan anak muda Indonesia terlihat satu dua dasawarsa terakhir.

Menurut Indro yang mendorong perubahan itu adalah perkembangan internet dan gaya hidup belajar atau bekerja di kafé. Selain itu industri kopi global dan lokal juga banyak mengubah strategi pemsaran dengan menyasar anak muda. Itu mendrong munculnya gerai-gerai kopi yang dikelola dan khusus untuk anak-anak muda. “Bahkan di Cina yang sebelumnya peminum teh, di kalangan anak muda mulai bergeser meminum kopi,” kata alumnus Institut Pertanian Bogor itu.

Pengamat ekonomi industri dari Institut Pertanian Bogor, Dr. Ir, Arief Daryanto, DipAgEc, M.Ec., mengatakan, pemicu peningkatan konsumsi kopi karena peningkatan daya beli konsumen, perubahan preferensi gaya hidup yang lebih menyenangi kopi siap saji, gourmet, dan minuman kopi premium serta kebiasaan atau budaya kongko (hang out) sambil minum kopi.

Adjunct Professor Business School, University of New England Australia, itu mengatakan, makin banyaknya anak muda Indonesia yang menciptakan gaya hidup baru dalam mengonsumsi kopi dan kehadiran media sosial yang mempromosikan kedai kopi juga memicu kenaikan konsumsi kopi. Apalagi kini banyak yang menawarkan ready to drink coffee. “Tempat nyaman, harga terjangkau, dan tempat minum kopi yang instagramable,” kata Arief.

Itulah sebabnya prospek kopi organik sangat ciamik atau baik. “Pasar kopi organik dan produk organik untuk masa mendatang sangat baik seiring dengan kesadaran masyarakat akan kesehatan dan tren yang kian meningkat,” kata A Cai dari PT Mitra Tata Usaha Bersama.

Selain itu kini bermunculan kafe yang membuka pasar kopi. PT Mitra Tata Usaha Bersama di Kota Medan, Sumatera Utara mengusakan kopi organik dengan mengantongi sertifikat Biocert dan Ecosert. Jenisnya arabika, robusta, dan liberika. A Cai mengatakan, luas lahan kopi organik mencapai 50 hektare. Lahan tersebar di Kabupaten Deliserdang, Kabupaten Karo, dan Tapanuli Selatan. (Sardi Duryatmo)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mentan Ingin Produk Hortikultura Segera Tembus Pasar Mancanegara

Trubus.id — Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menginginkan produk hortikultura, seperti buah dan sayur bisa tembus pasar mancanegara. Mengingat,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img