Wednesday, August 10, 2022

Peluang Besar Energi Hijau

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Kebijakan itu gara-gara meningkatnya harga minyak mentah dunia yang kini mendekati US$95 per barel. (1 barel = 159 liter). Tingginya harga minyak mentah karena persediaan bahan bakar fosil semakin menipis. Padahal konsumsi bahan bakar minyak terus meningkat. Di Indonesia pertumbuhan penduduk rata-rata meningkat 1,3% setiap tahun. Kenaikan itu dibarengi meningkatkan penggunaan kendaraan bermotor 6% per tahun.

Bila konsumsi bahan bakar terus melonjak, maka subsidi yang dikeluarkan semakin besar. Pemerintah menetapkan subsidi bahan bakar minyak mencapai 38.591-juta kiloliter (kl) atau 38.591-miliar liter. Rinciannya, premium 23.190-juta kl, minyak tanah 2.315-juta kl, dan solar 13.089-juta kl. Total subsidi yang sekitar Rp80-triliun per tahun. Angka itu sangat memberatkan neraca keuangan negara. Itu sebabnya butuh diversifikasi energi sehingga ketergantungan pada bahan bakar fosil berkurang.

Salah satu pilihan diversifikasi melalui penggunaan energi baru terbarukan (EBT) dari bahan bakar nabati (BBN). Sederhana saja, fosil pasti habis sedangkan bahan bakar nabati terus terbarukan dan tersedia. Manfaat lain, bahan bakar nabati merupakan energi hijau yang bebas emisi. Peraturan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor 32 Tahun 2008 menetapkan penyediaan, pemanfaatan, dan tata niaga bahan bakar nabati sebagai bahan bakar lain.

Untuk mengetahui peluang bahan bakar nabati, menjelang diterapkannya kebijakan pemerintah wartawan Trubus, Lastioro Anmi Tambunan mewawancarai Direktur Jenderal EBT dan Konservasi Energi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dr Ir Luluk Sumiarso, MSc. Berikut petikan wawancara itu.

Bagaimana kondisi pemanfaatan energi saat ini?

Saat ini kebutuhan energi kurang efisien karena dipenuhi dari bahan bakar fosil. Berapa pun harga bahan bakar fosil terus disubsidi. Padahal, bahan fosil semakin menipis dan tidak terbarukan. Untuk itu dibutuhkan suatu paradigma baru yang membuat pemanfaatan energi semakin efisien. Salah satunya dengan memaksimalkan potensi energi baru terbarukan (EBT) seperti bahan bakar nabati (BBN). Bila dahulu energi baru terbarukan hanya memegang peranan sangat kecil, ke depan pemanfaatannya harus dimaksimalkan. Energi fosil dipakai sebagai penyeimbang. Energi fosil yang tidak termanfaatkan saat ini menjadi warisan untuk anak dan cucu.

Bagaimana potensi bahan bakar nabati?

Bahan bakar nabati sangat potensial dikembangkan. Apalagi potensi lahan, kesuburan tanah, dan sinar matahari di Indonesia berlimpah. Namun, sebaiknya sumber bahan bakar nabati berasal dari komoditas pertanian yang tidak bersinggungan dengan pangan. Bila bersinggungan pun, harus menggenjot produksi sehingga pasokan makanan tetap aman.

Seperti apa pemanfaatan bahan bakar nabati sebagai bahan bakar?

Sampai saat ini penggunaan bahan bakar nabati masih menjadi alternatif. Maklum, bahan bakar nabati digunakan sebagai campuran bahan bakar fosil. Pencampuran saat ini masih 95% fosil dan 5% biofuel (baik bioetanol dan biodiesel). Artinya 5% bioetanol dicampur dengan 95% premium atau biasa disebut E5%. Sedangkan 5% biodiesel dan 95% solar disebut B5%.

Mengapa bahan bakar nabati kurang berkembang?

Kendala utama adalah proses blending (pencampuran). Sampai saat ini belum ditemukan formula yang tepat untuk pencampuran bahan fosil dan bahan bakar nabati yang tidak merusak mesin kendaraan. Harga bahan bakar nabati lebih tinggi daripada harga bahan bakar minyak. Salah satu penyebabnya adalah jauhnya jarak transportasi dari tangki blending dengan produksi. Tempat pencampuran pun masih terpusat di Jakarta dan sekitarnya. Untuk itu ke depan perlu perluasan tempat pencampuran seperti di Jawa dan Bali. Untuk mengatasi kesenjangan harga beli bahan bakar nabati, pemerintah memberikan subsidi Rp2.000 per liter. Berdasarkan keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, harga indeks pasar BBN untuk jenis biodiesel didasarkan harga patokan ekspor biodiesel dari minyak sawit (Fatty Acid Methyl Esters) yang ditetapkan Menteri Perdagangan setiap bulan dengan faktor konversi sebesar 870 kg/m3. Sedangkan jenis bioetanol didasarkan harga publikasi Argus untuk etanol FOB Thailand rata-rata pada periode satu bulan sebelumnya, ditambah 5% indeks penyeimbang produksi dalam negeri. Itu dengan faktor konversi sebesar 788 kg/m3.

Mengapa ada saja bahan bakar nabati yang diekspor?

Produksi bioetanol dan biodiesel terus berjalan. Pada 2010 produksi biodiesel mencapai 4,7-juta kiloliter dan bioetanol 281.750 kiloliter. Namun, yang terpakai kecil. Oleh karena itu kelebihan stok membuat produsen bahan bakar nabati membidik pasar ekspor.

Adakah rencana meningkatkan porsi bahan bakar nabati?

Pada Perpres 5/2006 batu bara menduduki porsi 33%, gas bumi 30%, minyak bumi 20%, energi baru terbarukan 17%. Kontribusi energi baru terbarukan dalam bauran energi primer nasional pada 2025 sebesar 17%. Itu dengan komposisi bahan bakar nabati sebesar 5%, panas bumi 5%, biomassa, nuklir, air, surya, dan angin 5%, dan batubara yang dicairkan 2%. Energi baru terbarukan menggulirkan visi 25/25. Artinya pada 2025 kontribusi energi baru terbarukan mencapai 25%. Komposisi fosil, yakni batubara 32%, gas bumi 23%, dan minyak bumi 20%. Bahkan pemerintah menargetkan untuk menurunkan pangsa pasar minyak bumi maksimal 2% pada 2025. Sebaliknya, pangsa pasar bahan bakar nabati minimal menjadi 5% dari energi mix primer.

Bagaimana peran bahan bakar nabati di tengah isu lingkungan yang mengglobal?

Yang utama bahan bakar nabati zero emission. Hal itu berdampak positif untuk mengurangi emisi karbondioksida yang menyebabkan efek rumah kaca dan pemanasan global. Penggunaan bahan bakar nabati seiring dengan komitmen Indonesia pada G-20 Pittsburgh dan COP15 untuk dapat mengurangi emisi gas rumah kaca pada 2020 sebasar 26%. Pengurangan itu berasal dari kehutanan 14%, energi 4%, dan sampah 4%. Bahkan pengurangan dapat mencapai 41% dengan bantuan dari negara maju. ***

 

  1. Pembatasan subsidi premium hanya untuk kendaraan berplat kuning berlaku akhir Maret 2011
  2. Nyamplung potensial sebagai sumber biodiesel
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img