Trubus.id—Kesesuaian kondisi alam menjadikan Kabupaten Parigi Moutong sebagai sentra walet di Provinsi Sulawesi Tengah. Walet menjadi salah satu sumber pendapatan masyarakat di Parimo. Abdul Aten, S.E misalnya menjual semua sarang kepada eksportir untuk tujuan ekspor ke Tiongkok.
Harga jual sarang mangkuk berkisar Rp11,5 juta/kg. Sarang sudut dijual dengan harga Rp8 juta/kg, sedangkan sarang patahan Rp6 juta/kg. Aten menuturkan ada beberapa kriteria sarang walet siap panen yakni bentuk sarang utuh, telur walet sudah dierami, dan telur sudah menetas.
Sarang kualitas terbaik yaitu mempunyai bentuk mangkuk, berwarna putih bersih, dan memiliki tinggi sekitar 5 cm. Dua bentuk sarang lainnya seperti sudut dan patahan memiliki kualitas lebih rendah.
Sarang dengan warna putih kekuningan juga memiliki kualitas lebih rendah dibandingkan dengan sarang putih bersih. Untuk menghasilkan sarang walet berkualitas Aten merawat secara intensif.
Aten memiliki dua bangunan berwarna abu-abu terdiri atas tiga tingkat di Desa Lemusa, Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. Dua rumah walet yang dibangun pada 2018 itu berjarak 8 meter antargedung.
Bangunan milik Aten itu dekat hutan dan jauh dari pemukiman penduduk. “Alasannya karena makin dekat rumah walet dengan sentra pakan walet, peluang memancing walet untuk tinggal semakin besar,” ucap Aten.
Aten rutin merawat rumah walet miliknya dengan melakukan penyemprotan cairan pembasmi hama dan pembersihan rumah walet selepas panen. Ia juga selalu menghidupkan suara inap 1 x 24 jam yang terpasang di dalam dan luar rumah walet untuk memikat koloni walet.
“Waktu panen sarang dilakukan tidak menentu, bisa per pekan atau per bulan tergantung kebutuhan,” ucap pria 58 tahun itu.
